Bunga
Sore itu, taman kota dipenuhi cahaya keemasan. Daun-daun berdesir pelan ketika angin lewat, seolah ikut berbisik pada siapa pun yang berjalan di sana. Di antara jalur batu yang berkelok, sepasang kekasih melangkah berdampingan, tanpa tergesa, menikmati waktu yang terasa sederhana namun penuh arti.
Mereka berhenti di dekat hamparan bunga yang sedang mekar. Warnanya beragam, merah, kuning, ungu, dan putih, tersusun rapi namun tetap terlihat hidup, seakan masing-masing memiliki cerita sendiri. Sang kekasih perempuan berjongkok, menatap bunga-bunga itu dengan mata berbinar.
“Cantik, ya,” katanya pelan.
“Iya,” jawab pasangannya sambil tersenyum. “Tapi menurutmu, apa yang membuat bunga jadi cantik?”
Ia berpikir sejenak, lalu memetik satu kelopak yang jatuh ke tanah. “Karena warnanya. Atau karena baunya. Atau mungkin karena bunga selalu mekar tanpa tahu siapa yang melihatnya.”
Mereka duduk di bangku taman. Di hadapan mereka, bunga-bunga itu tetap bergoyang pelan, tak peduli sedang diperhatikan atau tidak. Sang lelaki menatap hamparan warna itu, lalu berkata, “Katanya, setiap bunga punya makna. Mawar tentang cinta, melati tentang kesucian, bunga matahari tentang harapan.”
“Kalau begitu,” sahut pasangannya, “bunga apa yang paling mirip dengan kita?”
Ia terdiam, lalu tertawa kecil. “Mungkin kita bukan satu jenis bunga. Kita campuran. Kadang seperti mawar, penuh rasa. Kadang seperti bunga liar yang tumbuh di pinggir jalan, sederhana tapi bertahan.”
Perempuan itu tersenyum. “Aku suka bunga liar,” katanya. “Mereka tidak ditanam khusus, tapi tetap tumbuh. Seperti hubungan yang dijaga bukan karena kewajiban, tapi karena ingin.”
Langit mulai berwarna jingga. Bayangan mereka memanjang di jalan setapak. Sang lelaki memetik satu bunga kecil yang jatuh, lalu menyerahkannya. “Mungkin makna bunga bukan dari namanya,” ujarnya, “tapi dari siapa yang melihat dan merasakannya.”
Ia menerima bunga itu dengan hati-hati, seolah sedang memegang sesuatu yang rapuh namun berharga. “Kalau begitu,” katanya lembut, “bunga ini akan mengingatkanku pada hari ini. Tentang berjalan pelan, berbagi cerita, dan memahami makna bersama.”
Mereka kembali berjalan, meninggalkan taman yang perlahan diselimuti senja. Bunga-bunga tetap di sana, mekar dalam diam, sementara dua hati melangkah pulang dengan makna baru, bahwa seperti bunga, cinta tak selalu harus dijelaskan. Cukup dirawat, dipahami, dan dinikmati sampai Ia mekar.
Karya: Marchela Dika


