Berita Daerah

Temu Karya Teater WOT, Lestarikan Kearifan Lokal Lewat Pentas “Donga Sesaji”

Pekalonganjurnalphona.com Komunitas Teater WOT (Wonokerto Teater) menghadirkan sebuah karya teatrikal melalui pentas sendratari berjudul “Donga Sesaji”. Pentas ini bertempat di Pelataran Blok Apsela, Desa Api-Api, Wonokerto, Kabupaten Pekalongan. Pada Sabtu, (25/10).

Rosulin selaku ketua pelaksana menyampaikan bahwa judul “Donga Sesaji” diambil dari istilah tradisi di Wonokerto yakni Larung Sesaji atau Sadranan yang sering dikaitkan dengan berbagai mitos, dan tentunya juga mengandung nilai filosofi yang logis, serta sebagai simbol rasa syukur kepada Tuhan dan menghargai kehidupan yang ada di lautan.

Rosulin, Ketua Pelaksana

“Donga Sesaji ini berangkat dari tradisi Larung Sesaji yang ada di pesisir, tradisi ini sering dikaitkan dengan mitos, padahal didalamnya itu banyak filosofi nilai yang digunakan nelayan sebagai simbol rasa syukur kepada Tuhan dan bentuk menghargai makhluk yang ada di lautan, entah itu ikannya maupun lautannya itu sendiri, namun yang sering teragkat hanya nilai mistik mitologinya saja,” ujar Rosulin.

Dirinya juga menambahkan bahwa kegiatan ini semoga bisa mendapat apresiasi terutama di era generasi sekarang yang serba modern, sehingga hal-hal berkaitan dengan tradisi itu kurang diapresiasi, padahal hal tersebut menjadi sebuah kekuatan dari kearifan lokal nusantara.

“Semoga bisa diapresiasi terutama di generasi saat ini yang serba modern, yang berkaitan dengan tradisi itu kurang di apresiasi, itu sayang sekali, padahal kan itu kekuatan besar kearifan lokal nusantara,” imbuhnya.

Naysa Taqiyata, salah satu pemeran teater yang berasal dari SDN 01 Bebel Wonokerto mengatakan bahwa dirinya berlatih kurang lebih selama 3-4 minggu untuk mempersiapkan penampilannya dan juga mengakui sempat mengalami kesulitan saat latihan terutama saat menghafalkan teks. Dirinya juga berharap kedepannya teater seperti ini bisa terus lestari.

“Latihan mungkin sekitar 3-4 minggu, kesulitan terutama untuk menghafal teks yang panjang dan berbagai adegan seperti marah, sombong, senang, dan sedih. Serta semoga teater seperti ini bisa terus lebih baik dan lestari kedepannya,” imbuhnya.

Penulis: Afif Kamaludin

Reporter: Muhammad Agus Budi Harto

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.