Artikel Ilmiah Populer,  Opini

Romawi, Rupiah, dan Retorika “Rakyat Tak Pakai Dolar”

Beberapa hari terakhir, nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika anjlok hingga menyentuh angka Rp. 17.600 per dolar pada 16 Mei 2026. Namun, di tengah itu justru muncul sebuah pernyataan yang dilontarkan oleh RI 1 dalam pidato saat peresmian Museum Ibu Marsinah  di Kabupaten Nganjuk, Jawa Timur. Retorika penenangan di tengah badai makroekonomi yang kian nyata. Di hadapan podium, Presiden Prabowo Subianto dengan nada bicaranya yang khas mempertanyakan kekhawatiran publik atas gonjang-ganjing nilai tukar rupiah terhadap dolar AS.

“Orang rakyat di desa nggak pakai dolar kok, ya kan? Pangan aman, energi aman,” ujarnya santai, sembari melempar sindiran kepada pihak-pihak yang dianggap terlalu cepat memprediksi bahwa Indonesia akan collapse atau chaos.

Rasanya mengisolasi guncangan moneter global dengan sekat geografis ini seolah-olah kehidupan masyarakat pedesaan tidak terpengaruh oleh nilai tukar mata uang asing. Hal tersebut bukan hanya cara penyampaian politik yang menghibur, tetapi juga menjadi alarm pengabaian terhadap hal struktural yang berbahaya.

Jika kita membuka kembali lembaran sejarah pada Krisis Abad Ketiga, Kekaisaran Romawi pernah berada dalam posisi psikologis yang sangat mirip dengan narasi “rakyat desa tidak pakai dolar”. Elit Romawi kala itu menenangkan publik dengan dalih bahwa selama perdagangan gandum di tingkat lokal masih berjalan dan petani di provinsi-provinsi terpencil masih menerima koin tersebut, fondasi pemerintahan kekaisaran tetap baik-baik saja.

Namun, ketika nilai mata uang Romawi hancur akibat inflasi yang tak terkendali, biaya logistik kekaisaran meroket. Petani di pedesaan yang awalnya dianggap “aman” justru menjadi korban. Mereka tidak mampu lagi membeli alat pertanian karena harganya melambung tinggi, rantai pasok antarprovinsi terputus, dan negara mulai memeras mereka dengan pajak fisik (berupa hasil bumi) demi mempertahankan ibu kota. Hasilnya? Pedesaan Romawi mengalami krisis. Kelaparan massal dan kelumpuhan ekonomi menjadi pemicu utama runtuhnya kekaisaran dari dalam.

Pernyataan bahwa masyarakat pedesaan aman karena “tidak bertransaksi dengan dolar” adalah sebuah angan-angan. Benar, warga desa tidak menggunakan lembaran uang hijau dari Amerika untuk membeli kebutuhan pokok di toko sembako. Namun, hampir seluruh komoditas yang menghidupi mereka hari ini terikat erat pada rantai pasok global yang dikendalikan oleh dolar.

Ketika biaya-biaya di hulu ini membengkak, harga pangan di pasar desa akan ikut meroket. Orang desa memang tidak memegang dolar, tetapi dompet mereka akan terpengaruh oleh inflasi yang dipicu oleh dolar.

Dapat dipahami bahwa salah satu tugas kepala negara di masa krisis adalah menjaga stabilitas psikologis masyarakat agar tidak terjadi kepanikan massal. Menuding bahwa kritik terhadap ekonomi adalah bentuk kepanikan yang tidak beralasan mungkin efektif sebagai strategi komunikasi politik jangka pendek.

Namun, sejarah Romawi telah memberi pelajaran bahwa krisis ekonomi tidak bisa diselesaikan hanya dengan menjaga narasi di atas kertas atau di podium. Romawi runtuh bukan karena mereka kekurangan pidato optimis dari para kaisarnya, melainkan karena para elitenya gagal melihat bahwa retak kecil di pusat keuangan akan meruntuhkan seluruh tiang penyangga di daerah pedalaman.

Referensi :

Pratama, A. M. (2026, 17 Mei). Rakyat desa memang tak pakai dollar AS, tapi… Kompas.com. https://money.kompas.com/read/2026/05/17/064500926/rakyat-desa-memang-tak-pakai-dollar-as-tapi-?page=all

Kompas.id. (2026). Kelakar dolar AS Prabowo: Dari desa “nglawak”. Kompas.id. https://www.kompas.id/artikel/kelakar-dolar-as-prabowo-dari-desa-nglawak

Visual Capitalist. (n.d.). Currency and the collapse of the Roman Empire. Visual Capitalist. https://money.visualcapitalist.com/currency-and-the-collapse-of-the-roman-empire/

Penulis : Afif Kamaludin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.