Artikel,  Artikel Ilmiah Populer

Scroll Tanpa Henti, Peduli Semakin Sepi

Bangun tidur, tangan langsung mencari ponsel. Membuka tiktok, Instagram, atau platform lainnya tanpa mengistirahatkan otak sebentar. Satu video usai, jari masih betah untuk menggulir layar. Begitu terus sampai waktu berlalu begitu lama tanpa terasa. Anehnya, di tengah banjir informasi tersebut, kepedulian terhadap orang di sekitar justru bisa semakin berkurang.

Kebiasaan tersebut terlihat sederhana. Namun, jika tidak dicegah, ini akan menjadi sebuah kebiasaan yang sulit dikendalikan. Bagi mahasiswa, melihat lingkungan sekitar yang sibuk dengan ponselnya masing-masing mungkin bukan hal yang asing. Di ruang kelas, kantin, taman, bahkan ketika sedang berkumpul bersama teman, ponsel tetap menjadi teman paling setia bagi pemiliknya.

Menurut Pratama dan Amir (2025), kebiasaan scrolling tanpa henti tidak hanya berkaitan dengan lamanya seseorang menggunakan media sosial, tetapi juga dapat memengaruhi perhatian, pola pikir, kesehatan mental, dan interaksi sosial. Hal menariknya adalah apa yang terjadi pada diri seseorang setelah terlalu lama berada di dalam arus informasi tersebut. Kita mungkin menjadi semakin tahu tentang beberapa hal, tetapi apakah kita juga menjadi semakin peduli terhadap sekitar?

Ketika Jempol Lebih Aktif daripada Perhatian

Media sosial sebenarnya memberikan banyak manfaat. Terutama bagi mahasiswa, untuk mencari informasi, mengikuti perkembangan teknologi, melihat berita, belajar, berkomunikasi, bahkan membangun jaringan. Dalam keadaan tertentu, media sosial juga kerap menjadi sarana untuk menyampaikan kepedulian terhadap berbagai persoalan sosial.

Masalah muncul ketika scrolling tidak memiliki tujuan yang jelas dan terus dilakukan berulang kali. Seseorang menggulir layar terkadang hanya untuk sebuah hiburan, penasaran dengan apa yang akan muncul berikutnya. Akibatnya, orang bisa lupa waktu dan semakin sulit mengendalikan kebiasaan scrolling. Ketika perhatian terlalu banyak terserap oleh layar, hal sederhana yang biasa kita lakukan sering kali terabaikan. Tanpa disadari, kebiasaan melihat ponsel juga dapat memengaruhi kualitas interaksi kita dengan orang lain saat berkumpul bersama teman atau keluarga. Misalnya, kehadiran seseorang bisa terasa kurang berarti ketika perhatian lebih banyak tertuju pada layar. Penelitian tentang phubbing menunjukkan bahwa kebiasaan memperhatikan ponsel ketika sedang berinteraksi langsung dapat mengganggu kualitas hubungan dan membuat orang lain merasa diabaikan. Tinjauan sistematis Jakhar, Gupta, dan Vyas (2026) juga menunjukkan adanya keterkaitan antara penggunaan ponsel dan media sosial yang bermasalah dengan perilaku phubbing.

Namun, bukan berarti setiap orang yang sering scrolling pasti menjadi tidak peduli. Godard dan Holtzman (2024), setelah menganalisis 141 penelitian dengan sekitar 145 ribu partisipan, menemukan bahwa hubungan antara penggunaan media sosial pasif seperti scrolling dengan kesejahteraan tidak sesederhana anggapan bahwa media sosial selalu buruk. Dampaknya dapat berbeda tergantung pada konteks dan cara seseorang menggunakan media sosial. Karena itu, yang perlu diperhatikan bukan hanya berapa lama kita memegang ponsel, tetapi apakah penggunaannya mulai mengambil perhatian dari kehidupan kita.

Pada akhirnya, menggunakan media sosial bukanlah sesuatu yang harus dihindari. Yang harus kita perhatikan adalah jangan sampai layar merebut seluruh perhatian kita. Jangan sampai kita sibuk mengikuti kehidupan orang lain di media sosial, tetapi lupa memperhatikan orang yang berada di dekat kita.

Kepedulian sebenarnya dimulai dari hal-hal sederhana: menyapa teman, mendengarkan teman ketika sedang bercerita, membantu teman ketika kesusahan, dan meluangkan waktu untuk keluarga. Hal-hal kecil tersebut mungkin sederhana, tapi itu adalah bentuk kepedulian yang paling nyata. Scroll boleh tetap jalan, namun jangan sampai kepedulian kita teralihkan.

Penulis: Tri Marhatun

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.