Berita Daerah

Tahun Baru Imlek dan Perayaannya

PekalonganJurnalphona.com Ketika mendengar kata Imlek, tentunya sudah tidak asing lagi bagi masyarakat Indonesia dengan serba-serbi ciri khasnya, yaitu mulai dari hiasan berwarna merah, lampion, barongsai, kue keranjang, pawai arak-arakan dengan liong atau tarian naga, serta bagi-bagi angpao. Jumat (12/2).


Imlek merupakan suatu perayaan penting bagi masyarakat Tionghoa, karena perayaan Imlek adalah perayaan tahun baru masyarakat Tionghoa. Pada tahun 2021 ini, tahun baru Imlek jatuh pada tanggal 12 Februari 2021 dengan Shio Kerbau. Tahun Baru Imlek di peringati pada hari pertama bulan pertama di penanggalan kalender Tionghoa. Dilihat dari makna kata Imlek sendiri berarti kalender bulan menurut bahasa Tionghoa. Peringatan Imlek ini paling sering dilaksanakan selama 10 hari, dengan macam-macam perayaan seperti, makan-makan bersama keluarga, menjalin silaturahmi dan beribadah.


Makna lain dari Imlek adalah peringatan untuk bersilaturahmi dengan leluhur, orang tua dan juga keluarga. Imlek juga bisa sebagai momentum yang pas untuk berkumpul dan bercengkrama dengan keluarga, yang jauh ataupun dekat untuk beribadah bersama-sama. Selain mengumpulkan keturunan Tionghoa, dengan adanya perayaan Imlek juga menjadi salah satu prosesi masyarakat Tionghoa untuk lebih menguatkan iman kepada dewa-dewa , sehingga untuk menjalani tahun baru kedepan dengan lebih banyak ketenangan dan kedamaian.


Imlek sendiri tidak mematok dengan kepercayaan apa yang dimiliki oleh masyarakat Tionghoa, karena kepercayaan apapun boleh ikut serta dalam perayaan atau peringatan Imlek.


Menurut penuturan Lim Tek Lee (62) selaku pengurus Klenteng Po An Thian, bahwa Imlek tidak termasuk dalam tradisi keagamaan, “Imlek tidak termasuk dalam tradisi keagamaan. Imlek itu tahun barunya orang Tionghoa. Meskipun dari Katolik, Protestan, Kristen, Budha, Konghucu bahkan Islam jika ingin merayakan atau memperingati Imlek itu boleh-boleh saja.”


Perayaan Imlek terlihat sangat mewah dengan nuansa warna-warna yang menyala, seperti contoh warna merah, orange, ataupun kuning. selain itu dengan dilengkapi lilin-lilin, gantungan kunci, boneka ataupun lampion yang senantiasa menghiasi rumah-rumah masyarakat Tionghoa ataupun di Klenteng. Selain pernak-pernik, hal yang paling menonjol ketika Imlek adalah makanan ataupun hidangan yang wajib ada.


Menurut kepercayaan orang Tionghoa, ketika perayaan Imlek hidangan yang harus tersedia adalah hidangan tolak bala atau 12 jenis makanan yang berbeda sesuai dengan 12 Shio yang dipercaya. 12 jenis makanan tersebut biasa terdiri dari kue ranjang, jeruk mandarin, olahan ayam utuh, hidangan mie panjang atau buah-buahan.


Untuk Shio Imlek kali ini adalah Shio Kerbau, yang menurut kepercayaan orang Tionghoa memiliki makna harus bekerja keras dan tidak boleh bermalas-malasan untuk mencapai suatu hal, karena kebiasaan hewan Kerbau adalah bekerja keras. Akan tetapi ada sisi negatif dari Shio Kerbau ini, yaitu bahwa hewan Kerbau memiliki hobi berendam atau bermain air, sehingga itu menjadikan tahun baru ini di wilayah Klenteng Pho An Thian sempat terendam banjir.


“Banjir bakalan datang kalo Shionya bertepatan sama hewan yang suka air, kaya kemarin banjir sempet masuk ke Klenteng. Itu juga pernah terjadi di tahun 90 an. waktu itu Shionya Naga.” Jelas Lim selaku pengurus Klenteng Pho An Thian. (BF/EM)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.