Cerbung

SoftNews
Jurnal Phona

Sharing Session and Collaboration: Maha Radio Luncurkan Program Baru bersama berbagai HMPS UIN GusDur

Pekalongan–jurnalphona.com Divisi Broadcasting Radio HMPS KPI UIN K. H. Abdurrahman Wahid Pekalongan memiliki program baru yaitu berupa siaran spesial kolaborasi dengan berbagai Himpunan Program Studi (HMPS) yang ada di UIN Gus Dur. Program baru yang dimulai dari 5 November ini, bertujuan memberikan kesempatan untuk saling bertukar cerita antar lintas HMPS yang ada di UIN Gus Dur. Beberapa HMPS yang menjadi tamu undangan yaitu dari HMPS Tadris Bahasa Inggris (TBIG), Hukum Ekonomi Syari’ah (HES), Manajemen Dakwah (MD), dan beberapa HMPS lainnya. Program ini diharapkan dapat menjangkau audiens lebih luas, serta langkah awal pengenalan kepada seluruh warga UIN Gus Dur, bahwa terdapat sebuah program siaran radio, yaitu “Radio Mahasiswa” dari HMPS Komunikasi dan Penyiaran Islam (KPI). Penulis & Reporter: WIji Indah Prasetya

Read More »
Essay
Jurnal Phona

Langkah-langkah Jurnalis dalam Menjaga Keakuratan Berita Radio dan Televisi

Masyarakat sangat membutuhkan informasi yang cepat dan terverifikasi. Tidak hanya itu, masyarakat juga membutuhkan kemasan informasi yang mudah dimengerti dan menarik. Maka dalam hal ini, peran jurnalis sangat penting dalam membuat berita radio dan televisi yang berkualitas. Berita yang disampaikan oleh jurnalis harus dipastikan oleh jurnalis itu sendiri agar akurat, benar, dan memenuhi objektivitas dan indepensi (prinsip etika jurnalis). Berita hoaxatau palsu sering beredar di zaman sekarang, maka jurnalis juga harus bersikap kritis mengenai sumber berita atau informasi mereka (M. Agung Dharmajaya, 2024). Selain jurnalis, masyarakat juga perlu kesadaran untuk mengantisipasi berita hoax dengan cara meningkatkan literasi, agar mengetahui bagaimana cara menghindarinya dan mengetahui dampak negatifnya. Peran pemerintah juga sangat penting dalam mengantisipasi hoax, dengan cara membuat aturan yang mengatur tentang penyebaran hoax dan mereka yang telah menyebarkan informasi hoax wajib diberi sanksi yang tegas (Putra, 2024). Berikut ialah langkah-langkah jurnalis dalam menjaga keakuratan berita radio dan televisi. Pertama, perlu adanya proses verifikasi yang bertahap. Proses ini penting dilakukan untuk memastikan keakuratan berita sebelum berita dipublikasikan. Berita tidak boleh ditelan mentah-mentah dari reporter yang bertugas di lapangan. Setiap berita harus diserahkan ke editor terlebih dahulu untuk memastikan sumber yang reporter dapatkan dapat dipercaya dan dipertanggungjawabkan. Setelah itu, melakukan pengecekan melalui perangkat lunak verifikasi berita, misalnya deteksi plagiarisme dan pencarian fakta. Melalui teknologi modern ini, editor dapat terbantu dalam pemeriksaan data dan keaslian sumber yang diperoleh. Setelah melakukan verifikasi bertahap, memenuhi standar jurnalistik, dan memberikan jaminan kepada masyarakat bahwa berita yang mereka terima itu akurat, maka jurnalis dan timnya akan terjaga kredibilitasnya. Kedua, menerapkan standar jurnalisme yang ketat. Menjaga kredibilitas dan integritas merupakan esensial dari menerapkan standar jurnalisme yang ketat. Setiap jurnalis wajib mematuhi dan memahami etika dan prinsip-prinsip jurnalis, seperti kejujuran dalam melaporkan, memberikan informasi yang akurat, dan bertanggung jawab untuk menyajikan berita yang seimbang. Jurnalis wajib mengikuti pelatihan agar terus bekembang dan tidak ketinggalan zaman, seperti kursus online, workshop, dan seminar. Adapun dari redaksi juga mengawasi ketat, sehingga jurnalis tetap mematuhi prosedur yang ada. Ketiga, memastikan sumber atau narasumber yang dapat dipercaya. Setiap jurnalis wajib memastikan berita yang mereka peroleh berasal dari sumber yang dapat diakui keasliannya dan memiliki reputasi yang baik. Sumber-sumber ini dapat berupa data dari lembaga penelitian yang dapat dipercaya, laporan sah dari pemerintah, dan wawancara langsung dengan orang yang bersangkutan maupun saksi mata. Dengan mengedepankan sumber yang sah dan dapat dipercaya, maka integritas jurnalis akan terjaga.   Keempat, melakukan pelatihan dasar dan pengembangan sikap profesionalitas. Dengan diadakannya pelatihan dan pengembangan sikap profesionalitas, dapat dipastikan bahwa berita yang dibawakan oleh jurnalis dapat terjaga keakuratannya. Hal ini dapat diterapkan melalui pelatihan cara melaporkan dan membacakan berita, seperti nada atau intonasi pembacaan, gerak badan, dan sebagainya. Dengan terus melatih para jurnalis, mereka dapat terampil dalam menghadapi berbagai situasi yang ada di lapangan nantinya. Kelima, koreksi dan feedback dari publik. Salah satu langkah terpenting dari terjaganya keakuratan berita ialah membuat interaksi terhadap publik. Jurnalis bisa berkomunikasi dengan publik melalui saluran komunikasi yang mudah dijangkau, misalnya di kolom komentar, formulir online, dan email. Dengan adanya akses komunikasi tersebut, publik dapat berperan aktif dalam menilai kualitas dan memantau informasi yang diberikan jurnalis. Sebagai bentuk menghargai masukan dari publik, kita dianjurkan untuk membalas cepat dan apabila ada kesalahan wajib diperbaiki segera. Dengan demikian, publik akan merasa dihargai dan akan tetap loyal terhadap jurnalis tersebut (Desty Rahayu Ningrum, 2024). Penulis: Marchella Dika Aristawidya

Read More »
Artikel Ilmiah Populer
Jurnal Phona

Manfaat Berjemur Sinar Matahari di Pagi Hari

Berjemur di bawah sinar matahari pagi sekitar pukul 07.00–09.00 memberikan berbagai manfaat kesehatan yang didukung oleh penelitian ilmiah. Diantara manfaatnya adalah, sebagai berikut: Meningkatkan Vitamin D Sinar UVB membantu tubuh memproduksi vitamin D, yang penting untuk kesehatan tulang, penyerapan kalsium, dan sistem kekebalan tubuh. Kekurangan vitamin D sering terjadi pada orang yang jarang terkena sinar matahari. Menguatkan Sistem Imun Vitamin D berperan dalam mengatur respons imun. Paparan matahari secara rutin dapat membantu tubuh melawan infeksi dan menjaga daya tahan. Menjaga Mood & Kesehatan Mental Sinar matahari meningkatkan produksi serotonin, hormon yang membuat suasana hati lebih stabil dan mencegah stres atau depresi ringan. Mengatur Ritme Tidur Cahaya matahari memberi sinyal pada otak untuk mengatur jam biologis tubuh. Berjemur pagi membantu tidur lebih nyenyak pada malam hari. Penulis: Marchella Dika Aristawidya

Read More »
Essay
Jurnal Phona

Moderasi Beragama sebagai Pilar Persatuan dalam Kehidupan Multikultural Indonesia

Indonesia merupakan negara yang dikenal memiliki tingkat kemajemukan yang sangat tinggi. Keanekaragaman agama, budaya, bahasa, suku, dan ras merupakan realitas sosial yang membentuk karakter bangsa ini sejak lama. Namun, keberagaman tersebut tidak selalu berjalan tanpa tantangan. Di berbagai daerah, konflik bernuansa agama maupun etnis masih kerap muncul dan menimbulkan ketegangan dalam kehidupan bermasyarakat. Karena itu, diperlukan suatu pendekatan sosial dan nilai dasar yang mampu menjaga keseimbangan hubungan antar kelompok—salah satunya melalui penerapan moderasi beragama. Secara konsep, moderasi beragama merupakan cara pandang, sikap, dan praktik beragama yang menghindari ekstremisme, baik dalam bentuk fanatisme berlebihan maupun sikap intoleran terhadap pihak lain. Moderasi tidak berarti mengurangi esensi ajaran agama, melainkan menempatkan agama pada posisi yang proporsional dan kontekstual dalam kehidupan sosial. Dalam konteks Indonesia, moderasi beragama menjadi kunci untuk menciptakan harmoni di tengah keberagaman dan untuk menjaga stabilitas sosial yang selama ini menjadi kekuatan bangsa. Dari perspektif sosiologi, agama dipandang sebagai institusi sosial yang memiliki peran penting dalam membentuk struktur sosial dan pola perilaku masyarakat. Agama bukan hanya sistem keyakinan personal, tetapi juga pedoman sosial yang mempengaruhi hubungan antar manusia. Hal ini sejalan dengan pemikiran Max Weber yang menekankan bahwa tindakan manusia seringkali dibentuk oleh nilai, kepercayaan, dan makna sosial yang melekat dalam masyarakat. Dengan demikian, memahami agama dari sudut pandang sosiologi memungkinkan kita melihat bagaimana ajaran keagamaan mempengaruhi tindakan sosial, interaksi antar kelompok, serta proses terbentuknya harmoni dalam masyarakat multikultural (Sumirat, 2022). Moderasi beragama memiliki relevansi besar dalam konteks Indonesia. Sebagai negara dengan enam agama resmi, interaksi antar pemeluk agama tidak dapat dihindarkan. Tanpa adanya sikap saling menghormati, perbedaan keyakinan dapat memicu konflik horizontal. Oleh karena itu, moderasi beragama berfungsi sebagai jalan tengah dalam memahami dan menyikapi perbedaan tersebut. Sebagaimana dijelaskan Hamali (2017), agama memberikan nilai moral yang dapat memperkuat solidaritas sosial, dan ketika nilai tersebut diterapkan secara moderat, hubungan sosial dalam masyarakat dapat terjaga secara harmonis. Konflik-komflik sosial yang terjadi di Indonesia selama ini sering berawal dari kurangnya pemahaman sosial, rendahnya toleransi, serta sikap fanatisme kelompok. Banyak masyarakat masih menutup diri terhadap perbedaan, bahkan menganggap kelompok lain sebagai ancaman terhadap identitas mereka. Pada titik inilah sosiologi memberi peran penting—yakni sebagai ilmu yang membantu masyarakat memahami bahwa perbedaan merupakan fenomena alami dalam kehidupan sosial. Sosiologi juga memberikan pendekatan analitis untuk memahami bagaimana konflik terjadi dan bagaimana solusi kolektif dapat dibangun melalui komunikasi antar kelompok (Soehadja, 2021). Penerapan moderasi beragama tidak dapat dipisahkan dari implementasi nilai-nilai sosial seperti toleransi, empati, dan penghormatan terhadap hak-hak orang lain. Toleransi, sebagai salah satu pilar dari moderasi beragama, merupakan kesediaan untuk menerima perbedaan tanpa menghilangkan identitas diri. Bentuk toleransi ini tercermin dalam kehidupan masyarakat Indonesia yang sejak lama telah akrab dengan pepatah “Bhinneka Tunggal Ika”—berbeda-beda tetapi tetap satu. Seperti disebutkan dalam berbagai kajian, sikap toleransi tidak hanya berlaku antar agama, tetapi juga antar suku, ras, budaya, dan golongan (Manap, 2022). Dalam praktiknya, toleransi dapat diekspresikan melalui berbagai tindakan sederhana namun bermakna, seperti tidak merendahkan kelompok lain, menghormati ibadah dan tempat suci agama lain, serta menjaga ucapan dalam ruang publik agar tidak menyinggung pihak lain. Selain itu, sikap moderat juga tercermin dalam kemampuan untuk melihat persamaan antar agama, membangun dialog lintas iman, serta menolak segala bentuk kekerasan atas nama agama. Hal ini selaras dengan gagasan bahwa agama sejatinya mengajarkan kemanusiaan dan perdamaian. Sosiologi juga melihat bahwa agama memiliki dua peran utama dalam struktur sosial: sebagai pedoman tindakan sosial dan sebagai pembentuk stratifikasi sosial. Agama mengajarkan nilai-nilai yang membentuk perilaku individu, seperti kejujuran, tanggung jawab, dan kepedulian terhadap sesama. Selain itu, struktur keagamaan seperti pendeta, ulama, biksu, atau pemuka adat memberikan legitimasi sosial tertentu yang berpengaruh pada pola interaksi masyarakat. Ketika peran-peran tersebut dijalankan secara moderat, maka kontribusinya terhadap persatuan bangsa semakin besar. Namun, moderasi beragama tidak akan berjalan tanpa adanya kesadaran kolektif. Masyarakat harus memahami bahwa identitas kelompok tidak boleh menjadi alasan untuk merendahkan identitas lainnya. Perbedaan tidak seharusnya dilihat sebagai ancaman, melainkan sebagai kekayaan sosial budaya yang harus dijaga bersama. Penelitian Pangastuti (2023) juga menegaskan bahwa pendekatan sosiologi dan antropologi dapat menjadi solusi alternatif dalam membangun moderasi beragama karena kedua ilmu tersebut mengkaji perilaku manusia dalam konteks kebudayaan yang luas. Pada akhirnya, moderasi beragama adalah fondasi untuk menjaga keutuhan bangsa Indonesia. Dengan begitu banyak perbedaan, Indonesia membutuhkan pilar yang mampu menyatukan masyarakat secara adil dan bijaksana. Moderasi bukan hanya konsep akademik, tetapi sebuah praktik sosial yang harus diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari: dalam keluarga, sekolah, lingkungan kerja, hingga ruang-ruang publik dan media sosial. Ketika moderasi beragama dihayati dan diamalkan, maka potensi konflik dapat diminimalkan dan kehidupan sosial dapat berjalan secara damai dan harmonis. Kesimpulan Moderasi beragama merupakan elemen penting dalam menjaga keberagaman Indonesia. Dalam perspektif sosiologi, agama bukan hanya persoalan spiritual, melainkan institusi sosial yang mempengaruhi interaksi antar kelompok. Dengan menerapkan nilai toleransi, penghormatan terhadap perbedaan, serta menjauhi ekstremisme, masyarakat Indonesia dapat membangun kehidupan multikultural yang damai dan stabil. Moderasi beragama menjadi fondasi bagi terwujudnya persatuan dalam keberagaman, sesuai dengan semangat Bhinneka Tunggal Ika. Oleh karena itu, penanaman nilai moderasi dalam kehidupan sehari-hari sangat diperlukan untuk memperkuat harmoni sosial dan menjaga persatuan bangsa. Karya: Wiji Indah Prasetya Daftar Pustaka Hamali, Syaiful. (2017). Agama dalam Perspektif Sosiologi. 12(3), 225.Manap, Abdul. (2022). Moderasi Beragama: Keberagaman Indonesia dalam Bingkai NKRI. 13(3).Pangastuti, Rahma dkk. (2023). Pendekatan Sosiologi dan Antropologi sebagai Solusi Alternatif Moderasi Beragama di Indonesia. 3(2), 105–106.Qodim, Husnul. (2023). Buku Ajar Pemahaman dan Implementasi Moderasi Beragama. Gunung Djati Publishing.Soehadja, Muhammad. (2021). Sosiologi dan Perubahan Sosial. 15(1), 2–3.Sumirat, Ratna Iin. (2022). Moderasi Beragama dalam Perspektif Sosial Max Weber. 3(1), 31–32.

Read More »
Artikel Ilmiah Populer
Jurnal Phona

Konteks Sosial dan Kultural dalam Penggunaan Jilbab Phasmina Sakaratul Maut

Pada awalnya, busana digunakan untuk melindungi tubuh dari panas matahari dan cuaca dingin. Seiring perkembangan zaman, fungsi busana menjadi lebih luas, yaitu sebagai simbol etika dan estetika dalam masyarakat. Dalam konteks tersebut, jilbab hadir sebagai identitas keberagamaan seorang perempuan Muslim. Jilbab kerap dijadikan tolak ukur tingkat religiusitas seorang wanita, meskipun kini fungsinya terus berkembang mengikuti perubahan zaman. Adapun fungsi jilbab pada masa kini antara lain: Jilbab berfungsi sebagai tren fashion. Jilbab menjadi bagian dari praktik konsumtif, terlihat dari beragam model yang ditawarkan melalui peragaan busana muslim hingga butik khusus jilbab. Jilbab menjadi bagian dari gaya hidup yang dapat merepresentasikan kelas sosial tertentu. Sebagai seorang Muslimah, cara berpakaian merupakan aspek penting yang harus diperhatikan sesuai ajaran agama. Salah satu hal yang menjadi sorotan adalah cara mengenakan jilbab. Fenomena yang tampak saat ini menunjukkan bahwa banyak perempuan Muslim mengenakan jilbab bukan hanya sebagai penutup aurat, melainkan sebagai bagian dari gaya penampilan. Jilbab yang dahulu berfungsi utama untuk menutupi aurat, kini sering digunakan sebagai penunjang gaya agar tampil modis dan trendi, namun tetap berusaha sesuai syariat Islam. Dalam perkembangan dunia modern, jilbab menjadi identitas perempuan Muslim di berbagai negara. Model jilbab pun semakin beragam karena adanya rekayasa pasar dan tren yang berkembang. Bahkan, sebagian perempuan memilih jilbab berdasarkan model, warna, dan merek tertentu. Pada akhirnya, penggunaan jilbab di kalangan Muslimah Indonesia tidak hanya sebatas penutup aurat, tetapi juga bagian dari tren fashion. Perubahan makna ini sangat terlihat terutama pada generasi muda, termasuk mahasiswi. Banyak dari mereka mengenakan jilbab yang dipadukan dengan pakaian ketat, transparan, atau mengenakan jilbab yang ditarik ke belakang sehingga memperlihatkan lekuk tubuh. Cara pemakaian ini membuat fungsi jilbab bergeser dari menutup aurat menjadi sekadar pelengkap gaya. Dalam penelitian ini, terdapat 10 informan yang merupakan mahasiswi pengguna jilbab. Mereka meluangkan waktu untuk memberikan penjelasan mengenai alasan mengenakan jilbab. Dari hasil wawancara, mayoritas informan menyatakan bahwa jilbab merupakan kewajiban bagi perempuan Muslim untuk menutup aurat. Mereka menganggap jilbab sebagai simbol religiusitas dan merasa bangga dapat mengenakannya. Selain itu, mereka beranggapan penggunaan jilbab saat ini lebih mudah disesuaikan dengan kondisi dan tren modern. Sebagian informan menyebutkan bahwa model jilbab yang mereka gunakan termasuk kategori jilbab gaul atau jilbab gaya selebritas. Model ini biasanya ditarik ke belakang sehingga menonjolkan bentuk tubuh. Fenomena ini umum terlihat di berbagai kampus, di mana sebagian besar mahasiswi mengenakan jilbab dengan cara yang tidak menutupi dada, dipadukan dengan pakaian ketat. Beberapa informan mengikuti tren tersebut karena alasan kepraktisan dan penampilan. Tradisi berjilbab dalam budaya Muslim Indonesia sendiri merupakan bentuk akulturasi budaya Islam. Pada masa sebelumnya, perempuan hanya menggunakan kain penutup kepala sederhana yang menutupi rambut dan telinga. Salah satu model jilbab yang populer saat ini adalah jilbab pashmina Sakaratul Maut. Jilbab ini memiliki ciri khas panjang, lebar, serta terbuat dari bahan halus dan ringan. Pashmina jenis ini banyak digunakan dalam acara formal, semi-formal, hingga aktivitas sehari-hari. Penggunaan jilbab pashmina Sakaratul Maut memiliki beberapa konteks sosial dan kultural, yaitu: Identitas dan Kepercayaan KeagamaanJilbab merupakan simbol identitas bagi perempuan Muslim. Penggunaan jilbab pashmina Sakaratul Maut menunjukkan komitmen dalam menutup aurat sesuai syariat Islam. Nilai kesederhanaan, kesopanan, serta ketaatan menjadi bagian yang melekat pada pengguna jilbab ini. Kesopanan dan EstetikaSelain fungsi religius, jilbab kini menjadi elemen estetika dalam budaya Muslim Indonesia. Banyak perempuan merasa pashmina jenis ini modis, cantik, dan mampu meningkatkan kepercayaan diri. Cara pemakaiannya pun bervariasi di tiap daerah sebagai ekspresi identitas budaya. Status SosialDi beberapa lingkungan, penggunaan jilbab pashmina Sakaratul Maut dianggap menunjukkan kelas sosial tertentu karena tampilannya yang elegan dan formal. Tren FashionJilbab ini menjadi bagian dari tren fashion yang berkembang di kalangan Muslimah. Banyak yang menggunakannya untuk mengikuti gaya terkini. KepraktisanBahannya yang mudah dibentuk dan tidak mudah kusut membuat pashmina ini menjadi pilihan praktis untuk pemakaian sehari-hari. Pengaruh Media SosialMedia sosial berperan besar dalam popularitas jilbab pashmina Sakaratul Maut. Banyak selebriti dan influencer mengenakannya sehingga menginspirasi banyak Muslimah. Ragam warna, bahan, dan gaya pemakaian yang ditawarkan semakin memperkuat minat pengguna. Secara keseluruhan, penggunaan jilbab pashmina Sakaratul Maut memiliki makna sosial dan kultural yang kompleks. Makna tersebut dapat berbeda-beda tergantung latar belakang budaya, sosial, dan preferensi pribadi. Dengan demikian, jilbab pashmina Sakaratul Maut bukan sekadar aksesoris fashion, melainkan juga simbol agama, identitas diri, dan budaya. Memahami konteks ini penting dalam mengkaji praktik berjilbab dan dampaknya bagi kehidupan perempuan Muslim. Karya: Wiji Indah Prasetya Referensi Rohmaniyah, N., Sani, A., & Sholikhin, A. (2023). Jilbab: Ajaran Agama, Budaya dan Peradaban. Cakrawala: Jurnal Studi Islam, 18(1), 49-61.

Read More »
Cerpen
Jurnal Phona

Alena dan Sahabatnya

Alena berasal dari keluarga peri, bangsa mereka tinggal ditempat yang sangat indah bernama “Sellievania”. Alena tinggal bersama ayah, ibu, dan 1 kakaknya, keluarga mereka lah yang menjadi pemimpin bangsa peri di sana. Ayahnya yang bernama Felix adalah seorang raja yang bijaksana serta tegas untuk memberikan contoh yang baik bagi para peri, lalu ibunya yang bernama Laurel seorang ratu yang baik hati, sehingga para peri sangat hormat kepada kepemimpinan mereka. Alena sangat suka berpetualang, berbeda dengan kakaknya Freddy yang hanya gemar terbang mencari madu untuk pelengkap pancake kesukaannya. Sellivania wilayah peri yang tersembunyi dari jamah manusia, semua orang di sana sangat sensitif dengan bau manusia, Felix mempunyai kebijakan jika bangsa mereka bertemu manusia, maka wajib bagi mereka untuk meninggalkan Sellievania atas kesadaran diri masing-masing. Alena gemar berpetualang, dia sangat bosan dengan suasana Sellievania yang hanya berisikan hutan tropis, sungai berwarna hijau kebiruan, dan sarang lebah kesukaan Felix, dia selalu ingin tau dunia luar, akan tetapi ayahnya melarang keras bangsa mereka untuk bertemu dengan bangsa lain selain mereka. Ayahnya khawatir akan penyerangan yang membabi buta karena bentuk fisik mereka. Badan kecil, sayap lebar, dan telinga memanjang. Tetapi Alena tidak peduli dengan bentuk fisik mereka, Alena hanya perlu mencari suasana baru, dan dia mulai meminta izin ayahnya untuk pergi keluar dari wilayahnya. “Ayah, bolehkah aku pergi keluar dari Sellivania, tidak terlalu jauh, hanya sampai perbatasan dengan wilayah Oceanasia.” (Wilayah laut tempat bangsa duyung). “TIDAK! Sudah berapa kali aku peringatkan kamu Alena, jangan membantah perintah ayah!” “Janji, aku akan pulang sebelum matahari terbit, ayolah ayah mereka bukan manusia, mereka sama dengan kita, aku tidak akan berbicara dengan mereka, hanya mencari suasana baru.” “SEKALI TIDAK, TIDAK ALENA! Pergi ke kamarmu!” “Ibu, lihat ayah, aku hanya ingin jalan-jalan.” Adunya kepada sang ibu. “Dunia luar sangat berbahaya Alena, ayahmu sangat khawatir padamu, kamu anak kesayangan nya.” “Aku bosan Bu, aku sudah dewasa, mengapa ayah begitu mengekang.” “Dengarkan ayahmu, Alena.” Alena memasuki kamarnya dengan wajah marah dan murung karena ulah ayahnya, keinginan dia untuk mencari suasana baru terus membara, dan diam-diam dia menyusun rencana. Dia memikirkan bagaimana cara untuk keluar dari gerbang yang sangat dijaga ketat oleh pengawal, dia mulai mengamati dan mencari celah disaat penjaga tertidur atau sedang tidak fokus, mengecek bahan-bahan makanan yang di kirim dari pulau Orchid (pulau peri sebrang). Setelah Menyusun rencana yang matang, Alena mulai berkemas mengambil rompi  untuk menutup badannya, dan sebuah tas berisi makanan dan minuman sesuai yang dia butuhkan. Tepat Tengah malam Alena berhasil keluar dari Sellivania karena penjaga tertidur pulas. Alena sangat ingin melihat Oceanasia, menurut cerita Luna teman sekolahnya, Oceanasia sangat indah, mewah dan gemerlap cahaya. Alena sangat tertarik untuk melihatnya. Ditengah perjalanannya, Alena sangat terkagum dengan pemandangan dunia diluar Sellivania. Dari kejauhan Alena melihat berbagai bangsa manusia pedalaman yang sedang berburu macan tutul untuk dijadikan persembahan, lagi-lagi Alena tahu dari ocehan Luna. Pagi hampir tiba, Alena sudah terbang ber puluh-puluh kilo menuju Oceania, kepakan sayapnya hamper saja menyerah, tetapi kembali berkibar semangat setelah melihat pemandangan yang luar biasa di depan mata, Ya! itu dia Oceania. Tidak kusangka-sangka, aku sudah tiba di debaran ombak cantik yang mengagumkan. Kini, Alena mulai turun ke daratan berjalan meyoroti keindahan Oceania satu per satu, hingga dia tiba tepat berada di depan gerbang menuju wilayah para bangsa duyung tinggal. “Berhenti! Atau kamu akan mati anak kerdil!” Ucap pemuda itu dengan lantang. “Siapa kamu, kamu manusia, jangan mendekat!” Ucap Alena ketakutan. Alena beranjak terbang, karena dia ingat pesan ayahnya bahwa kami dilarang keras untuk bertemu manusia. “Tamat riwayatku kali ini, pasti aku akan diusir dari Sellivania,” Ucap nya dalam hati. Namun usahanya untuk beranjak terbang gagal berkali-kali, mungkinkah ini akibat dari aku terbang terlalu jauh? “Sudah aku bilang, jangan mendekat manusia!” Ucap alena dengan nada marah. “Hei, aku hanya ingin menyapa mu, aku Arthur, pangeran duyung, senang melihat mu manusia kerdil.” Ucap Arthur dengan nada tengil. “Aku peri, bukan manusia!” “Kata ayahku, peri hanya makhluk mitologi, kamu pasti menghayal, siapa namamu?” “Jangan mendekat!” “Aku alena.” Ucap alena dengan nada datar “Waw, nama yang bagus. Hai Alena!” “Kamu juga pasti menghayal, Luna bercerita bangsa duyung hanya tinggal di bawah Oceania dan bukan manusia, lalu  mengapa kau seorang manusia mengaku sebagai pangeran duyung!” Ujar alena dengan nada sewot. “Pasti buku-buku dongeng yang mereka buat itu khayalan mereka sendiri, mau aku tunjukkan yang sebenarnya?” “Bagaimana bisa?” Ujar Alena penasaran. “Kemarilah, aku akan mengaajak mu melihat Oceania lebih dalam Alena.” “Jadi kamu benar-benar duyung ya?” “Yaa.” Ujar Arthur dengan menapakkan kaki di air dan kembali menjadi duyung. “Kau sudah percaya?” “Kemari, aku akan berikan ramuan khusus untuk mengubahmu menjadi duyung sementara.” Arthur memberikan ramuan berwarna emas yang ditaburkan ke seluruh badan Alena, yang menyebabkan alena berubah menjadi seorang duyung dan setengah manusia seperti wujud Arthur. “Wah, aku sangat tidak percaya wajahku berubah secantik ini, ramuan ajaib.” “Kau cantik sekali Alena.” Ucap Arthur dengan wajah terpana. “Ulurkan tanganmu.” Ujar Arthur Alena mengulurkan tangannya, dibawalah dia ke bawah dunia Oceania yang selama ini dia idam-idamkan, pemandangan yang sangat indah. Kerajaan megah, banyak kereta kuda laut yang mengangkut Mutiara. Kata Arthur itu adalah mata pencaharian warga mereka, sangat mengagumkan. Sellivania tidak kalah indah, namun ini luar biasa indah, rasanya aku ingin menjadi bangsa mereka. Setelah puas berkeliling Oceania, aku kembali ke daratan untuk kembali pulang. Arthur berpesan, saat sudah berjalan 500 meter, aku akan menemukan buah berwarna pink yang mereka namai “Fluffy” adalah sebuah buah yang bisa mengembalikan kita ke wujud asli dengan cepat dan tidak akan membawa bekas bau dari wujud sebelumnya. Alena sampai di Sellivania, ayahnya sangat tau dia pergi ke Oceania karena ayahnya mengikutinya selama terbang, namun Felix membiarkannya untuk mengetahui pengalaman baru. Sejak saat itu Alena dan Arthur berhubungan baik, bersahabat dan saling berkunjung satu sama lain. Karya: Nabilla Citra Rahayuningtyas

Read More »