Cerpen

GARIS WAKTU

Karya: Awaliyah Veni Furraindah

GUBRAKK!!

Seorang laki-laki dengan paras menawan terjatuh dari tempat tidur kesayangannya. Bukan pertama kali dia terjatuh seperti ini, tapi setiap pagi. Entah mengapa dewi fortuna tidak selalu datang padanya. Padahal ia berpikir, cukup tampan untuk mendapatkan dewi kebaikan itu. Sebelum keluar dari kamar, ia kembali melamun di atas karpet bergambar batman yang dibelikan oleh ibunya saat ia berulang tahun ke sepuluh. Memang, ya, orang tua kalau memberikan kejutan tidak main-main.

Saat tengah melamun, tak lupa dengan gerakan tangan yang mengucek mata agar cepat tersadar, dia juga memikirkan mimpi apa dia semalam. Ah, persetan dengan mimpi. Ia kini meraba- raba nakas disamping tempat tidurnya guna mengetahui dimana benda canggih yang selalu ia cintai.

Ketemu. Benda itu ternyata ikut jatuh bersama sang pemilik. Sungguh romantis. Saat matanya benar-benar pulih dari kantuk yang melanda, ia terkejut gelagapan. Dia kini, telat. Masalah sepele memang bagi murid-murid yang sering membolos. Tapi, entah kenapa, hati pemuda ini was-was. Karena, sudah beberapa kali dia terlambat saat mata pelajaran Matematika. Dia sempat berpikir, mengapa tidak telat saat mata pelajaran olahraga? Kan, enak,tuh.

“MATI GUE! Mana udah jam setengah tujuh. Ulangannya Pak Bandos lagi. Kenapa setiap hari rabu gue nggak pernah beruntung, sih?!” geram pemuda ini. Tanpa basa-basi lagi dengan perasaan dongkolnya, kini dia berlari keluar untuk sekedar mandi bebek.

Sebelum sampai depan kamar mandi, dia kembali bergumam.

“Lah? Ngapain mandi? Gue kan baru beli parfum, harus digunakan dengan baik. Kata nyokap juga kan harus irit air. Ah, terbaik sekali.”

Gila memang pemuda ini. Namun, bila dilihat-lihat memang tidak jauh beda kalau dia mandi, masih tetap biasa saja. Berjalan santai ke arah dapur tanpa memperdulikan tatapan heran adiknya yang telah siap dengan seragam SD nya. Tak lupa, dia juga setiap pagi wajib mendapat omelan dari sang Ibunda karena terlalu sering bermain ponsel.

“Kak, kamu kan sudah besar. Mbok berubah ngunu, loh. Jadi orang jangan semrawut. Boleh main hp, tapi inget waktu.” Kata sang ibu dengan lembut.

“Iya-iya, bun.”

“Jangan iya-iya, tok, tapi engga dijalani. Bunda gini kan biar kamu jadi lelaki yang bertanggung jawab nanti kalau udah punya pacar atau nikah. Buat diri kamu sendiri juga.”

“Iya, bundaku yang cantik.” Pemuda bernama Pandu membalas perkataan sang ibunda dengan menciup pipi kanannya dengan lembut.

“Iya sudah. Sana, pakai seragammu. Sebentar lagi jam tujuh, nanti kamu terlambat lagi.” Suruh bunda.

Pemuda itu menganggukkan kepala serta berjalan santai ke kamarnya. Mengganti kaos dan celana pendeknya dengan seragam batik khas sekolahnya. Saat tengah mengancingkan seragam batik, dia bertanya-tanya dalam hati. Apakah dia ini keturunan sultan, hingga tak ada yang berani menghukumnya? Dalam kurun waktu sebulan, ia sudah terlambat sekitar dua puluh. Kalau dihitung dengan poin merah, mungkin dia akan dikeluarkan. Sepertinya dewi fortuna berpihak saat ia terlambat. Saat telah siap semua, tak lupa dengan tas ransel yang sudah bertengger dipundak, dia berjalan mendekat ke motor kesayangannya. Namun, saat hampir sampai di depan pintu, dengan tangan akan menggaet ke gagang pintu, tiba-tiba perutnya berbunyi. Menandakan bahwa alam telah memanggil.

“Woilaah, kenapa harus ada acara mules, sih?! Mana udah jam segini. Ah, udahlah, mending di sekolah aja bareng Gusti, lumayan bolos jam pelajaran bareng temen.” Gumam Pandu.

Tanpa berlama-lama ia langsung berangkat ke kandang macan, sebutan untuk sekolahnya yang memang seperti kandang kebun binatang. Eh? Tidak-tidak, hanya bercanda. Saat tengah berkendara, dia membayangkan jika dirinya adalah pembalap motor profesional. Seperti Marc Marquez misalnya, pasti jalanan akan ia trabas dengan cepat. Kalau tidak ada kendaraan lain. Tak lupa ia juga mengklakson keras saat pengguna jalan lain menghalangi jalannya. Mereka ini tidak tahu, kalau guru keamanan sudah melambai-lambai akan menutup  gerbang.

Tepat jam tujuh. Ia sudah sampai dipintu gerbang yang masih terbuka sedikit. Bersyukur sekali, akhirnya dia tidak perlu mendapat omelan dari guru piket hari ini. Karena yang menjaga gerbang hari ini hanya Pak Satpam. Kalau tidak ramai, mungkin Pandu akan sujud syukur. Menuntun motor kesayangannya dengan hati-hati karena ia baru mencuci kemarin guna menjemput Arra nanti pulang sekolah. Ia menempatkan motornya diparkiran yang mudah dijangkau, dan mudah jika dikeluarkan agar nanti kalau pulang bisa lebih cepat. Licik.

“Datang paling lama, pulang paling awal. Semboyan baru untuk parkiran. Duh, nggak sabar hati gue nanti bakal ngejemput Arra.” Kata Pandu dengan senyum yang tetap terpatri di bibirnya.

Kini dia berjalan santai melewati koridor kelas yang sudah mulai sepi karena aktivitas pembelajaran akan segera dimulai. Sampai didepan kelas, ia tak lupa mengintip dari celah jendela, apakah sudah ada guru atau belum. Ternyata guru buncit itu belum datang, syukur kalau begitu. Dia mengendap pelan-pelan hingga akhirnya dia berhasil mendobrak pintu dan membuat sedikit lubang di bawah pintu.

BRAKK!

Semua orang didalam kelas terlonjak kaget. Bahkan yang tengah meminum air tersedak karenanya. Perbuatan Pandu ini tidak boleh ditiru untuk orang yang tidak profesional. Walaupun Pandu memang bukan orang profesional juga,sih.

“BISA SALAM DULU NGGAK KALAU MAU MASUK?” teriak salah satu murid.

Pandu nyengir. “Hehe, Assalamualaikum ukhti dan akhi.” Lalu pergi ke tempat Gusti untuk mengacau mimpi indahnya dengan Anya Geraldine.

“Woi, Gus! Anterin gue, cepet!” teriak Pandu dengan menarik kasar lengan Gusti. “Ngapain? Ogah gue kalo disuruh nemenin lo ke toilet lagi!”

“Kebanyakan omong lo.” Pandu tetap menarik tangan Gusti yang dari tadi bersedekap diatas meja guna menutupi wajahnya yang tengah tertidur pulas.

Pandu dan Gusti, dua sejoli tidak bisa dipisahkan berjalan santai ke mushola sekolahnya untuk menunaikan sholat dhuha. Senakal-nakalnya Pandu, dia tetap manusia yang tak akan lupa dengan pencipta-Nya. Patut dicontoh kelakuan baik Pandu.

“Ngapain, Pan?” tanya Gusti.

Pandu menoleh, “Mau godain Bu Susi.”

“Istighfar,Pan. Bu Susi dah ada anak cucu, masih mau diembat juga.” “Ya lo pikir aja,dong. Gue kesini mau apa.”

“Pasti nyolong sepatu.”

“Nah, pinter. Ada sepatu baru tuh, ngga tau punya siapa.”

Gusti mengelus dada kesal. “Pan, lo serius mau nyolong sepatu?!”

“Rajungan! Mulut lo keras banget kalo nuduh orang!” Pandu kembali melayangkan jitakannya ke kepala Gusti.

“Aduh! Sakit, sialan!” Gusti mengaduh.

“Udah tau gue disini biasanya sholat, lo ngapain nanya?!” “Kali aja hari ini niatnya beda.” Kata Gusti enteng.

Pandu mengelus dada sabar. “Ya Allah, un-instal aja makhluk bernama Gusti. Soalnya nggak berguna.”

“Aamiin.” Gusti mengamini. Memang mereka berdua ini spesies langka.

Pandu mengeluarkan motornya dari parkiran sekolah. Bel memang belum berbunyi, namun manusia satu ini sudah tidak sabar menjemput pujaan hatinya. Murid-murid lainpun belum ada yang menampakkan batang hidungnya di parkiran. Hanya dua orang hamba Allah sudah duduk manis di atas motor.

“Gus, menurut lo gue nanti nembak Arra caranya gimana?” Pandu merapihkan rambutnya.

“Kenapa lo nggak nembak di atas motor sambil teriak? Antimainstream,tuh.” “Maksudnya, gue berdiri diatas motor,gitu? Kalau jatuh bareng, gimana?”

Gusti menoyor kepala Pandu keras. “Lo ganteng-ganteng dungu juga,ya?” Pandu mengerucutkan bibir kesal.

“Lo tembak aja waktu dia di bonceng lo. Udah gitu aja.” “Hm, simple tapi past tense.”

“Lo pikir inggris?” “Gue kira arab.”

“Kenapa kita kayak orang dungu?”

“Gue nggak ngerasa, Gus. Mohon maaf lahir dan batin.” Pemuda itu menyingkirkan Gusti dari atas motornya secara kasar.

Pandu tidak memperdulikan ocehan Gusti yang sudah seperti anak kecil tak diberikan mainan.

Dia kini akan siap-siap menjemput Arra di sekolahnya. Memang sekolah mereka tidak sama walaupun tetanggaan.

“Gue nebeng,Pan.”

“Ah, lo ngapain nebeng,sih. Katanya kalo dibonceng gue kayak kesetanan.”

“Sesetan-setannya elo, gue tetep sayang kalo dikasih boncengan gratis.” Kata Gusti sambil merentangkan tangannya hendak memeluk Pandu.

“Hih! Jauh-jauh lo.” Hardik Pandu mendorong kening Gusti kesal. “Udah cepet,ah. Katanya lo mau jemput Arra.”

“Yok lah, trabass terbang ngejemput bebeb Arra.” Kata Pandu bangga dengan wajah kesemsem, tak lupa ia merapihkan bajunya dan tatanan rambutnya. Walaupun nanti tidak akan terlihat oleh Arra.

Pandu melaju, melesat membelah jalanan kota dengan kecepatan tinggi. Dia tidak memperdulikan ucapan sumpah serapah dari mulut Gusti. Dia harus tepat waktu sampai ke tempat Arra. Takut gadis manis itu akan mendiamkannya lagi. Tanpa ia sadari, karena terlalu fokus untuk tepat waktu ke tempat Arra. Dia sampai lupa rumah Gusti sudah terlewat. Kini omelan Gusti melebihi Bundanya, Bu Susi, dan Pak Ahkam.

“Sialan lo! Fokus mah fokus, tapi lihat dong rumah gue kebablasan. Mana jauh lagi.” Gerutu Gusti.

“Ya namanya juga orang kasmaran. Lo jalan kaki aja sono dari pada ribet.” “Lo mah enak ngomong, gue yang jalan bisa keburu pingsan. Anterin buru.” “Alay lo. Lembek amat jadi cowok.”

“Kayak siapa?” “Bapak lo.”

“Mulut lo! Udahlah gue jalan kaki aja.” Pamit Gusti merajuk, namun Pandu tak peduli dan kembali melanjutkan perjalanannya. Walaupun Gusti di belakang sana teriak-teriak menyumpahi      Pandu.

Dari kejauhan, Pandu melihat seorang gadis yang tengah sibuk mengetik di ponselnya. Mungkin gadis itu memang sudah resah di sana dan ingin segera pulang. Pemuda itu mendekat, benar saja Arra jelas tampak marah. Hampir satu jam dia menunggu, dan Pandu dengan dungunya dia melemparkan senyum konyolnya.

“Ayo pulang, Ra.” Ajak Pandu dan Arra tanpa sepatah katapun langsung duduk jok belakang.

“Ra, jangan diemin gue dong. Masa gue kayak tukang ojek nggak ngobrol apapun.” Pandu memelas. Tapi, tetap saja Arra tidak mau berbicara. Mungkin karena moodnya sudah rusak. Siapa juga,sih, cewek yang mau nunggu selama itu? Lima menit saja tidak mau.

Hingga akhirnya, diperjalanan pulang mereka berdua tetap diam sampai tiba di depan rumah Arra. Gadis itu langsung turun dari motor dan pergi meninggalkan Pandu. Tapi, dengan cekatan Pandu meraih pergelangan Arra hingga gadis itu terhuyung hampir jatuh kedekapan Pandu.

“Apaan,sih, Pandu! Lepasin!” sentak Arra. “Ra, will you be my girlfriend?”

Pandu tanpa basa-basi menembak Arra dengan polosnya. Keberanian Pandu memang tidak bisa ditoleransi. Arra yang harusnya marah kini mendadak menjadi patung tanpa bisa bergerak sama sekali.

“Lo gila?” Balas Arra gugup.

Pandu tersenyum. “Gue udah lama pengen ngungkapin ini, Ra. Jangan buat diri gue seolah kayak pecundang. Gue tau,lo juga punya perasaan sama, kan kayak gue? Jangan tolak gue dan buat gue hancur, Ra. Karena gue nggak akan mengulang buat meminta perasaan lo. Gue cinta lo, Ra.”

*****

Pandu masuk ke dalam rumah dengan meletakkan sepatu sekolahnya kedalam rak sebelah pintu depan. Hari ini dia sangat lelah, ingin sekali cepat-cepat dia rebahan. Namun, sesampainya di kamar, dia dikejutkan dengan penampakkan seorang gadis yang tengah tidur telungkup di ranjangnya, semua sampah pun berserakan seperti sarang tikus. Pandu dengan kesal melemparkan tasnya tepat ke kepala gadis itu.

“ADUH! Woi sakit kepala gue!”

“Berani-beraninya ya lo dateng ke kamar gue tanpa permisi?!” “Emang gue pernah permisi sama lo?”

“Oh iya, lo kan manusia nggak beradab.”

“Penting berakhlak.” Kata gadis itu santai dengan mengambil snack diatas nakas milik Pandu.

Pandu sangat heran dengan manusia ini, mengapa masih ada spesies seperti ini dimuka bumi?

“Oh iya, katanya lo bakal nembak cewek? Nggak jadi? Pengecut lo.”

Pandu kembali melayangkan bantal kearah gadis itu hingga sang gadis terjatuh. “Mulut lo emang harus di lakban.”

“Lah, gue nanya, malah nggak di jawab.”

“Ck, gue udah nembak,dong. Di terima lagi. Ah, sekarang gue nggak jomblo lagi.”

“Oh, udah diterima? Bilangin ke cewek lo. Angkat gue jadi anak, ntar kasih aja gue wifi/kuota full sekalian makanan. Gue udah anteng. Serius.”

“Amit-amit gue punya anak kayak lo.” Pandu menyentil kening Yena.

“Atau lo bisa nikahin gue, jadiin istri ke sekian gue nggak apa-apa, dari pada nggak ada yang ngurus gue.”

Pandu menggeleng-gelengkan kepala, menatap tak percaya gadis dihadapannya ini, masa depannya benar-benar sudah suram. Sudah tidak ada harapan.

“Ogah gue punya istri kayak lo. Pulang sana, ntar majikan lo nyariin.” Usir Pandu. “GUK!”

Pandu ingin menangis darah kalau sudah seperti ini. Sahabat kecilnya kini sudah terlampau malas hingga menyocokkan dirinya dengan hewan peliharaan. Baru dua hari Pandu dan Arra resmi berpacaran, namun kini kesetiaan mereka akan di goyahkan dengan jarak yang membentang luas. Memang semua manusia tidak menginginkan hubungan jarak jauh, terlebih lagi dengan perasaan yang baru saja bahagia.

Pandu sedang duduk di teras depan rumah sambil menikmati teh hangat buatan Bundanya dan melihat bintang-bintang diatas sana. Tak lama, Yena, gadis pemalas itu ngesot ke samping Pandu dan duduk di sebelahnya. Pemuda yang menyesap teh hanya membiarkannya saja.

“Kita bakal pindah. Gimana sama cewek lo?” tanya Yena merebut snack dari tangan Pandu.

“LDR. Gue udah bilang sama dia tadi siang, dia nangis-nangis juga mohon buat gue nggak ninggalin dia. Tapi, lo tau sendiri Abah nggak mau gue disini sendiri.” Pandu melamun, menatap bintang.

“Kalau jodoh bakal dipertemuin lagi, kalau enggak ya, sama gue juga nggak apa-apa.” Kata Yena santai.

“Gue nya yang nggak mau.” Balas Pandu tak kalah santai. “Pertama kali pacaran, pertama kali LDR-an. Parah.”

FLASHBACK SIANG

Pandu dan Arra duduk berhadapan di sebuah Caffe yang biasa mereka datangi saat dulu sebelum pacaran. Tak jauh beda dari dulu, mereka tetap akrab dan saling menyayangi. Dari Pandu yang humor, hingga Arra yang cerewet jika Pandu sengaja mencubit pipinya yang memerah karena malu.

Pandu harusnya sudah siap sedari tadi untuk mengatakan kalau dia beserta keluarganya harus pindah ke kota hujan. Abahnya mendadak mendapat dinas disana. Hingga mau tak mau, Pandu pun harus ikut dan terpaksa pindah sekolah.

“Ra.” Pandu tersenyum serta menggenggam erat kedua tangan Arra. Sang gadis hanya tersenyum menatap membalas ucapan Pandu.

“Gue mau bilang sesuatu. Tapi, tolong lo jangan marah, ya?” Lagi-lagi Arra hanya terdiam dan menatap lurus bola mata milik Pandu.

“Abah dipindah tugaskan ke Bogor. Mau nggak mau, gue harus ikut. Lo siap kita LDR?” Arra tersentak. Dia dengan cepat melepaskan tangannya yang digenggam Pandu.

“Lo bohong, kan?”

“Gue serius. Gue tadinya nolak, dan kekeuh buat disini aja, sendiripun gue nggak apa-apa.

Tapi, apa daya? Abah sama Bunda pengennya gue ikut ke Bogor.”

Gadis didepannya itu tak kuasa menahan tangis. Wanita mana yang mau ditinggal oleh kekasih? Dengan rentan jarak yang tidak bisa ditentukan. Entah kapan ia akan bertemu kembali? Baru saja memulai hubungan, ada saja yang menghalangi. Bukan maksud Arra egois inginkan Pandu disini. Tetapi, bisakah Tuhan mengabulkan permintaan Arra kali ini saja? Dia hanya meminta agar kekasihnya tetap berada disampingnya. Dia tidak bisa menjalani ini. Dia takut akan kegagalan dalam sebuah hubungan.

“Mau dipaksa pun, lo tetep bakal pergi, kan?” kata Arra sesenggukan.

“Gue nggak bakal pergi. Gue akan tetap dihati lo. Raga gue yang pindah, Ra. Tapi, perasaan gue tetap sama lo.” Pandu kembali menggenggam tangan lembut Arra.

“Tetep aja, Pandu. Gue nggak tau bisa atau enggak ngejalanin ini. Kita nggak cuma beda kota, tapi kita juga beda provinsi.” Kekeuh Arra pesimis.

Pandu mengusap air mata Arra.

“Ra, gue aja yakin sama hubungan ini. Masa lo engga? Kita udah sama-sama dewasa. Gue sama lo bukan kali ini aja kan berjauhan? Ayo, kita sama-sama kuat buat hubungan kita. Gue nggak bakal janji, tapi gue bakal buktiin kalo nanti libur sekolah, gue bakal pulang kesini dan nemuin lo.” Pandu tersenyum menenangkan Arra, walaupun hatinya kini juga terluka. Entah ia akan menepati ucapannya atau sekedar sebagai penenang.

“Hiks.. tapi, lo sering-sering kabarin gue, ya? Gue takut aja kalau nggak kuat.”

“Lo kuat. Gue tau lo perempuan yang nggak bisa nyerah hanya karena keadaan kan? Lo percaya gue,‟kan?”

Arra mengangguk pelan. Walaupun kini dia masih sesenggukan, dia juga harus optimis kalau hubungannya akan baik-baik saja. Dia dan Pandu tidak akan pernah digoyahkan oleh sesuatu tanpa bukti. Dirinya harus tegar dihadapan Pandu. Dia tidak boleh lemah. Pandu yang menguatkan, kini dia juga harus menguatkan Pandu agar mereka sama-sama bisa melewati ini semua.

“Gue percaya sama lo.” Arra menatap Pandu dan membalas genggamannya.

“Terima Kasih, Ra. Gue bersyukur bisa milikin lo walaupun sebentar lagi kita bakal terpisah.” “Iya, gue juga. Eh, udah lama nggak main hujan-hujanan. Main yuk? Mumpung diluar hujan.” Ajak Arra menyeret Pandu keluar Caffe.

“Heh? Lo yakin? Nggak takut sakit?”

“NGGAK,LAH. NIKMATIN AJA, SEBAGAI TANDA KALAU KITA RESMI BERPACARAN!” teriak Arra.

“BISA-BISANYA LO BOCIL ADA IDE GINIAN?”

“BOCIL JUGA LO SUKA, KAN?” Arra tertawa dan berlari meninggalkan Pandu. Dia menghampiri ayunan dan bermain sembari hujan-hujanan.

“MAIN AYUNAN KAYAK BOCAH LO!” teriak Pandu tak kalah seru. “HAHAHA, TERSERAH GUE, KALAU MAU AYO IKUTAN.”

“OKE, KITA BALAPAN SIAPA PALING TINGGI!”

Dua pasangan sejoli kini tengah bergembira menutupi rasa sedih dan gundah didalam hati. Rasa sesak yang terus menjalar entah sampai kapan berakhir, takkan mampu ditutupi oleh kegembiraan sekejap saja. Walaupun begitu, mereka harus tetap menjalani hidup masing-masing dengan tempat yang berbeda, dan lingkungan yang akan berbanding terbalik sangat berbeda.

Selalu ada hati yang merindukan akan kedatangan seseorang yang dicintai. Menyiapkan segalanya agar orang itu dapat nyaman untuk tinggal. Yang jauh hanya jarak, yang terpisah hanya raga. Bukan hati.

****

Aku mencintaimu, dari jarak yang membuat kita rapuh namun doa yang membuat kita utuh.

Tertanda Arra untuk Pandu.

****

LDR hanya untuk pasangan yang hebat. Saling percaya, saling berbagi rindu, saling melihat satu sama lain dari layar ponsel, saling bertukar kabar lewat pesan dan suara. Memang sulit, namun percayalah, semua itu nantinya akan memberikan kesan yang berbeda dan akan menjadi kenangan yang tak terlupakan.

Tertanda Pandu untuk Arra

-TAMAT-

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.