Cerpen

Kisah Kacang dan Kulit

Karya : Choerul Bariyah

Titik-titik halus air hujan tersaput hembusan angin dari selatan, tampias ke beranda dan emper-emper toko, semakin lama semakin deras, jatuh menerpa daun-daun kemudian meluruh ke jalan. Segala hal sepakat untuk membasahkan diri, hujan yang begitu tiba-tiba mengirim gelombang kejut yang cukup untuk menghela napas disertai ujaran “yasudahlah” dari katup-katup bibir. Yang masih ribut adalah baju-baju di jemuran, betapa mendung sedari kemarin telah membuatnya lembab, sekarang bukan masuk dengan rapi kedalam almari justru menggigil digantungan.

Nun jauh didalam sana, toples-toples kaca tersusun rapi dengan beragam isinya. Benda-benda mungil berbentuk bulat itu sedang gaduh, mengeluhkan nasib masing-masing yang belum juga berpindah dari benda sempit nan sesak. Plang berukuran 100 cm x 50 cm itu berdencit-dencit terkena angin, “Peanut Shop Koh Acong”.

“Hampir seminggu toko ini tutup, Tauke juga sama sekali tidak ke toko sekadar menaksir jumlah kita.” Keluh Polol, si kacang polong.

“Ckckckck… malang sekali nasibmu Lol, sudahlah murah, jarang yang beli pulak, ditambah sekarang Tauke menutup toko, pasti kau dan kawan-kawan hijaumu berakhir di tempat sampah! Hahahahah.” Ejek Madam mi, si kacang Macadamia.

“Hei!! Madam Mi, apa kau hijau-hijau?! Tak kau lihat hah, betapa orang-orang begitu menyukaiku? Tauke juga membelanjakannku setiap hari!!” sulut Ijaw, si kacang hijau.

“Sudah-sudah, Tauke menyatukan kita disini bukan untuk saling mengejek dan mengunggulkan diri. Sekarang yang paling penting adalah bagaimana cara membuat Tauke kembali membuka toko dan kita segera keluar dari sini.” Lerai si bijak, kacang kedelai.

Ditengah kegaduhan, Momo si kacang tanah diam-diam berbahagia, ia mendoakan hal yang berlainan dengan rekan-rekannya. Situasi seperti ini layaknya menjawab harapan besarnya, dimana ia tak perlu keluar dan berpindah tempat untuk kemudian menjadi sosok yang baru, apalagi perihal dipisahkan dari kulitnya. Bertahun-tahun ia muak, menyaksikan kepergian tanpa upacara perpisahan. Tak pernah terdengar dongeng bahagia dari para leluhurnya, yang ia tahu setelah ditimbang Tauke, ia akan diangkut dengan kantong plastik besar menuju tempat baru dan tentu saja tangan gesit akan memisahkan ia dengan belahan jiwanya. Tak ayal, mengetahui situasi yang ada, Momo sedih sebab mungkin sampai bumi beralih teori tak sempat ia mewujudkan kalimat sehidup semati. 

Kalau tak memperhatikan dengan teliti, takkan ada yang mengerti bahwa perasaan sedih yang dipendam Momo bertahun-tahun telah mencapai klimaksnya. Di luar toko, Tauke menyeruput kopi hitamnya sembari menatap lurus kearah jalan. Dalam kepalanya berkecambuk kemungkinan-kemungkinan, tentang toko yang terpaksa tutup, kuliah si sulung, dapur yang semakin jarang mengepulkan asap, serta berkarung-karung kacang di gudang. Seminggu terakhir persaingan di pasar semakin mengetat, kehadiran pengusaha besar dari kota itu telah mengambil hampir setengah pelanggannya, hanya beberapa saja yang masih setia melarisi toko tuanya.

“10 Hari 8 jam 34 menit 12 detik, wahai para kacang! Tauke akhirnya membuka toko dan tinggal menunggu giliran kita untuk bebas.” Seru Polol dengan berapi-api, disambut riuh tawa dan tangis dari kawan-kawannya. Suasana haru tak dapat dielakkan, tak sabar para kacang untuk mengabdi ke tempat barunya.

“Aku berharap yang membeliku kali ini adalah seorang pengusaha bakpia sukses, begitu lezat pasti diriku menjadi isian bakpia. Sudahlah bosan aku menjadi bubur bergabung bersama gula merah dan santan.” Ceracau Ijaw, disambut gelengan dari yang lainnya.

Dalam hitungan detik pula, Momo terserang syndrom panik. Keringat sebesar biji jagung meluncur deras dari pelipisnya. Momo terpaku, lalu gemetar, lalu menangis tersedak-sedak hingga bunyi gemeretak toples kaca itu.

Hari ini, subuh-subuh sekali Tauke telah membuka toko, senyumnya mengembang namun tatap nanar matanya tak dapat dipungkiri. Setelah berhari-hari bergelut dengan segala opsi yang paling mungkin untuk ia ambil, Tauke memutuskan menjual semua kacangnya kepada pengusaha muda dari kota itu. Ia akan memulai usaha baru dengan melanjutkan profesi turunan bertani sayur di ladang keluarga.

Tak butuh waktu lama, sebuah mobil pick up berwarna hitam berhenti tepat didepan toko beserta dua orang bertubuh gempal yang siap mengangkut para kacang. Tauke mengelus tiap karung sebagai tanda perpisahan. Akhirnya, dipastikan bahwa hari itu para kacang akan bergabung dengan bahan-bahan lain di sebuah toko nan megah. Momo makin gelisah, berputar-putar otaknya memikirkan bagaimana caranya ia tak ikut terangkut. Tapi….. terlambat!! dua tangan gempal gesit menggotongnya ke bak mobil. Momo berontak, ia menggelinjang namun apalah daya ia hanya sebuah kacang. Momo makin erat memeluk kulitnya, takut-takut perpisahan itu makin jelas di depan mata. Betapa kulit adalah belahan jiwanya, ia begitu mencintai si kulit hingga ia rela tak mengabdi pada manusia demi menua bersama sang kulit.

Di tengah perjalanan pick up berhenti tepat disebuah toko bertuliskan “Rempeyek Kacang Ibuk Nur”. Dua karung kacang tanah diturunkan, Momo tak sempat mengucapkan salam perpisahan atau sekedar melambaikan tangan. Semua bergerak cepat, cekatan dan tak dapat di prediksi. Tau-tau ia telah meluncur di sebuah baskom besar dan siap dikuliti. Para wanita setengah baya itu telah menjejerkan jengkok (sebuah bangku kecil terbuat dari patahan papan) dan mulai mengupas satu persatu kacang di dalam baskom.

“Tidaaaaaaaaaaakkkkkkkkkkkkk” Momo berteriak histeris.

Sepanjang sisa hari itu Momo hanya menangis tersedu, kelu hatinya. Tak henti ditatapnya kulit-kulit kacang yang berserak dilantai, suaranya serak, tak dapat ia mengucapkan betapa cintanya begitu besar pada si kulit. Rupanya si kedelai hitam sedari tadi memperhatikan, pelan ia mendekati Momo.

“Hai manis, sedih nampaknya.” sapanya, yang hanya dibalas tatap sendu.

“Mengapa kau menangisi si kulit padahal kalian memang akan berpisah kapanpun waktunya, itu pasti.” Lanjutnya.

“Karena itulah kesedihanku berlipat-lipat, turun temurun kami selalu dipisahkan, aku mencintainya, aku ingin dunia tahu bahwa kami bisa hidup menua sampai mati.” Jelasnya sembari sesegukan.

Gugu, si kedelai hitam. Menghela napas panjang sembari tersenyum, senyum yang begitu tulus. Sedetik hening.

“Kau tau nak? Dipisahkan atau tidak kau tetap akan mati. Bedanya saat kau memutuskan untuk terus bersamanya, kau hanya akan mati menjadi bangkai. Bukan berakhir di warung-warung dan bermanfaat bagi banyak orang. Coba cermati kembali, dari awal mula kau ditanam hingga akhirnya di panen, proses-proses itu adalah bagian dari perjalanan panjang yang tentunya menuju fase paling akhir yaitu kemanfaatan, tujuan akhir kau diciptakan. Sekian lama kulit itu mengabdi, melindungimu dari serangan-serangan luar. Lalu kau akan menyia-nyiakannya dengan nafsu atas nama cinta? Bukankah itu egois namanya?”

Momo semakin kelu karena menyadari selama ini ia bukan mencintai tapi berambisi. Kesedihan yang berlarut-larut itu lalu menerbitkan berbagai gagasan yang putus asa. Momo kembali menangis, kali ini bukan sebab sedih berpisah namun rasa bersalah yang begitu dalam. Tanpa banyak basa-basi, Gugu menyampaikan satu kalimat bijaknya yang sudah ia simpan sedari dulu. Inilah saatnya, pikirnya.

“Perpisahan memaknai hidup, Kebersamaan melengkapinya” Gugu lalu membusungkan dada, sekian lama dapatlah ia mengucapkan kalimat yang menjadi masterpiece di hidupnya. Momo tersenyum lebar, dipeluknya Gugu hingga hendak terjungkal ke belakang.

Setelah itu, hujan turun hanya seminggu sekali. Petani menyukai situasi ini, tanaman kacang tumbuh subur, berbuah banyak dan dapatlah anak-anak itu bersekolah hingga sarjana. Dunia sepakat berdamai, pertemuan berdamai dengan perpisahan, demonstran berdamai dengan kebijakan, yang belum berdamai hanya mantan kekasih yang dulu dicampakkan.

TAMAT

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.