Resensi Buku

Ketika Rumah Tak Lagi Jadi Tempat Yang Aman

Identitas buku:

Judul novel     : Di Tanah Lada

Penulis             : Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie

Penerbit           : Kepustakaan Populer Gramedia (KPG)

Tahun terbit     : Cetakan Pertama, Oktober 2024. Kedua, November 2024. Ketiga, Januari 2025. Keempat, Mei 2025. Kelima, Juni 2025. Keenam, Juni 2025. Ketujuh, Agustus 2025. Kedelapan, Oktober 2025. Cetakan Kesembilan, Oktober 2025. Terbit pertama kali pada 2015 oleh Gramedia Pustaka Utama.

Tebal halaman : 289 hlm

Ukuran buku   : 13,5 cm x 20 cm

Harga buku     : 95.000 (p. Jawa)

ISBN               : 978-623-134-248-5

Dunia anak-anak kerap dicitrakan dengan warna-warni, rasa kegembiraan, rasa kepolosan, dan rasa penuh cinta akan kasih sayang dari keluarga. Bagi mereka, rumah adalah tempat paling hangat untuk tinggal karena di dalamnya terdapat kehangatan bersama orang yang cintanya saling berbalas dengan baik. Tetapi apakah rumah selalu aman bagi anak-anak?

Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie memilih untuk merombak narasi idealis tersebut untuk novelnya yang bertajuk Di Tanah Lada, karya yang berhasil menjadi Pemenang II Sayembara Menulis Novel Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) 2014. Novel edisi cover hitam pekat yang dihiasi ilustrasi dua anak kecil ini hadir bukan semata-mata sebagai dongeng pengantar tidur yang manis, tetapi ibarat cermin retak yang memantulkan kepedihan.

Sinopsis :

Novel ini menceritakan tentang seorang gadis kecil berusia 6 tahun yang sangat cerdas hingga ke mana-mana membawa sebuah kamus kecil bahasa Indonesia pemberian dari kakek Kia. Gadis ini bernama Salva atau kerap dipanggil Ava. Sepeninggal kakeknya, keluarga Ava memutuskan untuk pindah ke Rusun Nero. Di pikiran gadis lucu ini, ia memikirkan bahwa ia akan menempati sebuah bangunan rumah yang kokoh, terdapat banyak mainan, terdapat kasur yang empuk dan nyaman, hingga makanan cepat saji di kala perut keroncongan. Bayangan ini nampak berbanding jauh dengan apa yang ada di benaknya. Di balik dinding rusun yang nampak menyeramkan itu, jelas Ava tidak melihat kedatangan hantu, melainkan Ava menyaksikan hingga menghadapi kekerasan rumah tangga yang dilakukan oleh papanya terhadap mamanya.

Alih-alih nampak kumuh dan menyeramkan di area rusun, Ava bertemu dengan seorang anak laki-laki berusia 10 tahun yang jauh lebih dewasa dari umurnya. Anak laki-laki ini adalah seorang pengamen cilik yang selalu membawa gitar kecil ke mana pun ia pergi. Ia bernama P. Ya, kalian tidak salah mendengar jika namanya hanya satu huruf saja. Kehidupan P berbanding balik dengan Ava. Ia lebih dewasa, paham situasi, terkadang juga menjadi penerjemah Ava di saat ada kosakata baru yang sulit ditemukan di kamus. Sedihnya, P adalah anak yang kehadirannya tidak diinginkan hingga ia mengalami kekerasan yang dilakukan oleh papanya terhadap P.

Meskipun kedua tokoh kecil ini sama-sama terluka akibat rumah yang mereka anggap aman justru berubah menjadi rumah yang tak lagi  menjadi tempat yang nyaman. Ava dan P mampu merajut kehidupan dengan lebih berani, paham situasi hingga dewasa sebelum usianya, menjadi lebih bahagia karena tali persahabatan yang mereka buat, serta menjadi lebih berwarna meski warna dominannya hitam. “Rasanya semakin sulit. Semakin menyakitkan. Tapi tidak apa-apa. Aku bersamanya. Kututup mulut dan hidungnya. Dia menutup mulut dan hidungku. Bintang-bintang berputar di depan mataku. Di matanya. Dan langit di sekeliling kami semakin gelap. Kami saling berpandangan untuk terakhir kalinya”.

Kelebihan :

  1. Sudut pandang yang jarang dieksplorasi, yaitu trauma rumah tangga yang diceritakan dari perspektif anak kecil, sesuatu yang sangat jarang ditemukan dalam buku fiksi mana pun.
  2. Isu sosial yang relevan, novel ini mengangkat isu KDRT dan dampaknya terhadap anak dengan cara yang tidak menggurui, namun tetap aman secara emosional.
  3. Karakter yang kuat, persahabatan antara Ava dan P sangat membekas serta memercikkan rasa emosional bagi pembaca atas apa yang dirasakan oleh keduanya.
  4. Gaya penulis yang khas dan penggunaan definisi kamus sebagai motif berulang memberi tekstur naratif yang unik dan puitis.
  5. Adanya ilustrasi yang memancing imajinasi pembaca, edisi cover hitam pekat ini diselingi dengan gambar-gambar yang sangat tajam menggambarkan apa yang sedang terjadi dengan Ava maupun P, dan pada versi ini juga terdapat ending yang berbeda dengan cover kuning ceria itu.

Kekurangan :

  1. Bagi sebagian pembaca, buku yang disajikan dengan bahasa yang mengalir akan terasa berat baginya karena menggunakan sudut pandang anak-anak dengan rasa penasaran hingga kepolosan yang tinggi.
  2. Alur cerita yang cukup lambat untuk mengungkap suatu plot, sehingga dapat menguji emosi pembaca yang sering terbiasa dengan versi low plot.
  3. Terlalu sering menyajikan kosakata kamus, sehingga sebagai pembaca kadang teralihkan fokusnya akibat terjebak memikirkan kata apa yang sedang dimaksudkan.

Kesimpulan :

Di Tanah Lada adalah sebuah karya sastra yang amat berani dan penting untuk dibaca oleh siapa saja yang ingin memahami isu KDRT dari sudut pandang yang jarang diangkat, yakni mata seorang anak kecil. Di Tanah Lada bukanlah sebuah simbol  atas tempat di mana mereka bisa terbebas dari luka, perlakuan kasar, serta menemukan kehangatan dan rasa aman yang tak pernah mereka dapatkan dari orang tua mereka. Ini adalah rasa dari Lada yang sangat pedas, panas, dan menggigit. Ini merupakan bentuk ironi sekaligus gambaran realitas kehidupan Ava dan P yang perih, pahit, dan dipenuhi kekerasan dari orang tua.

Ziggy berhasil menunjukkan bahwa cerita tentang anak-anak tak selamanya berakhir bahagia, melainkan bisa menjadi medium kritik yang ampuh terhadap kebrobokan dunia orang dewasa. Edisi cover hitam pekat ini berhasil menggambarkan isi buku secara sempurna, yakni sebuah kisah tentang dua jiwa kecil yang berusaha menyalakan lampu di tengah kegelapan. Ziggy juga berhasil membuktikan bahwa rumah tak selalu menjadi tempat teraman bagi seorang anak, dan keberanian bisa lahir dari luka yang paling dalam sekalipun.

Ulasan oleh : Jazirotun Na’imah

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.