Opini

Padam di Rumah Kita, Terang di Balik Dinding Mereka

Belakangan ini, linimasa media sosial kita dipenuhi oleh banyak keluhan masyarakat yang mengalami pemadaman listrik atau yang biasa disebut byar pet, mulai dari masyarakat Sumatra yang mengaku rumahnya gelap gulita berhari-hari, sampai warga Jawa yang harus terbiasa dengan pemadaman bergilir yang datangnya tidak bisa ditebak. Kita mungkin sempat menganggap semua ini sebagai gangguan teknis biasa, sesuatu yang wajar terjadi pada sistem kelistrikan sebesar negara ini. Namun, ternyata di balik gelapnya rumah-rumah tersebut, ada sebuah persoalan yang jauh lebih rumit dari yang terlihat di permukaan, sebuah persoalan yang kini tengah diusut oleh aparat penegak hukum.

Berdasarkan penyelidikan yang kini resmi ditingkatkan ke tahap penyidikan, terungkap dugaan permainan dalam pengadaan pasokan batu bara untuk pembangkit listrik yang telah berlangsung bertahun-tahun. Data kualitas dan jumlah batu bara yang dikirim diduga dipalsukan, dengan sejumlah perusahaan pemasok kini menjadi sorotan utama para penyidik. Akibatnya, pasokan yang seharusnya menopang pembangkit dalam waktu lama justru cepat habis, dan kekurangan inilah yang diduga memicu byar pet di berbagai daerah, dengan kerugian negara diperkirakan mencapai triliunan rupiah.

Yang membuat publik geram, penyidik sempat menggeledah sebuah kafe mewah di kawasan elit Jakarta Selatan yang juga berkaitan dengan sejumlah perkara besar lain, dan ditemukan uang tunai puluhan miliar rupiah tersimpan rapi di dalam brankas serta beberapa ruangan tersembunyi. Dari sinilah muncul sebuah pertanyaan, “Mengapa rakyat harus hidup dalam gelap, sementara kekayaan justru tersimpan di ruang-ruang tersembunyi?”

Dampak byar pet ini dirasakan banyak lapisan masyarakat sekaligus. Di rumah tangga, arus listrik yang mati-hidup mendadak merusak kulkas hingga AC, sementara pompa air yang ikut mati membuat warga kesulitan memperoleh air bersih. Usaha rumahan seperti laundry dan warung makan pun terpaksa berhenti beroperasi, bahkan tidak sedikit peternak ikan hias yang merugi puluhan juta rupiah karena aerator kolamnya ikut mati. Sektor industri pun terkena imbasnya seperti sektor pabrik yang harus mengeluarkan biaya tambahan untuk genset dan lembur pekerja, sementara mesin produksi yang mendadak berhenti berisiko rusak.

Peristiwa ini juga memunculkan kembali diskusi mengenai pemerataan pembangunan dan distribusi infrastruktur energi di berbagai daerah. Sumatra merupakan salah satu penghasil sumber daya energi terbesar bagi negara, namun ironisnya warganya justru paling parah merasakan dampak byar pet. Wajar apabila banyak pihak mempertanyakan mengapa daerah penyumbang besar pendapatan negara justru tidak mendapat jaminan pasokan listrik yang stabil, sementara sorotan publik dan anggaran selalu habis tertuju pada proyek-proyek raksasa di pusat pemerintahan.

Akar masalahnya bukan hanya oknum nakal, melainkan sistem kelistrikan yang terlalu bergantung pada satu sumber energi saja. Kebutuhan batu bara domestik kini telah mencapai sekitar 220 juta ton, dan selisih harganya dengan pasar dunia yang makin lebar justru membuka celah permainan pasokan. Di sinilah energi matahari lewat PLTS (Pembangkit Listrik Tenaga Surya) mulai relevan menjadi solusi jangka panjang. Pemerintah bahkan menargetkan pembangunan mega proyek ini hingga 100 gigawatt dalam tiga tahun ke depan. Dorongan untuk memasang PLTS atap di rumah, kampus, hingga fasilitas umum pun kian masif agar masyarakat tidak sepenuhnya bergantung pada sistem listrik pusat yang rapuh.

Sebagai warga negara yang baik, kita punya peran untuk tidak hanya menjadi penonton atas persoalan ini. Ikut mengawal jalannya proses hukum, menyuarakan keresahan lewat tulisan atau diskusi, sampai mendesak transparansi tata kelola energi negara, itu merupakan bagian dari kontrol sosial. Listrik seharusnya menjadi hak dasar yang menyala untuk semua orang, bukan komoditas yang gelapnya malah dipakai untuk menerangi jalan segelintir pihak memperkaya diri. Selama korupsi seperti ini dibiarkan, jangan heran jika pemadaman listrik akan terus menjadi bagian dari hidup kita, sementara pelakunya tetap hidup terang benderang dari hasil kejahatan mereka.

Oleh : Sasta Rosdiana Safitri

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.