Suara Mahasiswa Menggema, Dari Isu Nasional Hingga Lokal yang Belum Terselesaikan
Pekalongan-jurnalphona.com Ratusan massa yang tergabung dalam AMPERA (Aliansi Mahasiswa Pekalongan Raya) menggelar aksi demonstrasi di depan Kantor Sementara DPRD Kota Pekalongan. Aksi unjuk rasa tersebut berjalan tertib dengan pengawalan ketat dari aparat gabungan dari Tentara, Kepolisian, dan Satpol PP setempat. Massa membawa 11 tuntutan nasional dan 6 tuntutan lokal daerah di wilayah Kota Pekalongan, Jumat (19/6).
Koordinator Lapangan (Korlap) aksi, M. Syakif Arsilan, dalam wawancara di sela aksi menegaskan bahwa demonstrasi ini merupakan bentuk luapan aspirasi masyarakat dan keresahan terhadap kebijakan nasional maupun lokal.

“Kami datang ke sini membawa tuntutan nasional mulai dari pemborosan APBN, MBG (Makan Bergizi Gratis) dan Koperasi Desa serta program lain yang dianggap dapat merugikan ekonomi secara nasional. Kami juga membawa tuntutan lokal seperti dampak ekologis pembangunan PSEL (Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik) bagi masyarakat sekitar, limbah batik, banjir, dan sebagainya,” ujarnya.
Menanggapi tuntutan tersebut, Wali Kota Pekalongan, H. Achmad Afzan Arslan Djunaid, S.E., M.M., yang hadir menemui massa, menyatakan apresiasinya terhadap jalannya aksi yang berlangsung kondusif. Pihak pemerintah menyatakan akan menyampaikan tuntutan nasional ke tingkat pusat, sedangkan tuntutan lokal, jika membutuhkan informasi lebih dalam, dapat menghubungi langsung dinas terkait.

“Kami menyambut baik aspirasi yang kondusif dari adek-adek semua. Ini adalah fungsi kontrol yang bagus bagi jalannya pemerintahan. Tentang isu nasional nanti akan kita kirimkan surat ke pemerintah pusat, berkaitan dengan tuntutan lokal sudah kita jelaskan bahwa jika butuh informasi lebih konkret nantinya bisa langsung menghubungi dinas terkait,” ungkapnya.
Di sisi lain, Ahnaf, salah satu peserta aksi dari GMNI (Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia) yang mengikuti aksi tersebut, berharap tuntutan yang disampaikan dapat terealisasikan dengan transparansi kepada publik. Menurutnya, jika tuntutan tersebut terkhusus pada tuntutan lokal, tidak bisa terealisasi. Nantinya bakal ada aksi untuk menekan kembali agar tuntutan tersebut segera terealisasi.

“Kami akan terus mengawal tuntutan terutama lokal yang harus lebih ditekankan transparansinya, jika tidak dapat terealisasi pastinya bakal ada aksi-aksi terkait tuntutan yang terabaikan ,” tuturnya.
Peserta aksi demonstrasi akhirnya membubarkan diri secara teratur saat azan maghrib berkumandang, setelah perwakilan massa menandatangani nota kesepahaman dengan pihak DPRD dan Pemerintah Kota Pekalongan. Aliansi Mahasiswa Pekalongan Raya berharap agar sinergi antara pemerintah daerah dan elemen masyarakat sipil di Kota Pekalongan dapat terus terjaga dengan baik demi kemajuan pembangunan dan pemeliharaan nilai-nilai demokrasi di kota ini.
Reporter : M. Agus Budi Harto
Penulis : Afif Kamaludin


