Artikel

Dampak Pandemi Covid-19 Terhadap Proses Belajar Mahasiswa Indonesia di Luar Negeri

Karya: Elsa Maulidina


Covid-19 mulai terdeteksi di Indonesia pada bulan Februari tahun 2020 menyebabkan banyak kerugian bagi masyarakat. Tidak hanya tentang materi, akan tetapi kerugian waktu juga terasa. Sampai saat ini Indonesia masih masuk dalam nominasi 20 besar negara di dunia yang masyarakatnya terpapar virus Covid-19 terbanyak. Meskipun begitu, menurut data dari Kementrian Kesehatan RI, Indonesia pada tanggal 25 Desember 2020 mengalami peningkatan jumlah pasien yang sembuh. Tercatat ada 563.980 orang.


Kerugian yang disebabkan oleh adanya pandemi Covid-19 tidak hanya dirasakan oleh pengusaha, karyawan, UMKM, guru, atau petani saja, bahkan juga dirasakan oleh pelajar. Perekonomian menjadi tidak stabil, bekerja tidak lagi seperti biasa. Begitupun dengan kegiatan belajar yang biasanya dilakuan di sekolah atau kampus secara tatap muka, kini semua sudah berubah menjadi serba daring. Kesulitan dan permasalahan baru bermunculan di dunia pendidikan. Para mahasiswa mulai belajar beradaptasi dengan kemajuan teknologi yang berubah 50% dari sebagaimana mestinya.


Perubahan proses belajar bagi mahasiswa tidak hanya terjadi di Indonesia. Mahasiswa di luar negeri juga ikut merasakan proses adaptasi yang baru. Adaptasi yang dimaksud yaitu berupa proses belajar yang berbeda dari biasanya. Adaptasi menurut Suparlan merupakan proses manusia untuk memenuhi persyaratan demi keberlangsungan hidup. Proses belajar secara daring ini merupakan persyaratan bagi mahasiswa untuk tetap melangsukan kegiatan belajar dengan dosennya meskipun dalam kondisi di tengah wabah Covid-19.


Mahasiswa Indonesia tidak sedikit yang sedang melanjutkan studinya di luar negeri. Beberapa dari mereka ada yang sedang menempuh pendidikan S1, S2 ataupun S3. Dari pernyataan mahasiswa yang sedang melakukan studi di luar negeri, metode pembelajaran yang dilakukan di luar negeri dan di Indonesia hampir tidak jauh berbeda. Kebijakan yang diambil oleh pihak kampus di luar negeri pun juga berbeda-beda.


Pada awal pandemi, kebijakan yang diberikan oleh pihak Universitas Al-Azhar, Mesir dan Nanjing University, Tiongkok yaitu dengan meliburkan sementara seluruh kegiatan belajar di kampus. Kemudian pihak kampus memberikan pengumuman bahwa kegiatan belajar dilanjutkan secara daring, ketika nyatanya virus Covid-19 semakin merebak di seluruh dunia. Berbeda dengan Soochow University, Taiwan. University of Internasional Business and Economics, Beijing. Shanghai Ocean University, Tiongkok, yang secara langsung memberikan kebijakan kepada mahasiswanya untuk melakukan pembelajaran secara daring. Karena ada beberapa dari kampus yang disebutkan diatas, ketika virus Covid-19 ditemukan di China tidak langsung melakukan tindakan.


Mahasiswa-mahasiswa Indonesia yang berada di luar negeri pada saat pandemi, tidak lepas dari pengawasan pihak pemerintahan Indonesia. Pada saat negara yang mereka tinggali mulai terpapar virus Covid-19, kebijakan yang diambil oleh Indonesia atau diwakili oleh Kedutaan Besar Indonesia yang ada di negara tersebut meminta untuk mahasiswa Indonesia berdiam diri atau isolasi diri secara mandiri di asrama. Ada pula beberapa negara yang Kedutaan Besar Indonesia nya langsung memulangkan mahasiswa Indonesia yang berada di negara tersebut. Seperti yang dialami oleh mahasiswa University of Internasional Business and Economics, Beijing dan Shanghai Ocean University, Tiongkok.


Tidak jauh berbeda dengan keadaan sistem pembelajaran di Indonesia, mahasiswa Indonesia yang berada di luar negeri juga merasakan hal yang sama dengan mahasiswa di dalam negeri. Belajar secara daring dengan menggunakan metode yang telah ditetapkan oleh pihak kampus masing-masing. Selain bertatap muka dengan cara melalui aplikasi Video Conference, beberapa tenaga pengajar luar negeri juga memberikan materi kepada mahasiswanya dengan cara membuat video penjelasan materi yang kemudian diupload di laman Youtube. Dengan tujuan memudahkan mahasiswanya untuk mengakses materi dan penjelasan dari dosen secara audio visual.


Berkenaan dengan belajar secara daring, permasalahan-permasalahan baru menjadi hambatan tersendiri bagi mahasiswa dalam mengimbangi proses belajar serta menyesuaikan diri dengan teknologi. Menurut beberapa mahasiswa Indonesia di luar negeri, tidak semua area di luar negeri yang mempunyai jaringan internet kuat. Selain hambatan internet, bagi mahasiswa Indonesia yang berada di luar negeri, bahasa yang digunakan oleh dosen juga terkadang mempengaruhi proses belajar mereka. Karena dengan belajar secara daring terkadang proses pemahaman bahasa yang digunakan oleh dosen tidak begitu jelas bagi mahasiswa Indonesia yang sedang belajar di negara asing.


Berbeda dengan mahasiswa di Indonesia yang saat ini sudah bisa menikmati fasilitas untuk melaksanakan belajar daring dari pemerintah, dalam bentuk bantuan kuota data internet. Mahasiswa Indonesia yang sedang melanjutkan studi di luar negeri tidak semuanya mendapatkan fasilitas belajar, terutama dari pemerintah Indonesia. Menurut salah satu mahasiswa Universitas Al-Azhar, Mesir, pihak KBRI tidak memfasilitasi kuota data internet untuk belajar, akan tetapi lebih ke dalam bidang pangan dan obat-obatan. Dan mahasiswa yang berada di Tiongkok juga tidak mendapatkan fasilitas kuota data internet dari pihak pemerintah Indonesia selama pandemi.


Permasalahan-permasalahan pendidikan bagi mahasiswa Indonesia yang berada di luar negeri masih terbilang tidak jauh berbeda dari mahasiswa Indonesia biasa. Bagi mahasiswa Indonesia yang berada di luar negeri, kendala seperti jaringan internet, mahalnya harga kuota data internet, susahnya pemahaman bahasa asing itu masih bisa diatasi. Akan tetapi untuk permasalahan ekonomi, mahasiswa Indonesia yang berada di luar negeri tidak berdaya, contohnya salah satu mahasiswa yang setelah dipulangkan dari China ke Indonesia pada awal pandemi. Setelah keadaan di China membaik, dan perkuliah di kampusnya mulai aktif dia tidak bisa kembali lagi ke China, karena permasalahan biaya untuk pemberangkatan. Karena kasus tersebut akhirnya dia memutuskan untuk mengambil cuti kuliah.


Selain itu, bagi mahasiswa di Al-Azhar, Mesir, pengaruh adanya virus Covid-19 tidak hanya mempengaruhi proses pendidikan mereka saja. Keberlangsungan perekonomian mereka juga terancam. Karena dari pihak keluarga yang berada di Indonesia juga terkena dampak dari Covid-19, sehingga uang kiriman sering kali terlambat, atau bahkan sampai berkurang banyak dari biasanya. Beruntung di Mesir banyak para dermawan, terutama dari pihak dosen atau kerap disapa dengan Ulama’ Al-Azhar. Para mahasiswa Indonesia kerap kali mendapatkan bantuan dari dosen yang dermawan.


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.