Resensi Buku

Berdamai dengan Luka Masa Kecil Lewat “Inner Child Healing”

Identitas Buku

Judul : Inner Child Healing: Menyembuhkan Luka yang Tertinggal

Penulis : Asmira Pratiwi

Penerbit : Jendela

Tebal : xiv + 185 halaman

Tahun Terbit : 2023

Pendahuluan

Setiap orang membawa serpihan dari masa kecilnya hingga dewasa, baik itu kenangan hangat maupun luka yang tak pernah benar-benar sembuh. “Inner Child Healing: Menyembuhkan Luka yang Tertinggal” , karya Asmira Pratiwi, hadir sebagai panduan ringkas namun padat dan sangat berdaging untuk mengenali, merangkul, dan memulihkan trauma masa kecil yang memengaruhi emosi, hubungan sosial, serta cara berpikir seseorang hingga dewasa. Di tengah maraknya pembahasan kesehatan mental yang kian terbuka, buku ini menawarkan sudut pandang yang menyentuh akar persoalan tentang anak kecil dalam diri kita yang mungkin selama ini terabaikan. Membaca buku ini bisa menjadi awal penyembuhan yang baik dan tidak terabaikan lagi hingga dewasa.

Sinopsis

Dengan 185 halaman, Asmira Pratiwi mengajak pembaca menyelami konsep “inner child”, sisi diri yang terbentuk dari pengalaman masa kecil dan terus memengaruhi pola pikir serta emosi hingga dewasa. Buku ini tidak sekadar menjelaskan teori, tetapi membimbing pembaca melalui proses refleksi untuk mengenali luka lama, memahami akar dari kecemasan atau kelelahan mental yang sering muncul tanpa sebab yang jelas, hingga pengaruh mood yang tidak baik yang kian terbawa hingga dewasa, dengan menemukan cara berdamai dengan masa lalu tersebut.

Pembahasan

Ada beberapa hal yang membuat buku ini menonjol dibanding buku pengembangan diri sejenis:

  1. Dari segi bahasa. Asmira Pratiwi menggunakan gaya penulisan yang jelas dan mudah dipahami oleh berbagai kalangan, mulai dari mahasiswa hingga profesional, sehingga topik psikologi yang sebenarnya cukup kompleks itu bisa dicerna tanpa harus punya latar belakang keilmuan khusus.
  2. Kedalaman materi. Meski tergolong buku yang tipis, isinya sangat kaya dan berdaging, langsung menyasar inti permasalahan psikologis sehari-hari seperti rasa cemas, lelah mental tanpa sebab, dan overthinking hingga mood swing tanpa sebab, persoalan yang akrab dialami banyak orang, namun jarang dibahas hingga ke akarnya.
  3. Pendekatan refleksi diri yang dibangun penulis. Pembaca tidak hanya diajak untuk menyalahkan keadaan atau orang lain, melainkan juga dibimbing untuk menyelami masa lalu secara objektif untuk berdamai dan memenuhi kebutuhan emosi diri yang sempat terabaikan sejak kecil. Pendekatan ini terasa lebih menyembuhkan daripada menghakimi.

Kelebihan dan Kekurangan

Kelebihan:

Buku ini praktis dijadikan pendamping mandiri bagi siapa saja yang merasa lelah dan down secara mental serta emosional dan ingin mencari kedamaian batin. Formatnya yang ringkas membuatnya mudah dibaca di sela kesibukan tanpa kehilangan esensi. Dan banyak contoh kasus keseharian yang membuat semakin nyata dan riil untuk menjadi acuan pandangan. Memiliki sampul yang aesthetic dan sangat cocok dengan isinya. Halaman yang tidak terlalu banyak sangat pas porsinya dengan isi yang berdaging.

Kekurangan:

Karena buku ini ringkas, buku ini lebih berfungsi sebagai pintu pengantar awal untuk refleksi diri. Bagi pembaca dengan trauma yang lebih mendalam atau bersifat klinis, buku ini belum cukup dan tetap memerlukan bantuan profesional lanjutan seperti psikolog atau terapis.

Penutup

“Inner Child Healing: Menyembuhkan Luka yang Tertinggal” adalah buku bacaan yang tepat bagi siapa pun yang ingin memulai perjalanan memahami dan menyembuhkan diri sendiri. Buku ini cocok untuk pembaca umum yang mencari titik awal refleksi, meski bukan pengganti penanganan profesional bagi kasus trauma yang lebih berat. Dengan bahasa yang ramah dan materi yang padat, buku ini layak menjadi salah satu rujukan awal dalam perjalanan “self-healing”.

Ulasan Oleh : Safina

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.