Artikel Ilmiah Populer

Menyembunyikan Lelah Di Balik Kata “Aku Baik-Baik Saja”

“Kamu kenapa?”
“Nggak apa-apa”
“Beneran?”
“Iya, aku baik-baik saja”
“Aku baik-baik saja” sering sekali diucapkan, tetapi apakah itu sebuah kenyataan atau hanya pernyataan? Dalam kehidupan sehari-hari, terutama dikalangan anak muda kata “aku baik-baik saja” sering menjadi jawaban otomatis. Padahal, bagi sebagian orang, di balik jawaban tersebut mungkin ada rasa kesepian, banyak pikiran, atau hanya sekadar tidak punya energi untuk mengutarakan apa yang dia rasakan.

Ada kalanya seseorang memang benar baik-baik saja, namun sebagian orang menggunakan kalimat tersebut karena belum siap menceritakan apa yang dia rasakan. Karena tidak semua orang terbiasa bercerita, tahu caranya memulai cerita, kepada siapa akan bercerita, dan tidak biasa mengungkapkan apa yang dia rasakan.

Mengapa banyak orang justru memilih mengatakan “aku baik-baik saja” tetapi sebenarnya menyembunyikan masalah? Menurut penelitian Muzakki dan Shanti (2022) terhadap 391 mahasiswa menunjukkan adanya hubungan antara persepsi terhadap komunikasi suportif dan keterbukaan diri. Dengan kata lain, cara seseorang menerima komunikasi dari orang terdekat dapat berkaitan dengan kesediaannya untuk membuka diri. Seseorang terkadang memilih diam karena takut tidak dipahami, takut dihakimi atau hanya sekadar merasa tidak nyaman.

Sehingga mengatakan “aku baik-baik saja” terkadang menjadi pilihan terakhir untuk mengakhiri sebuah pertanyaan ketika seseorang belum mampu mengungkapkan apa yang dia rasakan. Menurut Costello, dkk. (2024). Ada proses keterbukaan diri atau self-disclosure, yaitu ketika seseorang mulai membagikan informasi yang lebih personal kepada orang lain. Artinya, ketika seseorang merasa berada dalam hubungan yang aman dan suportif, ia dapat lebih nyaman untuk membuka diri. Sebaliknya, pengalaman membuka diri yang mendapat respons positif juga dapat membuat hubungan menjadi lebih dekat.

Tetapi apakah kita sudah menjadi tempat yang nyaman untuk bercerita? Terkadang kita menjadi alasan seseorang tidak mau terbuka dengan kita. Karena mungkin tanpa sengaja kita menghakimi, membandingkan, atau terlalu cepat memberikan nasihat. Terkadang respons seperti “jangan terlalu dipikirin”,”itu masih mending, aku dulu lebih parah” membuat seseorang berhenti bercerita dengan kita. Padahal mungkin dia tidak sedang mencari solusi, dan hanya ingin didengarkan. Memberikan ruang tanpa memaksa terkadang menjadi pilihan yang terbaik. Karena setiap orang mempunyai hak untuk menentukan kapan dan dengan siapa mereka mau terbuka.

Kita tidak benar-benar tahu apa yang ada di balik kata “aku baik-baik saja. Mungkin dia memang baik-baik saja atau dia menyembunyikan rasa lelahnya. Kita tidak mengetahui apa yang seseorang rasakan. Namun, kita bisa memberinya rasa nyaman hingga dia tidak merasa sendirian, dan memutuskan untuk bercerita. Kita tidak perlu memaksanya, kita hanya perlu hadir ketika dia mau terbuka. Karena menjadi tempat bercerita bukan seberapa pandai kita memberikan nasihat, terkadang cukup hanya mendengarkan tanpa menghakimi.

Oleh : Siti Khotimah

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.