Cerpen,  sastra

Ruang Tengah yang Tak Pernah Kosong

Suara langkah kaki terdengar dari arah kamar, ia mendekat. Aku masih duduk di ruang tengah sambil memegang pena dan sedikit menggoreskannya ke dalam kertas diatas meja kaca berwarna coklat kayu.

“Ella..”

Suara itu terdengar tidak asing, aku menoleh.

“El, aku boleh cerita?”
Aku tersenyum kecil lalu meletakkan pena di atas buku harian yang penuh dengan coretan.

“Boleh. Cerita aja.”

Begitulah aku.

Namaku Ella, anak kedua dari tiga bersaudara. Sejak kecil, aku terbiasa menjadi tempat seseorang untuk bercerita. Bukan, aku bukan psikolog, aku hanya anak tengah yang menantikan giliran untuk bercerita, mengeluarkan suara tanpa harus disela.

Kakakku, Tina. Selalu datang untuk bercerita tentang hubungan percintaannya. Adikku, Riki. Sering mengadu tentang hal-hal kecil yang terjadi di sekolah. Bahkan Ayah dan Ibu terkadang ikut bercerita tentang masalah mereka masing-masing.

Dan setiap kali mereka datang. Jawabanku tetap sama.

“Iya boleh, cerita aja.”

Entah sejak kapan aku menjadi orang yang sering mereka datangi ketika ingin bercerita.

Tina mulai bercerita tentang masalahnya. Aku mendengarkan sampai selesai, sesekali memberikan pendapat. Setelah selesai, Tina mengucapkan terima kasih sambil mengusap air mata yang sedari tadi jatuh membasahi pipi kanan dan kirinya.

Tidak lama kemudian, Riki datang dengan membawa kertas berisikan informasi bimbel.

“Kak Ella..”

Aku tersenyum kecil.

“Iya, kenapa dik?”

Ia duduk di sampingku dan mulai bercerita tentang kertas yang dibawanya tadi. Aku mendengarkan dengan seksama, sesekali melihat dan membolak-balikkan kertas itu.

Malamnya, setelah makan, Ibu juga bercerita kepadaku tentang sesuatu yang membuat dirinya khawatir.

Seperti biasa, setelah itu rumah mulai sepi, aku kembali ke ruang tengah. Lampu kuning masih menyala, televisi sudah dimatikan. Tidak ada siapapun yang berada di sana.

Untuk pertama kalinya di hari itu, aku bisa mendengar semua suara yang ada di kepalaku, seolah-olah memarahi diriku yang terlalu keras terhadapnya.

Aku berdiri, memandangi sofa yang sejak tadi menjadi tempat orang-orang singgah lalu pergi.

“Haha”
Aku tertawa, bukan lucu namun hampa.

Ruang tengah ini tidak pernah kosong. Tapi kenapa aku merasa sendirian?

Aku berjalan menuju sofa, mengambil bantal dan memeluknya erat. Ada banyak hal yang sebenarnya ingin kukatakan. Tentang rasa lelah, ketakutanku jika suatu hari aku mengecewakan semua orang. Hingga keinginanku untuk sesekali tidak menjadi orang yang harus selalu mengerti.

Bahkan aku tidak tahu harus mulai dari mana.
“Kalau aku cerita, siapa yang mau dengar?” bisikku pelan sambil menatap foto keluarga yang tersemat di dinding berwarna putih.

Tidak ada jawaban.
Hanya suara jam dinding yang terdengar semakin jelas.

Keesokan harinya, aku menjalani hari seperti biasa. Disekolah, aku belajar dan bermain dengan teman-teman. Di rumah, aku kembali sendirian dan selalu mendengarkan cerita orang lain.

Sampai suatu malam, ada sesuatu dalam diriku yang ingin berhenti.

Adikku datang membawa ceritanya lagi.
“Kak, aku boleh cerita sebentar?”

Aku menatapnya. Tidak langsung ku jawab pertanyaannya. Biasanya, aku langsung menjawab iya.

Namun, malam itu entah kenapa, aku justru ingin sekali berkata,

“Sebentar.”
Ia terdiam dan menatapku, seolah tidak terbiasa mendengar jawaban itu dariku.

Aku menghela nafas berat.

“Boleh ga? Kali ini aku yang cerita dulu?”

Dia menganggukkan kepalanya.

“Boleh.” katanya.

Entah kenapa aku tidak langsung berbicara, mataku terasa panas bibirku gemetar. Bulir air mata mulai berjatuhan, dada terasa sesak.

Aku mulai bercerita.
“Aku…”
Suaraku terdengar kecil.

Riki yang sejak tadi menatapku kini mulai terlihat khawatir.
“Kak Ella kenapa?”

Aku menggelengkan kepala pelan. Air mataku semakin deras.
“Aku cuma…capek, Ri.”
Riki terdiam.

Aku menarik nafas kembali, lalu mulai bercerita.
Tentang semua hal yang selama ini aku simpan sendiri, tentang bagaimana aku harus selalu kuat hanya karena orang-orang terbiasa melihat diriku baik-baik saja, tentang hal-hal yang terjadi di sekolah. Tentang rasa takut mengecewakan orang lain.

Awalnya canggung, namun semakin lama, kata-kata itu terus mengalir begitu saja dari mulutku.

Riki tidak menyela.

Ia mendengarkan dengan mata yang mulai berkaca-kaca.
Didengarkan.

“Selama ini kak Ella ngerasain itu semua sendirian?”
Aku mengangguk.
Adikku menunduk. Ia tamoak bingung, mungkin juga merasa bersalah.

“Kok kakak ga pernah cerita?”
Aku tersenyum kecil di antara tangisanku.

“Gatau, rasanya aneh kalau aku cerita. Mungkin karena aku udah terbiasa dengerin orang lain.”
Adikku mengusap matanya.

“Kak Tina…”
Ia berdiri, lalu beranjak menuju kamar Tina.
Beberapa saat kemudian, Tina datang menghampirinya.
“Kenapa, Ri?” tanyanya dengan wajah panik.

Riki menunjuk ke arahku.
“Kak Ella nangis.”

Kak Tina langsung menatapku. Tatapannya berubah ketika melihat wajahku yang basah oleh air mata.
“El?”
Aku tidak langsung menjawab.
Ia duduk di sampingku dan menggenggam tanganku.

“Kenapa El? Ada masalah?”
Untuk kedua kalinya malam itu, aku kembali bercerita.
Kali ini di depan Kakak.
Tentang hal-hal yang selama ini tidak pernah bisa kukataka, bahkan kepadanya.

Tidak lama kemudian, Ibu dan Aya datang setelah mendengar suara kami di ruang tengah. Ibu segera duduk disampingku.

“Kenapa, Nak?”
Aku menatap mereka. Rasanya sulit sekali mengeluarkan suara, tetapi kali ini aku mencoba.
“Aku cuma… pingin didengerin.”
Kalimat itu keluar begitu saja.

Ruangan mendadak hening.
Tidak ada yang menyela. Tidak ada yang memberiku nasihat. Mereka hanya mendengarkan.
Untuk pertama kalinya, aku tidak perlu menjadi orang yang paling mengerti. Tidak perlu berpura-pura baik-baik saja. Tidak perlu menyembunyikan apa yang aku rasakan.

Ibu meraih tanganku dan menggenggamnya dengan penuh kehati-hatian.
“Ella, maaf,” ucap Ibu lirih. “Ibu kira selama ini kamu baik-baik aja.”

Aku tersenyum hambar sambil menggelengkan kepala.
“Gapapa bu..”

“Tapi mulai sekarang,” kata Ayah, suaranya terdengar pelan,
“kalau kamu ingin cerita jangan di pendam sendiri, cerita ke ayah atau ibu. Maaf selama ini ayah ga pernah tau kalau kamu juga ada masalah.”

Aku mengangguk

“Terima kasih, Yah.”
Malam itu, entah kenapa rasanya hangat sekali. Duduk bersama lebih lama dari biasanya. Tidak ada yang terburu-buru beranjak pergi ke kamar. Tidak ada yang sibuk dengan urusannya masing-masing.

Ruang tengah itu masih sama. Namun, malam itu terasa berbeda. Ruang tengah yang selama ini menjadi tempat semua orang memberikan ceritanya, akhirnya menjadi tempat ceritaku juga. Rasa yang selama ini aku nantikan akhirnya datang juga. Ruang dengan arti “Rumah” yang sebenarnya.

Menjadi tempat bersandar bagi seseorang bukan berarti harus selalu terlihat kuat. Sesekali, kita juga boleh bersandar.

Penulis : Silviana Ayu Safitri

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.