Feature

Keutamaan dan Tradisi Unik Malam Nisfu Sya’ban Di Desa Krapyak

Pekalongan-Jurnalphona.com Dua minggu menjelang puasa Ramadan, atau tepatnya malam Nisfu Sya’ban identik dengan munajat dan doa. Tidak ketinggalan tradisi unik juga mewarnai setiap daerahnya. Seperti Desa Krapyak, Kecamatan Pekalongan Utara yakni memiliki tradisi open house untuk memperingati malam Nisfu Sya’ban. Tradisi ini dinamai Sya’banan.

Dalam penanggalan Islam (hijriyah), bulan sya’ban termasuk salah satu bulan yang dimuliakan. Hal ini dikarenakan adanya beberapa peristiwa penting dalam sejarah Islam yang menjadikannya istimewa.

Diantara peristiwa penting itu adalah turunnya wahyu yang menjelaskan anjuran bagi umat Islam untuk bersholawat kepada Nabi. Selain peristiwa tersebut, peristiwa yang tidak kalah penting ialah diserahkannya amal ibadah manusia kepada Allah. Nabi Muhammad SAW menjelaskan bahwa pada bulan tersebut seluruh amal manusia dilaporkan kepada Allah dan beliau ingin menutup buku amalnya dengan catatan yang baik dengan berpuasa. Pada malam ini dibuka tiga ratus pintu langit, sehingga di malam ini adalah kesempatan untuk bertaqarrub, meminta ampun kepada Allah SWT. Namun, ada beberapa orang yang tidak terampuni dosanya, salah satunya yaitu orang yang memutus tali persaudaraan.

Dari keseluruhan peristiwa yang menjadikan bulan Sya’ban begitu istimewa, tanpa menafikan peristiwa yang lain, agaknya peristiwa yang terakhir lah yang kemudian sangat berpengaruh pada budaya masyarakat kita, yang kemudian melahirkan tradisi baru.

Seperti yang ada di Desa Krapyak, Kecamatan Pekalongan Utara. Tradisi ini diperkirakan telah ada sejak puluhan bahkan ratusan tahun silam. Salah satu penggagas tradisi ini adalah Mbah Wayah yang telah wafat pada tahun 1900an.

Sudah menjadi tradisi mereka yang tinggal di Desa Krapyak, Pekalongan Utara, memeringati malam nisfu sya’ban atau pertengahan sya’ban dengan tradisi open house atau terima tamu. Pun di malam nisfu sya’ban awal maret 2022 ini. Selepas salat maghrib di malam nisfu syaban, warga kampung berkumpul di Mushala atau Masjid untuk melaksanakan doa bersama dan sholat tasbih. Adapun doa yang dibaca juga bervariasi, membaca surat yasin sebanyak tiga kali terlebih dahulu kemudian dilanjut tahlil dan istighosah hingga kurang lebih pukul 21.00 WIB. Selepas doa dan bermunajat, dilanjutkan dengan mengunjungi saudara-saudara. Kegiatan ini yang akhirnya dinamai syabanan.

Tradisi saling berkunjung ini mungkin terlihat asing bagi masyarakat luar, identiknya kegiatan saling berkunjung dan dilaksanakan pada saat lebaran saja atau yang sering disebut halal bi halal. Pada praktiknya, dua kegiatan ini hampir sama.

Merujuk pada filosofinya, tradisi berkunjung di malam syaban bertujuan menyambung tali persaudaraan bagi sesama muslim. Dan juga sebagai bentuk dari rasa syukur dan permohonan ampunan kepada Tuhan. Menurut Ahmad Asror, salah seorang tokoh agama dan budaya Desa Krapyak menuturkan.

“Tradisi ini adalah bentuk kegembiraan dan permohonan ampun. Dulu, anak-anak suka berkidung atau bernyanyi sebagai ungkapan kegembiraan di malam sya’ban. Sedangkan tradisi berkunjung adalah upaya membangun hubungan vertikal dan horizontal yang kuat. Yakni Habblumminallah dan Habblumminannas,” jelasnya.

Di malam ini, tersaji berbagai hidangan khas daerah Krapyak, sperti rujak, miso dan sebagainya. Tradisi ini telah terjaga dan terus dikembangkan oleh masyarakat sekitar. Rara, selaku masyarakat Desa Krapyak berharap, tradisi syabanan terus berkembang dan selalu terjaga kearifannya.

Penulis: Choerul Bariyah
Reporter: Kharisma Shafrani

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.