Ketika Sampah Mulai Bertutur, Teater Reaksi Hadirkan Kritik Lingkungan Lewat Monolog
Pekalongan-Jurnalphona.com Pementasan bertajuk Monolog Sampah Bertutur yang diselenggarakan oleh Teater Reaksi di GOR Kampus Universitas Pekalongan (Unikal), Jalan Singasari, Podosugih, Kota Pekalongan, Sabtu (31/11).
Melalui pementasan ini, teater reaksi berupaya mengajak masyarakat untuk lebih peduli terhadap persoalan sampah yang ada di Pekalongan dan Pemalang. Isu ini diangkat melalui pementasan monolog yang menggambarkan bagaimana sampah menjadi bagian dari persoalan lingkungan dan harus ditangani dengan serius.
Sutradara dalam acara teater ini, Ahmad Bukhori mengatakan bahwa tema Monolog Sampah Bertutur dipilih karena masih rendahnya kesadaran masyarakat terhadap persoalan sampah, khususnya di wilayah Pekalongan dan Pemalang.

“Temanya ini bertujuan untuk mengampanyekan ramah lingkungan, terutama mengenai persoalan sampah yang terjadi di Pekalongan dan sekitarnya,” ujarnya.
Tidak hanya itu, monolog berturur sampah ini juga bisa dikaitkan dengan isu politik misalnya ketika masyarakat tidak diperhatikan, diperlakukan seenaknya. kepentingan mereka untuk berkuasa tetapi kepentingan rakyat kecil itu dianggap seperti sampah.
Konsep unik dengan membawa sampah non-organik sebagai tiket mendapat respon positif dari para pengunjung. Di antaranya, Anggun Khoironis dan Dendi Sonia Rofiah.
Anggun mengaku terkesan dengan tiket masuk yang dilakukan panita dengan membawa sampah.
“ Itu sangat kreatif sih kak, menurut saya dengan hanya membawa sampah bisa mendapatkan tiket, bisa menjadikan orang menonton pertunjukkan teater”. ujarnya

Selain itu, Dendi menyadari bahwa teater ini bukan hanya sebagai teater biasa melainkan terdapat ada pesan menciptakan sebuah monolog.
“Pesan dalam teater ini ada banget, bukan sekedar teater biasa melainkan kita bisa melihat perasaan dari sampah yang ada disekitar kita sehingga menghasilkan molonog keren”. tambahnya
Teater Reaksi berharap kesadaran masyarakat khususnya generasi muda terhadap isu ekologi dan pelestarian lingkungan di Pekalongan dan sekitarnya dapat terus tumbuh, serta memicu lebih banyak gerakan kreatif di masa mendatang.
Reporter : Rayhan Fawwas Fatga Pamungkas
Penulis : Devi Auliana


