Cerpen

Miyoki

Oleh: Mustofa Ali Jinan

Suatu hari, di sebuah desa terpencil yang dipenuhi rintihan tangis penduduknya. Lahirlah seorang anak dari bangsawan di daerah itu, anak perempuan yang diberi nama Miyoki. Namun, nasib buruk telah menimpanya sejak awal terlahir ke dunia. Miyoki lahir tanpa bagian tubuh apapun selain otak yang rapuh dan setipis daging yang menutupi otak tersebut. Ini adalah kutukan takdir yang melekat padanya.

Karena kutukan itu miyoki dibuang oleh kedua orang tuanya, mereka meninggalkan Miyoki di hutan gelap, dengan harapan bahwa Miyoki akan mati segera setelah ditinggalkan sendiri di dalam hutan tersebut. Namun, takdir berkata lain. Seorang petapa tua yang sedang berkelana menemukan Miyoki dengan keajaiban yang ada padanya.

“Ada apa dengan dunia ini, membuang malaikat kecil sendiri di hutan,” ucap petapa itu.

Dengan penuh rasa belas kasihan, petapa itu membuatkan tubuh palsu dari kayu untuk Miyoki yang memungkinkannya untuk bergerak secara leluasa.

Miyoki, dengan tubuh palsunya itu diajari oleh petapa tua untuk bisa bertahan hidup, dengan kesabaran dari petapa itu akhirnya Miyoki bisa mengerti bagaimana cara untuk melanjutkan petualang mengungkap semua pertanyaan hidupnya, lalu Miyok beranjak pergi dari satu tempat ke tempat lainnya, mencari jawaban atas kutukan yang menyelimuti dirinya.  “Aku akan mencari apa sebenarnya yang terjadi di diri ini,” ucapnya sebelum memulai petualangan. Dalam perjalanannya, ia bertemu dengan berbagai macam orang.

Ketika Miyoki sedang berada di hutan belantara, ia bertemu seorang wanita yang sendirian. Lalu Miyoki bertanya kepadanya, “Hei kamu … ada apa kok sendirian di dalam hutan yang berbahaya ini?”

“Tolong aku … aku dikejar oleh perampok ketika sedang bersama rombngan pedagang, kenalkan namaku Rubi,” ucap wanita itu.

Setelah pertemuan itu, Rubi menjadi sahabat terdekat Miyoki dan selalu mendukungnya dalam setiap langkah perjalanan mereka. “Kita akan menemukan jawabannya, Miyoki. Kau bukanlah kutukan, kau adalah sahabat yang berharga bagiku,” kata Rubi dengan penuh keyakinan.

Mereka juga bertemu dengan Diko, seorang anak yatim piatu yang penuh dendam terhadap iblis-iblis yang telah membunuh kedua orang tuanya. Diko ingin membalaskan dendamnya, tetapi ia merasa tidak berdaya dengan kekuatannya sekarang. Miyoki memberikan harapan dan dukungan kepada Diko, membantu menguatkan tekadnya untuk melawan kejahatan.

“Kita akan melawan iblis-iblis itu bersama-sama, Diko. Kita pasti bisa menghilangkan kegelapan didunia ini,” kata Miyoki sambil berjalan bersama Diko dan Rubi.

Perjalanan Miyoki penuh dengan rintangan dan bahaya, ia sering kali dihadapkan pada iblis-iblis kuat yang berusaha membunuhnya. Namun, dengan kekuatan semangat dan keberanian, Miyoki dan teman-temannya selalu menemukan cara untuk bertahan dan menyerang balik.

Namun ketika saat petualangan mereka sudah mulai jauh, Miyoki menemukan sebuah rahasia yang menghancurkan hatinya. ia menemukan bahwa jika kutukan itu dihilangkan dan tubuhnya kembali normal, maka akan ada konsekuensi yang mengerikan harus diterima oleh penduduk desa kelahiran Miyoki. Banyak orang akan menderita dan bahkan mati kelaparan karena terjadinya wabah yang tidak diketahui.

Dalam keputusasaan dan kebingungan, Miyoki menangis dan merenungkan betapa sulitnya pilihan yang harus dihadapinya. Di satu sisi, ia juga ingin hidup normal seperti manusia lainnya, bebas dari kutukan yang mengikatnya dalam belenggu tubuh kayu tersebut. Namun, di sisi lain ia tidak ingin menjadi penyebab penderitaan bagi orang-orang yang tidak berdosa.

Malam itu, Miyoki duduk sendirian di bawah pohon. Angin malam berdesir lembut, membelai tubuh kayunya yang kaku. Rubi dan Diko duduk di sampingnya, menatapnya penuh kekhawatiran.

“Miyoki, kamu harus mengambil keputusan. Tapi, kami akan mendukungmu apa pun yang kamu pilih,” kata Rubi menyemangati Miyoki.

Miyoki menatap kedua sahabatnya dengan mata yang penuh dengan beban dan duka.

“Aku tidak tahu apa yang harus kulakukan. Aku ingin hidup normal , tapi jika aku melakukannya, banyak orang yang akan menderita,” ucap Miyoki dengan penuh emosi.

Diko menyentuh lengan Miyoki dengan penuh empati. “Miyoki, kamu bukanlah kutukan. Kamu memiliki hati yang bisa merubah kegelapan di dunia ini. Jika kamu memilih untuk menyelamatkan banyak nyawa, itu adalah tindakan mulia,” kata Diko meyakinkan.

“Jangan biarkan dirimu terjebak dalam beban kesalahan orang lain, Miyoki. Kamu memiliki kekuatan untuk mengubah takdirmu sendiri,” ucap Rubi.

Miyoki menarik napas dalam-dalam, mencoba merangkul kenyataan yang pahit. Dalam hatinya, ada keputusan yang mulai mengemuka. Miyoki tahu bahwa ia harus memutuskan apa yang terbaik untuk banyak orang, bahkan jika itu berarti mengorbankan keinginannya sendiri.

Keesokannya, Miyoki pergi menemui ayahnya. Betapa terkejutnya Miyoki, ayahnya yang berwujud iblis, terkubur dalam kegelapan. Dengan hati yang berat, Miyoki menghadapi ayahnya.

“Ayah, mengapa semua jadi seperti ini,” ucap Miyoki dengan suara yang terdengar penuh amarah dan kesedihan.

“Siapa sebenarnya aku ini, kenapa Ayah berubah menjadi iblis ,” ucapnya.

Ayah Miyoki yang sedang tidak sadarkan diri karena sudah berubah menjadi iblis mengatakan suatu hal yang menambah buruk lagi suasana. ”Kamu lahir, kedua orang tuamu yang terjerat oleh nafsu kekuasaan dan kekayaan, memilih untuk mengorbankanmu kepada iblis demi kehidupan masyarakat desa yang lebih baik. Mereka membutuhkan seorang tumbal untuk ritual iblis yang kejam itu. Yah … itu adalah kamu Miyoki.”

Amarah yang semakin menjadi-jadi membuat nafsu membunuh Miyoki tidak bisa dikendalikan lagi. Setelah pertarungan panjang dengan ayahnya akhirnya Miyoki memenggal kepala ayahnya yang berubah menjadi iblis itu dengan penuh amarah dan rintihan air mata kesedihan.

“Maafkan aku Ayah ,” ucap Miyoki.

Ayahnya, yang mulai sadar terlihat terkejut oleh keadaan Miyoki, ayahnya merasa menyesal.

“Anakku, aku tidak tahu apa yang aku lakukan. Aku terjebak dalam ambisi dan ketakutan. Aku minta maaf, Miyoki,” kata ayahnya dengan suara serak.

Miyoki melihat ayahnya dengan mata penuh kesedihan. Miyoi meraih tangan ayahnya dan mengucapkan suatu kata, “Aku memaafkanmu, Ayah mungkin inilah takdir yang harus aku jalani.”

Miyoki melihat ayahnya perlahan meregang nyawa. Miyoki meraih tangan ayahnya dan mengucapkan kata-kata terakhir, “Aku memaafkanmu, Ayah beristirahatlah ucapkan salam sayangku pada ibu disana, aku akan menghadapi takdirku yang sudah menanti didepan.”

Dalam keputusasaan yang mendalam, Miyoki kembali ke Rubi dan Diko, mengungkapkan keputusannya. Mereka saling berpelukan, merangkul satu sama lain dalam persahabatan. Bersama-sama, mereka menghadapi iblis-iblis yang membuat kesedihan didunia ini.

Miyoki telah menjalani perjalanan yang panjang dan penuh liku-liku. Ia telah menghadapi berbagai cobaan yang tak terhitung jumlahnya. Meskipun telah bertemu dengan banyak orang baik dan berjuang dengan segenap kekuatannya, Miyoki belum juga menemukan jawaban tentang kutukan ini.

Saat ia hampir menyerah, Miyoki dan sahabatnya bertemu dengan seorang petapa tua. Petapa itu mengenali kutukan yang menimpa Miyoki dan mengungkapkan sebuah kebenaran yang mengerikan. Ternyata, tidak ada cara untuk mengembalikan tubuh Miyoki menjadi normal tanpa mengorbankan nyawa orang lain.

Miyoki terguncang oleh kenyataan yang tak terelakkan. Miyoki terperangkap dalam dilema yang menyiksa. Harapannya untuk hidup normal telah sirna, tetapi ia tak tega mengorbankan nyawa orang lain demi dirinya sendiri. Hati Miyoki penuh dengan kesedihan, amarah, dan keputusasaan.

Dengan berat hati, Miyoki memutuskan untuk hidup dalam keadaan seperti itu. Ia tahu bahwa tak ada jalan lain yang bisa ia tempuh. Bersama Rubi dan Diko, ia melanjutkan petualangannya, tetapi kegembiraan dan semangat mereka yang dulu telah pudar.

Mereka bertiga berkelana tanpa arah yang jelas. Setiap langkah terasa berat dan tak berarti. Beban kutukan terus menghantui Miyoki, meruntuhkan semangatnya. Ketika malam tiba, mereka berkemah di tengah hutan yang sunyi. Kelelahan fisik dan mental melanda mereka.

Saat mereka duduk di sekitar api unggun yang redup, suasana sepi hanya terisi oleh bisikan angin malam. Miyoki menatap kedua sahabatnya dengan mata penuh air mata.

“Apa artinya semua ini? apa artinya hidupku jika aku hanya menjadi benalu dan masalah bagi orang lain?” ucap Miyoki penuh putus asa.***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.