Ancaman
Sedari sore aku hanya terpaku diam Riuh kian datang dan tak kunjung padam Agaknya aku terus berfikir Bagaimana caraku agar semua ini meredam
Bukankah, sempurna bukan menjadi jalan satu-satunya? Namun, manusia mana yang tidak ingin sempurna? Hingga semua ancaman-ancaman inilah yang membuatku semakin tidak berdaya
Penjuru kiri berteriak lantang Penjuru kanan menghardik riang Ragu, takut, sedih menjadi satu Pada akhirnya hanya berdiam diri dan menggerutu
Penulis: Nabilla Rahayuningtyas


