Pintu Yang Tidak Menunggu
Rumah yang masih berbau cat baru..
Kardus-kardus yang belum semuanya dibuka, tapi Ibu sudah duduk di atas kursi kesayangannya untuk beristirahat sebentar. Di sekelilingnya, enam anak ibu berseliweran, si sulung merapikan rak buku sembari merapikan rambut panjangnya, yang bungsu main petak umpet di balik tumpukan baju yang mereka punya. Rumah itu riuh, tetapi ada sesuatu yang terasa menggantung di udara, seperti pertanyaan yang belum sempat diucapkan.
“Kak Ardi” panggil ibu suatu malam, ketika anak-anak sudah hampir tertidur dan hanya lampu ruang tengah yang menyala. “Tugas yang pernah Ibu sampaikan dulu sudah sampai mana?”
Ardi menoleh dari ponselnya. Ia tersenyum, senyum yang sudah ibu hafal sejak dulu. Senyum yang seakan menjanjikan.
“Masih direncanakan, Bu. Nanti aku ajak adik-adik juga”
“Ya sudah,” ibu mengangguk. Tidak banyak yang ia katakan. Ibu kembali ke tempat tidurnya dengan jendela yang belum dipasangi gorden, hanya ditutupi dengan lembaran kertas kosong.
Hari-hari berlalu….
Ardi memang mengajak adik-adiknya untuk melakukan rapat kecil-kecilan di meja makan. Ada catatan dan ada juga semangat yang terasa seperti api kecil di tengah ruangan. Tapi api itu tidak pernah benar-benar menyala besar. Satu per satu, kesibukan datang. Ada ujian, ada kerjaan lembur, janji-janji yang tidak bisa dibatalkan. Dan pada suatu malam yang tidak terasa istimewa sama sekali, Ardi duduk berhadapan dengan ibu di meja makan dan berkata dengan suara yang lebih rendah dari biasanya.
“Sepertinya kita batalkan saja, Bu. Kami khawatir kalau tugas itu jalan akan mengganggu hal-hal lain. Beberapa hari ini banyak sekali tugas-tugas yang terus-menerus berdatangan dan rencana-rencana yang sudah kami susun. Jadi maaf ya, Bu.”
Ibu tidak langsung menjawab; ia melirik ke arah jendela dengan suasana yang entah kenapa malam itu terasa lebih gelap dari biasanya.
“Baik” katanya akhirnya. Hanya itu. Satu kata.
Beberapa minggu kemudian, seorang anak muda berdiri di depan pintu rumah itu.
Namanya Banu. Ia anak dari tetangga rumah sebelah yang pindah tidak lama setelah Ibu dan anak-anaknya menempati rumah baru ini. Ibu memanggilnya bukan karena kebetulan, melainkan karena ibu memang sudah lama mengamati cara Banu memperlakukan orang-orang di sekitarnya dan cara Banu menyelesaikan tugas-tugas yang diberikan oleh ayahnya.
“Banu,” kata Ibu, setelah mempersilakan Banu duduk dan sembari menyajikan teh yang masih mengepul. “Ada tugas yang ingin ibu percayakan padamu, Banu.” Kata ibu setelah menyajikan teh.
Banu mengerutkan dahinya, “Saya, Bu?”
“Ya. Kamu” balas ibu.
“Bisa tolong jelaskan tugasnya, Bu?” tanya Banu.
Setelah itu, Ibu menjelaskan tugas yang ingin ia percayakan kepada Banu dan menceritakan kenapa tugas ini Ibu percayakan kepada Banu.
Sesaat, Banu hanya memandang secangkir tehnya. Kehangatan itu menjalar ke telapak tangannya, tapi pikiran sedang ramai.
“Boleh saya lapor ke Ayah dan adik-adik saya, Bu?” tanya Banu kembali.
“Tentu saja.” Balas Ibu dengan tersenyum. Bukan senyum yang mempertanyakan, justru senyum yang seperti menemukan sesuatu yang sudah lama dicarinya.
Banu pamit pulang untuk meminta persetujuan dari Ayah dan adik-adiknya.
Malam harinya, Banu mengumpulkan Ayah dan adik-adiknya di ruang tengah. Banu menceritakan dan meminta persetujuan Ayah dan adik-adiknya. Ayah Banu mendengarkan dengan seksama. Adik-adiknya duduk melingkar di lantai, sesekali bertanya, sesekali diam. Dan setelah semua pertanyaan terjawab, Banu malam itu tidak langsung tidur. Ia duduk di teras, menatap langit yang cerah, dan berpikir panjang.
(Kalau aku hanya berjalan dengan adik-adikku sendiri, bagaimana perasaan anak-anak Ibu itu?)
Pikirannya berputar. Bukan karena takut, melainkan karena ia tahu penanggung jawab yang baik seharusnya tidak meninggalkan siapa pun merasa tersisih.
Maka ia susun semuanya dari awal, mulai dari menyusun jadwal, pembagian peran, hingga hal-hal kecil yang sering terlupakan. Ia menulis di buku catatan kecil berwarna hijau tua yang sudah setengah terisi coretan-coretan lamanya. Dan setelah semuanya terasa cukup, ia datang ke rumah Ardi.
“Kak Ardi,” katanya. “Maukah kakak dan adik-adik kakak ikut bersama kami menyelesaikan tugas yang diberikan Ibu?”
Ardi menatapnya sebentar. Ada sesuatu di matanya… entah kagum, entah malu, entah keduanya. “Boleh aku pikiran dulu?”
“Tentu, Kak. Tidak perlu terburu-buru.” Balas Ardi.
Tapi jawaban itu tidak pernah datang seperti yang diharapkan.
Beberapa hari kemudian, Ardi menghubungi Banu lewat pesan singkat. Kalimatnya sopan, bahkan terlalu sopan, dan di balik kesopanan itu, Banu bisa merasakan sesuatu yang sudah pernah ia dengar sebelumnya, dari cerita Ibu mengenai dirinya.
“Maaf, Banu. Kami sepertinya tidak bisa ikut. Ada banyak hal yang sudah kami rencanakan bersama, dan kami khawatir ini akan mengganggu.” Alasan yang sama, dengan alasan yang diberikan kepada ibunya dulu.
Banu membaca pesan itu dua kali. Lalu ia meletakkan ponselnya, berdiri, dan berjalan ke dapur untuk menuang segelas air.
Ia tidak marah. Tidak juga kecewa yang berlarut-larut. Hanya ada perasaan seperti ketika kamu sudah menduga sebuah belokan di jalan, dan belokan itu memang ada… persis seperti yang kamu bayangkan.
“Ibu pernah bercerita,” pikirnya.
“Sekarang aku mengerti maksudnya”
Tugas itu berjalan
Tanpa keributan, tanpa pengumuman besar. Banu dan adik-adiknya mulai dengan tenang, seperti orang yang sudah terbiasa mengerjakan sesuatu bukan untuk dilihat, tapi karena memang perlu dikerjakan. Kadang terasa berat. Kadang ada yang tidak sesuai dengan rencana. Tapi setiap kali Banu membuka buku catatan hijau tuanya, ia menemukan bahwa semua itu sudah pernah ia bayangkan dan ia sudah menyiapkan langkahnya.
Ibu, dari jendela rumahnya, sesekali melihat. Tidak banyak yang ia katakan kepada Ardi dan adik-adiknya tentang hal ini. Tapi suatu sore, ketika Ardi sedang merapikan teras dan melihat Banu melintas dengan langkah yang pasti, ia bertanya kepada ibunya.
“Bu, apakah Banu sudah menjalankan tugas itu?”
Ibu menoleh sebentar, lalu kembali ke rajutannya.
“Sudah.”
Ardi terdiam. Di tangannya, sapu ijuk berhenti bergerak.
Tidak ada yang benar-benar tahu kapan kesiapan itu tumbuh dalam diri seseorang. Ia tidak datang bersama usia, tidak juga bersama rencana yang paling rapi. Ia tumbuh pelan-pelan, di tempat-tempat kecil yang tidak selalu terlihat dalam cara seseorang mendengar dan melihat, dalam cara ia berpikir tentang orang lain sebelum dirinya sendiri, dalam keberaniannya untuk melangkah ketika yang lain masih menimbang-nimbang.
Penulis : M. Agus Budi Harto


