Merasa Selalu Ketinggalan, Riset Ungkap Gen Z Paling Rentan Terjebak “Comparison Trap” di Medsos
Scroll TikTok lima menit, muncul teman SMA yang katanya sudah menikah dan baru beli rumah. Buka Instagram, ada kenalan yang memposting kerja sambil jalan-jalan di luar negeri. Buka LinkedIn, malah lebih parah penuh orang-orang seumuran yang tiba-tiba jadi “Founder & CEO”. Buat sebagian besar Gen Z, momen-momen kecil seperti ini cukup untuk memicu satu pertanyaan yang sama: “Kok hidup gue gini-gini aja, ya?”
Padahal kalau ditelusuri lebih jauh, banyak dari mereka yang merasa “tertinggal” itu sebenarnya sedang baik-baik saja, bahkan berkembang. Dan menurut sejumlah riset terbaru, perasaan ini bukan kebetulan: Gen Z memang generasi yang paling rentan terjebak dalam pola pikir tersebut.
Sebuah studi yang dipublikasikan di Jurnal INSIGHT (2026) terhadap 384 responden pengguna media sosial menemukan perbedaan yang signifikan secara statistik antara Generasi Z dan Generasi Y (milenial) dalam hal kecenderungan membandingkan diri atau social comparison. Hasilnya konsisten bahwa Gen Z mencatat skor social comparison yang lebih tinggi, dan paparan media sosial yang makin intens diyakini turut memperkuat pola ini, khususnya pada pengguna berusia lebih muda.
Temuan ini sejalan dengan riset lain terhadap 100 responden berusia 12–27 tahun, yang mendapati bahwa penggunaan media sosial yang intensif berkaitan langsung dengan naiknya tingkat kecemasan dan stres. Sekitar 31,9 persen variasi kondisi kesehatan mental responden dalam studi tersebut dapat dijelaskan oleh pola penggunaan media sosial mereka.
Gambaran ini kian relevan mengingat penetrasi internet Indonesia sudah mencapai 81,72 persen pada 2026 menurut survei APJII, dengan TikTok sebagai platform yang paling banyak diakses kelompok usia Gen Z. Artinya, paparan terhadap linimasa berisi “pencapaian” orang lain nyaris terjadi setiap hari, tanpa jeda.
Fenomena ini akrab disebut sebagai comparison trap jebakan membandingkan diri yang diperparah oleh media sosial. Bedanya dengan generasi sebelumnya, Gen Z tumbuh besar dengan highlight reel orang lain yang tayang nonstop, hampir 24 jam sehari. Tidak ada jeda untuk sekadar duduk dan menyadari pencapaian sendiri, karena linimasa terus memperlihatkan pencapaian orang lain yang tampak lebih besar, lebih cepat, dan lebih sempurna.
Ironisnya, banyak dari mereka yang merasa paling tertinggal justru sudah mengalami banyak kemajuan nyata seperti sudah lulus kuliah di tengah pandemi yang penuh ketidakpastian, sudah punya penghasilan sendiri meski belum besar, sudah belajar skill baru secara otodidak, atau sudah berani keluar dari circle pertemanan yang toxic. Semua itu adalah progres. Tapi karena tidak semenarik “beli mobil dan rumah sendiri di usia 20”, pencapaian-pencapaian ini sering luput dari pikiran mereka sendiri.
Fenomena ini juga dikaitkan dengan konsep hedonic treadmill dalam psikologi begitu satu target tercapai, standar kebahagiaan otomatis naik, dan target baru muncul untuk dikejar lagi. Gen Z, yang besar di era serba cepat dan serba instan, cenderung mengalami hal ini lebih intens. Baru saja lega karena berhasil dapat kerja pertama, muncul rasa cemas baru: “Kok gaji belum sebesar teman yang lain, ya? Apa ganti kerjaan aja ya?” Baru saja bangga bisa mandiri secara finansial, muncul lagi tekanan baru soal kapan menikah, kapan punya rumah, kapan naik jabatan.
Rasa “belum cukup” ini bukan berarti mereka gagal. Justru sering menjadi tanda bahwa standar mereka terus naik seiring dengan kemajuan yang mereka capai, hanya saja kemajuan itu tidak pernah terasa cukup karena pembandingnya juga ikut bergerak.
Ada satu hal penting yang sering dilupakan, yakni apa yang terlihat di media sosial jarang menampilkan gambaran utuh. Rumah yang dibeli teman bisa jadi hasil warisan atau bantuan orang tua. Kerja di luar negeri belum tentu semulus yang terlihat di caption. Gelar “CEO” atau “Founder” di LinkedIn atau Instagram kadang cuma bisnis sampingan yang belum tentu berjalan.
Membandingkan proses hidup sendiri dengan hasil akhir orang lain yang sudah dikurasi rapi adalah pertandingan yang dari awal sudah timpang. Namun, karena algoritma media sosial memang dirancang untuk menampilkan versi terbaik dari kehidupan orang lain, jebakan ini nyaris mustahil dihindari tanpa kesadaran yang aktif.
Sejumlah pegiat kesehatan mental kini mendorong pendekatan yang lebih sederhana dengan mencatat progres pribadi, bukan progres orang lain. Beberapa anak muda mulai membuat semacam “jurnal pencapaian kecil” mencatat hal-hal yang berhasil dilakukan minggu ini, sekecil apa pun, mulai dari berhasil bangun pagi tanpa menunda-nunda, sampai berhasil menabung meski cuma sedikit.
Cara ini terdengar sederhana, namun cukup efektif untuk mengingatkan diri bahwa kemajuan tidak harus terlihat besar untuk dianggap nyata. Hidup bukan perlombaan dengan garis finis yang sama untuk semua orang, dan waktu setiap orang untuk “sampai” memang berbeda-beda.
Jadi, buat yang masih sering merasa tertinggal, padahal sebenarnya sudah banyak melangkah maju, mungkin ini saatnya berhenti sejenak, menutup aplikasi, dan menoleh ke belakang. Melihat kembali hal-hal yang beberapa tahun lalu hanya berbentuk doa dan sekarang sudah terkabul, hanya saja belum disadari. Bisa jadi, jarak yang sudah ditempuh lebih jauh dari yang dikira.
Sumber: Jurnal INSIGHT: Jurnal Penelitian Psikologi Vol. 4, No. 1 (2026); Jurnal Bimbingan dan Konseling (pubmedia.id); Survei APJII 2026
Penulis : Safina


