Artikel Ilmiah Populer,  Essay

Membaca Pesan Tersirat di Balik Tombol Posting Ulang (Repost) di Media Sosial

Kemajuan teknologi dan hadirnya media sosial kini mengubah cara kita berkomunikasi dan menyampaikan pikiran.  Sekarang, mengobrol tidak selalu harus bertatap muka secara langsung, tetapi juga bisa lewat fitur di media sosial seperti TikTok dan Instagram. Meskipun teknologi ini membuat semuanya menjadi lebih efektif, kenyataannya tidak semua orang mudah mengutarakan perasaannya secara terbuka di dunia nyata. Di sinilah fitur postingan ulang (repost) hadir sebagai cara alternatif untuk menyampaikan pesan-pesan tersirat yang sulit diucapkan langsung. Memposting ulang konten orang lain di akun sendiri memang punya dua sisi. Di satu sisi, cara ini sangat efektif dan aman untuk melepas emosi tanpa merasa canggung saat berbicara langsung. Namun di sisi lain, kebiasaan ini sering memicu salah paham, apakah seseorang memang sedang meluapkan isi hatinya secara jujur atau cuma sekadar ingin menjaga image di media sosial.

Mengapa Lebih Memilih Diam Saat Berhadapan Langsung?

Penyampaian isi hati atau perasaan tidak mudah bagi semua orang, Interaksi secara langsung sering kali menimbulkan rasa canggung, ketakutan akan penilaian orang lain, hingga kecemasan sosial (social anxiety) yang membuat seseorang memilih untuk diam daripada salah bicara. Hambatan komunikasi seperti ini membuat banyak perasaan dan pikiran hanya tersimpan di kepala, tanpa sempat tersampaikan. Sehingga beberapa orang memilih mencari jalan pintas untuk tetap bisa bersuara tanpa perlu merasa tertekan. Media sosial seperti TikTok dan Instagram memiliki fitur postingan ulang (repost), bukan sekadar memindahkan konten, tetapi fitur ini menjadi sarana komunikasi nonverbal baru, di mana video orang lain dipakai sebagai “penerjemah” atas apa yang dirasakan.

Peran Fitur Postingan Ulang dalam Mengelola Emosi, Konsep Diri ataupun Sarana Relaksasi Hiburan

Berdasarkan hasil penelitian (Mellisa Putri Adeliana, Mudzanatun, 2022). Fitur postingan ulang di TikTok punya pengaruh yang sangat kuat terhadap cara Generasi Z mengekspresikan diri. Mengungkapkan perasaan lewat postingan ulang terasa lebih nyaman karena video yang dibagikan memang terasa pas dengan kondisi batin pengguna. Pesan emosional tersebut akhirnya bisa tersampaikan secara halus ke teman-teman di media sosial tanpa perlu menanggung rasa canggung akibat bicara langsung. Walaupun durasi videonya singkat, inti perasaan yang ingin disampaikan tetap bisa diwakili dengan baik dan efektif mengurangi beban pikiran. Fitur postingan ulang menunjukkan bahwa tindakan ini tidak selalu dilandasi oleh dorongan emosional yang jujur. Sebagian pengguna memandang postingan ulang sebagai bentuk konsep diri (impression management). Seperti agar terlihat kritis, berwawasan luas, atau mengikuti tren yang sedang hangat. Di luar urusan perasaan dan image, kebiasaan memposting ulang video sebenarnya paling sering dipakai untuk membagikan hiburan dan informasi umum. Ketika video yang diposting ulang berupa hal-hal lucu, fitur ini berfungsi sebagai obrolan ringan yang bisa mencairkan suasana dan bikin pertemanan jadi lebih akrab. Beragamnya pola penggunaan ini membuktikan bahwa satu fitur postingan ulang dapat memiliki makna berlapis-lapis tergantung pada niat penggunanya. Sebuah unggahan bisa bermakna sangat personal dan emosional bagi seseorang yang sedang terluka, bisa menjadi langkah terhitung rapi untuk memoles image ke khalayak publik, atau sekadar hiburan ringan untuk melepas penat di kala senggang.

Sinyal Komunikasi Nonverbal

Fenomena memposting ulang video di media sosial pada akhirnya telah berkembang menjadi bahasa baru dalam komunikasi digital modern. Fitur postingan ulang ini memberikan ruang yang aman dan nyaman bagi individu yang mengalami hambatan dalam berkata-kata agar pesan emosional mereka tetap dapat tersampaikan dan didengar oleh lingkungan sosialnya. Fitur ini juga menjadi wadah pengelolaan identitas diri (impression management) sehingga menjadi instrumen interaksi kausal yang mempererat hubungan pertemanan. Dengan demikian, kebiasaan posting ulang menjadi cermin nyata tentang bagaimana manusia modern mengelola perasaan, identitas, dan hubungan sosial mereka di alam maya.

Referensi

Hapsari, A. W., Nur, A., Sari, A., Hapsari, A. W., Nur, A., & Sari, A. (2024). Jurnal Ilmu Komunikasi , Vol 07 No 01 Tahun 2024 BANJARMASIN universitas Islam Kalimantan Muhammad Arsyad Al Banjary Banjarmasin Diterima : Direvisi : Diterbitkan : Jurnal Ilmu Komunikasi , Vol 07 No 01 Tahun 2024. 07(01), 85–97.

Lusiana, Y., & Paramita, S. (2022). Komunikasi Ekspresif Media TikTok. Kiwari, 1(3), 443–448. https://doi.org/10.24912/ki.v1i3.15762

Mellisa Putri Adeliana, Mudzanatun, & A. T. D. (2022). Educatoria : Jurnal Ilmiah Ilmu Pendidikan. 2(2), 82–101. https://e-journal.lp3kamandanu.com/index.php/educatoria/

Oleh : Daniyatul Jannah

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.