Cerpen

Empat Batu di Ujung Pantai

Di sudut sunyi kota kecil, tersembunyi sebuah pantai yang nyaris terlupakan oleh jejak kaki. Ombaknya berbisik pelan, pasirnya adalah butiran janji yang agak kasar, dan yang paling kami sayangi empat batu karang besar berbentuk kursi menghadap laut lepas. Sejak SMP kami menjadikannya “singgasana”.

Tamat SMA, garis edar hidup merenggut kami ke empat penjuru mata angin. Ran dipanggil beasiswa hingga ke tanah asing Jepang. Ery terseret arus ke Balikpapan. Nae mengejar cita-cita kebidanan, hanya terpisah tiga jam perjalanan bus. Aku, Karin, terdampar di sini, terjebak dalam jeda yang tak berujung, kuliah maya sambil meracik kue ibu. Katanya, ‘sementara,’ namun setahun telah menjadi jurang.

Grup chat kami membisu, hanya sesekali pecah oleh kilasan foto, ucapan basa-basi dan ucapan selamat ulang tahun. Aku dicekam takut jangan-jangan kami telah menjelma kenangan yang membeku. Tiba 12 April, hari ketika setahun lalu tawa kami terakhir bergaung di sana. Aku datang sendiri, hanya ditemani donat dan tikar lusuh. Duduk di karang paling kiri, menjadi patung yang mendengarkan ratapan ombak.

“Hei, batu ini masih kosong kan?”

Ran berdiri di pasir, memakai jaket tebal dan syal yang menyimpan aroma masa lalu. Matanya semerah cakrawala senja. Ery muncul dari timur membawa peyek udang.

“Aku kira aku paling telat,” katanya sambil tersenyum bergetar.

Nae datang dari belakang batu, membawa termos teh dan empat gelas plastik. Rambutnya berkibar, senyumnya adalah peta yang tak pernah berubah. Pandangan kami bertemu, dan embun tertahan di mataku pecah, bukan karena duka, tapi karena air mata lega yang meluap. Kami kembali ke takhta kami, seolah waktu tak pernah beranjak.

“Aku takut kalian lupa tempat ini,” kata Ran.

“Aku takut kita sudah tak sama lagi,” kata Ery.

“Aku takut aku yang paling berubah,” kata Nae.

“Aku takut tertinggal,” kataku. Kami diam, hanya ditemani ombak.

Nae menuang teh. Kami mengangkat gelas. “Untuk kita yang masih mau pulang ke batu yang sama,” katanya. Hari itu kami bercerita sampai langit gelap. Ran hampir menyerah di Jepang karena kesepian. Ery tidak suka pekerjaan tambang. Nae hampir berhenti kuliah karena takut jarum. Aku takut bermimpi lagi. Tapi kami tertawa di akhir cerita. Kami sama-sama takut kehilangan. Sebelum pulang, Ran menulis dengan spidol tahan air di sisi batu Karin Ran Ery Nae.

Ran, Karin, Eri, Nae 12 April 2024

Kami janji pulang tiap tahun, ombak jadi saksi. Setahun kemudian, 12 April 2025, aku datang duluan. Batu paling kiri aku tempati. Kali ini aku tidak takut. Tiga batu lain pasti terisi lagi, dan memang terisi. Ran membawa kamera baru, Ery peyek dua kali lipat, Nae termos lebih besar, aku membawa gulungan kertas. Aku buka perlahan. Lukisan cat air empat batu kami, langit senja oranye, dan tulisan “Jati diri kita bukan hanya ke mana ombak membawa kita sekarang. Tapi juga ke mana kita selalu pulang. Ke tiga orang yang tetap mau duduk di batu yang sama.

Meski laut sudah menarik kita sejauh apa pun.”Ran memelukku hingga hampir jatuh. Ery berteriak ingin menangis lagi. Nae tersenyum berkaca-kaca. Kami tempel lukisan itu di batu terbesar, dilindungi plastik bening. Angin tetap bertiup, ombak tetap bergulung, tapi kami tak lagi takut.

Jarak, bentangan waktu yang kejam, bahkan kilauan mimpi baru, tak pernah cukup kuat untuk mematahkan akar yang tertanam di pantai ini. Empat batu ini adalah jangkar kami yang abadi. Kami berfoto, mengangkat lima jari sebuah sumpah bisu yang tak perlu diucapkan lagi.

Dan kini, setiap kali kami merasa terombang-ambing dan hilang di tengah badai lautan hidup, kami hanya perlu membuka bingkai kenangan itu. Melihat empat batu karang yang kokoh di pantai yang diabaikan dunia, kami teringat: Rumah bukanlah koordinat di peta. Rumah adalah tiga jiwa yang senantiasa menjaga singgasana batumu, apa pun pasang surut yang terjadi.

Karya: Fadiyah Almas Syafiqoh

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.