Cerpen

Punya Mata itu Dipakai

Oleh: Mustofa Ali Jinan

Siang itu ketika sang surya sedang merasa semangat-semangatnya menyinari bumi, aku pulang dari kewajibanku menimba ilmu di bangku sekolah. Dengan perasaan senang aku sedikit bergumam di dalam benak kecilku.
“syukurlah hari ini perjuanganku telah usai, waktunya diri ini menikmati untuk beristirahat,” sambil berjalan ke arah kendaraan di parkirkan.

Ketika sedang menyalakan kendaraanku, ada saut suara dari kejauhan memanggil diriku.
“Ali sini bantuin, motorku mogok!”
Dengan spontan aku langsung menghampirinya untuk mengecek keadaan.

Terlihat motornya dengan ciri khas noda perjuangannya menitih ilmu.
“Loh motor kamu kenapa Ren?” tanyaku.
“Gini ceritanya Ali, tadi saat mau aku nyalain tidak bisa. Kamu paham kan masalah seperti ini?”
Aku langsung mengecek bagian gusi motornya, ternyata … Wou betapa terkejutnya diriku, gusi yang seharusnya putih menjadi hitam pekat, seperti habis berendam di lumpur.

“Ren … kapan terakhir kali kamu servis atau membersihkan motor?”
“waduh lupa aku soal itu, kayanya tiga bulan lalu deh hehehehe …”
“Hadeh … kalau punya mata itu dipake Rena, motor udah kaya tank perang gini harusnya diservis atau diapain gitu,” ucapku menasehati Rena.

Setelah membersihkan gusi dan memasangnya kembali, syukurlah motor itu sudah bisa menyala kembali. “Makasih ya Ali yang baik hati,” ucap Rena yang berterima kasih kepadaku dengan memasang senyumnya yang manis. Dengan perasaan hati senang aku kembali ke motor lalu beranjak pulang meninggalkan tempat menimba ilmu ini.

Di jalan dengan berlatar belakang sinar sang surya yang terik bersemangat, aku melaju agak pelan dari hari biasanya. “Panas sekali hari ini,” bisikku dalam hati. Tepat di lampu merah, setelah menanti warna lampu berubah hijau. Aku berjalan untuk menyebrang dan tanpa ada aba-aba apapun ada sesosok ibu-ibu menaiki motor matic sambil menggendong anaknya. Ia melintas dengan seenak jidatnya menerobos lampu yang seharusnya masih merah lalu menyundul motorku.

“Mas minggir dong … Saya mau lewat ini kenapa malah ditutupin,” ujar ibu itu dengan nada tinggi.
“Loh kok saya Bu … Perasaan tadi dari arah saya lampunya hijau sedangkan dari arah ibu itu merah kan, kenapa ibu terobos?” ujarku menanggapi pertanyaan ibu itu.
“Ibu punya mata itu bisa dipakai dong, lihat kalau lampunya merah!” tambahku dengan nada nyolot. Lalu ibu itu pergi dengan memasang muka tidak bersalahnya. Aku sekejap berfikir, apa orang-orang tidak punya mata atau tidak bisa dipakai ya?

Besok harinya ketika hendak pulang dari sekolahan, aku kebingungan mencari kunci motorku.
“Perasaan tadi sudah di saku celana.”
Lalu aku bertanya kepada satpam yang ada di sana.
“Pak mohon maaf, tadi lihat kunci motor itu tidak Pak?” tanyaku kepada pak satpam.
“Mas … Kalau punya mata itu dipakai yang benar Mas,” jawab pak satpam.

Aku kebingungan dengan jawaban dari pak satpam. “Maksudnya gimana Pak?” tanyaku menanggapi perkataan pak satpam tadi.
“Kunci motor masih nempel sudah ditinggal kabur aja, untung tidak dimaling itu motor,” ucap pak satpam.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.