Berita Daerah

Sedekah Laut sebagai Ungkapan Rasa Syukur

BatangJurnalphona.com Sedekah laut diadakan oleh para nelayan di Tempat Pelelangan Ikan (TPI) Klidang Lor Batang sebagai ungkapan rasa syukur. Rabu, (25/08).

Setiap masyarakat memiliki berbagai cara dalam mengungkapkan rasa syukurnya kepada Tuhan Yang Maha Esa. Salah satunya adalah dengan menggelar acara tasyakuran. Pelaksanaan tasyakuran berbeda-beda di setiap daerahnya. Contohnya masyarakat pesisir pantai yang mayoritas penduduknya berprofesi sebagai nelayan yang memiliki tradisi unik tasyakuran yaitu larung sesajen.

Larung sesajen adalah kegiatan melarungkan kepala kerbau bersama dengan berbagai hasil bumi lainnya yang diletakkan di replika kapal nelayan. Salah satu warga lokal Klidang Lor, Hamzah, mengatakan larung sesajen bertujuan sebagai ungkapan syukur para nelayan atas limpahan rezeki, keselamatan, dan hasil bumi yang mencukupi. Kegiatan ini biasanya dilaksanakan pada bulan Suro atau Muharram. Dalam kegiatan sedekah laut diawali dengan istighosah di malam hari, masyarakat melaksanakan doa bersama. Esok paginya, usai berdoa bersama beberapa ritual pengantar dilaksanakan seperti memperebutkan makanan (rayahan) dan acara inti pelarungan replika kapal berisi hasil bumi ke tengah laut.

Dahulu masyarakat meyakini sedekah laut sebagai pemberian sesajen kepada penguasa laut, sebagai ucapan terima kasih atas melimpahkanya berkah. Namun seiring dengan perkembangan zaman dan waktu, sedekah laut mengalami perubahan fungsi dan bentuk dari aspek mitologi atau kepercayaan masyarakat. Sedekah laut diyakini masyarakat sebagai ungkapan syukur, yaitu dengan berbagi hasil bumi kepada sesama termasuk makhluk hidup yang ada di laut. Nantinya bahan makanan tersebut akan dimakan ikan atau sejenisnya. Dari segi bentuk, sedekah laut modern kini dibarengi dengan berbagai macam hiburan.

Sedekah laut memiliki nilai pendidikan tersendiri bagi masyarakat, yaitu nilai pendidikan luhur bangsa, pendidikan spiritual, pendidikan etos kerja, pendidikan pelestarian budaya dan pendidikan pelestarian alam. Dilaksanakannya tradisi ini adalah upaya pelestarian budaya sebagai kearifan lokal daerah-daerah di Indonesia. (SP/CB)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.