Cerpen,  sastra

Simbiosis Kecerobohan

Jika ada satu hal yang konsisten dalam hidup Kanaya, itu adalah kemampuan ajaibnya untuk menghilangkan benda-benda kecil di rumah. Ibu Lastri, ibunya, bahkan sering berseloroh dengan wajah serius, “Kalau kepalamu tidak menempel di leher, pasti sudah tertinggal di angkot sejak lama.” Naya tidak bisa menyanggah ucapan itu. Faktanya, urusan mencari barang terselip sudah menjadi ritual wajib yang menyita waktunya hampir setiap hari. Namun, Naya selalu merasa omelan ibunya adalah bentuk ironi paling lucu. Sebab Ibu Lastri adalah sang maestro kecerobohan dan Naya hanyalah murid setianya. Setiap pagi selalu ada keheningan yang pecah oleh teriakan panik sang ibu yang mendadak amnesia akan letak barang-barangnya sendiri.

“Naya! Di mana ponsel ibu? Perasaan semalam ibu letakkan di meja makan!”

Suara Ibu Lastri melengking, memaksa Naya yang baru menyendok makanan ke mulut untuk siaga satu. “Tolong carikan dulu! Ibu sudah telat ke sekolah ini!” Maka pada saat itu juga, dimulailah ritual perburuan nasional. Kamar tidur dibongkar, kolong sofa diraba, bahkan sampai ke dapur pun diperiksa. Ujung-ujungnya, benda persegi panjang itu ditemukan di tempat paling tidak masuk akal di dalam kulkas, mengerut kedinginan di samping botol sirup. Ibu Lastri hanya meringis, baru ingat kalau semalam ia mengambil kecap sambil asyik bermain ponsel.

Belum sempat Naya kembali duduk untuk sarapan, ibunya berteriak lagi, “Kanaya! Di mana kunci motor? Ibu sudah terlambat!” Naya menarik napas dalam-dalam. Di halaman, motor Ibu Lastri terparkir tenang dengan kunci yang bertengger manis di dasbor sejak kemarin sore. Sang maestro kembali lupa mencabutnya.

Dan pagi ini, kutukan lupa itu berbalik menjemput Naya di detik paling krusial. Pukul 06.35. Layar ponselnya berkedip, memberi peringatan bahwa dua puluh sembilan kilometer bentangan aspal menuju kampus sudah menunggu untuk dibelah. Naya butuh waktu empat puluh lima menit berkendara dengan kecepatan nekat untuk bisa selamat sampai parkiran. Masalahnya, jam pertama hari ini dikuasai oleh dosen killer yang jam tangannya tidak pernah berkompromi. Aturan beliau saklek terlambat dua menit, pintu kelas akan menjelma menjadi dinding batu yang terkunci dari dalam.

Naya sudah rapi berbalut jaket abu-abu kesayangan. Namun, tepat ketika tangannya meraih helm, dunia mendadak abstrak. Kalender di dinding tampak seperti cat air yang diguyur hujan. Pohon mangga di halaman menjadi gumpalan hijau raksasa yang kabur. Otaknya terlambat menyadari bahwa kacamata minus empatnya tertinggal di kamar.

Tanpa bingkai cokelat di hidung, dunianya kehilangan resolusi. Naya berbalik arah dengan panik yang mulai merayap ke tenggorokan. Langkahnya limbung, beberapa kali menyenggol kusen pintu karena matanya gagal menebak jarak dengan akurat. Kamar tidur yang semula rapi kini terlihat seperti lukisan buram yang membingungkan. Ingatannya melayang pada pukul satu dini hari, saat ia menutup laptop setelah merampungkan tugas artikel. Seharusnya kacamata itu ada di samping laptop. Namun, ketika jemarinya meraba permukaan meja belajar, yang ditemukan hanya tumpukan buku yang dingin dan kertas binder yang berserakan. Kosong.

Kepanikan adalah sutradara yang buruk yang membuat Naya mengacak-acak kamar secara brutal. Bantal dan guling berterbangan ke lantai. Ia bahkan rela menempelkan pipi ke ubin yang dingin, tiarap demi melongok ke kegelapan kolong tempat tidur. Saat memutar tubuh dengan gerakan terlalu kasar, siku kirinya menghantam sesuatu. “Pletak! Brak!”

Bukannya menemukan kacamata, ia justru menjatuhkan gelas plastik sisa es kopi semalam. Cairan pekat berwarna cokelat itu langsung mengalir subur, melahap tugas-tugas kuliahnya di lantai. Kamar dalam sekejap bertransformasi menjadi zona bencana yang basah dan lengket.

Napas Naya kian memburu. Ia melirik jam tangan: 06.45. Sepuluh menit berharga sudah hangus terbakar. Pada puncak keputusasaan, ia kembali meraba meja belajar secara acak. Kali ini, takdir seakan kasihan. Jemarinya menyentuh lekukan plastik yang tersembunyi di balik lipatan jaket yang teronggok. Bersyukur, Naya segera memakai benda itu. Dunia seketika kembali tajam dan beresolusi tinggi. Ia bisa melihat dengan jelas betapa hancurnya kamarnya sekarang, tapi persetan dengan itu semua. “Aku harus pergi!” gumamnya tegang.

Mesin motor menjerit tanpa pemanasan, langsung dipaksa membelah jalanan pagi. Sialnya, jarum indikator bensin sudah berada di titik sekarat, memaksa Naya melipir sejenak ke SPBU terdekat sebelum melanjutkan misi bunuh dirinya di jalanan. Di balik kaca helm, otaknya sibuk mengalkulasi rute. Ada dua pilihan jalur: jalur utama yang lurus namun kerap berubah menjadi monster kemacetan dipenuhi truk besar, atau jalur alternatif pinggiran melintasi perkampungan yang lebih pendek namun jalannya berkelok-kelok.

“Pintas saja!” putusnya karena panik.

Keputusan yang lahir dari kepanikan jarang berakhir manis. Jalur alternatif memang sepi dari kendaraan besar, tetapi hujan semalam menyisakan lubang-lubang tersembunyi yang kini menjelma menjadi jebakan air sewarna susu cokelat. Fokus Naya terbelah antara ketakutan terlambat dan jalanan di depan mata. Ia terlalu sibuk melamun sampai tidak menyadari motornya sudah melesat di sebuah tikungan tajam yang menurun dengan kecepatan lima puluh kilometer per jam.

Tepat dua meter di depan, sebuah kubangan raksasa menganga lebar.

“Rem!” teriak sebuah suara di dalam kepalanya. Tangan kanannya meremas tuas rem secara brutal.

Itu adalah kesalahan mahal. Di atas aspal yang basah dan licin, ban belakang motornya kehilangan cengkeraman dan bergeser liar. Demi menahan bobot kendaraan yang oleng, Naya menurunkan kaki kanannya ke aspal. Cebur! Kaki kanannya mendarat tepat di episentrum lubang berisi air lumpur sedalam mata kaki.

“Ya ampun, Mbak, hati-hati! Kok bisa jatuh?” seru beberapa warga setempat yang langsung sigap membantu menaikkan motor Naya ke tempat yang kering.

Air cokelat pekat itu sukses membasahi ujung celana jin dan sepenuhnya menenggelamkan sepatu kain kesayangan Naya. Sensasi dingin yang lengket langsung merembes masuk memeluk kaus kakinya. Setelah berterima kasih dengan tergesa-gesa, Naya melirik jam: pukul 07.15. Waktu tinggal lima belas menit lagi, sementara kampus masih berjarak sembilan kilometer. Tidak ada waktu untuk meratapi sepatu yang hancur. Ia terpaksa melaju membelah sisa jarak dengan satu kaki yang basah kuyup, mengabaikan tatapan aneh dari pengendara lain di lampu merah.

Begitu sampai di kampus, Naya berlari mendaki anak tangga menuju lantai tiga. Koridor gedung kuliah yang sunyi mendadak diramaikan oleh langkah kaki yang berbunyi “plok, plok, plok” secara konstan. Di depan ruang kelas, napasnya terengah-engah. Pintu kayu berpelitur cokelat itu sudah tertutup rapat. Naya melirik jam di pergelangan tangan pukul 07.35. Terlambat lima menit.

Dengan tangan gemetar, Naya mengetuk pintu dan membukanya perlahan. Sosok dosen itu berdiri tegak di depan kelas, menatap Naya dari balik kacamatanya dengan pandangan yang sanggup mengintimidasi seisi ruangan. Ruang kelas yang tadinya riuh langsung senyap seketika.

“Kenapa terlambat?” tanya beliau, suaranya datar namun tajam.

“Maaf, Pak. Tadi… kacamata saya sempat hilang, dan di jalan saya sempat terjebak…” Kalimat Naya mati di udara. Rasanya terlalu konyol untuk menceritakan detail kecerobohannya di depan pria sedingin beliau.

Pandangan dosen itu perlahan turun ke bawah, tepat ke arah kaki kanan Naya yang basah dan meninggalkan noda cap kaki lumpur di atas keramik putih yang mengkilap. Beliau terdiam beberapa detik, lalu menghela napas panjang, sebuah gestur yang membuat Naya bersiap untuk balik kanan dan pulang.

“Saudari Kanaya, silakan masuk. Bersihkan lantai yang kotor itu setelah kelas selesai,” ucap dosen itu akhirnya. Sebuah mukjizat kecil yang sama sekali tidak terduga.

Kanaya mengangguk cepat. Wajahnya memanas karena malu yang luar biasa. Saat melangkah masuk menuju satu-satunya bangku kosong di barisan belakang, suara “melesek, melesek” dari sepatu yang seharusnya kembali menggema di kelas yang hening memancing senyum tertahan dari teman-teman sekelasnya. Kecerobohan pagi ini memang sukses mengacak-acak kamar, menumpahkan kopi, dan menghancurkan sepatu kesayangannya. Namun, sambil merasakan dinginnya air genangan yang mulai mengering di kaki, Naya berjanji pada diri sendiri di dalam hati.

Mulai besok, aku akan mengikat kacamata ini di leherku. Dan mungkin, aku juga harus mulai mengikat kunci motor ibu di pergelangan tangannya sendiri, agar kutukan pelupa ini tidak melahirkan efek domino yang gila di kemudian hari.

Penulis : Fadiyah Almas Syafiqoh

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.