Puisi

Ancaman

Sedari sore aku hanya terpaku diam Riuh kian datang dan tak kunjung padam Agaknya aku terus berfikir Bagaimana caraku agar semua ini meredam

Bukankah, sempurna bukan menjadi jalan satu-satunya? Namun, manusia mana yang tidak ingin sempurna? Hingga semua ancaman-ancaman inilah yang membuatku semakin tidak berdaya

Penjuru kiri berteriak lantang Penjuru kanan menghardik riang Ragu, takut, sedih menjadi satu Pada akhirnya hanya berdiam diri dan menggerutu

Penulis: Nabilla Rahayuningtyas

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.