Ruang Aman yang Semu : Mengungkap Maraknya Pelecehan Seksual pada Perempuan
Pernahkah kita merasa was-was saat berjalan sendirian atau merasa tidak nyaman dengan tatapan seseorang yang menatap kita dengan aneh? Perasaan yang kita rasakan bisa menjadi alarm buat kita untuk lebih waspada terhadap orang lain.
Pelecehan seksual bisa terjadi kepada siapa pun tanpa terkecuali. Korban pelecehan seksual dapat dialami oleh laki-laki maupun perempuan. Korban yang sering disalahkan karena berpakaian terbuka dan “mengundang” di lingkungan sekitar serta di media sosial sering kali ditemukan dalam komentar.
“mungkin pakaiannya terbuka”
“Emang kamunya yang salah”
“Makanya pakaiannya tertutup biar engga di lecehin”
Dalam data yang masuk ke Komnas Perempuan pada tahun 2025, terdapat 3.682 kasus yang sering diterima. Bentuk kekerasan yang paling banyak dilaporkan adalah kekerasan seksual sebesar 37,51%, kekerasan psikis 32,48%, kekerasan fisik 18,93%, dan kekerasan ekonomi 11,07%. Mayoritas korban berada pada kelompok usia 18-24 tahun dan 25-40 tahun.
Bahkan ruang aman bagi perempuan ternyata tidak dapat menjamin tidak terjadinya kasus pelecehan. Pelecehan bisa didapatkan di mana saja di ruang publik seperti di jalan, pasar, mall, dalam kendaraan umum, di sekolah atau universitas dan tempat kerja. Tidak hanya itu, dalam pemberitaan dari media, pelecehan bisa terjadi di tempat ibadah yang seharusnya menjadi tempat suci bagi setiap orang. Namun, realita yang terjadi adalah pelaku bisa bertindak di mana saja.
Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2022 membahas mengenai pencegahan segala bentuk tindak pidana kekerasan seksual, penanganan, pelindungan, dan pemulihan hak korban. Selain itu, diatur juga keterlibatan masyarakat dalam pencegahan dan pemulihan korban agar dapat mewujudkan kondisi lingkungan yang bebas dari kekerasan seksual.
Namun, kesenjangan antara undang-undang yang ada dengan praktik hukum yang terjadi membuat para korban yang melaporkan pelecehan bisa mengalami hambatan dalam keadilan sehingga akhirnya mereka enggan bersuara.
Korban bisa mengalami trauma hebat dengan rasa cemas, menurunnya percaya diri, menyalahkan dirinya sendiri hingga depresi yang sangat mengganggu aktivitas sehari-harinya.
Mari berhenti menyalahkan korban dan mulailah merangkul korban agar bisa bangkit dalam kehidupannya. Jangan tunggu sampai orang terdekat kita yang mengalaminya baru kita peduli. Semangat para perempuan hebat diluar sana.
Oleh : Putri Amanda


