Artikel Ilmiah Populer,  Opini

Isu BBM dan Kepanikan yang Terlalu Cepat Menular

Setiap kali muncul isu kenaikan BBM, reaksi publik sering datang lebih cepat daripada kejelasan informasi. Beberapa hari ini, banyak orang ramai membicarakan kenaikan harga BBM mulai 1 April. Bahkan ada yang bilang Pertamax bisa naik sampai Rp17.850 per liter. Akibatnya, banyak orang langsung antre di SPBU dan buru-buru mengisi bensin. Padahal, sampai sekarang belum ada pengumuman resmi dari pemerintah.

Dari berita yang beredar, Pertamina mengungkapkan bahwa mereka masih menunggu keputusan resmi. Kemudian, Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi juga sudah menegaskan bahwa harga BBM, baik yang bersubsidi maupun nonsubsidi, tetap stabil. Artinya, tidak ada kenaikan per 1 April seperti yang banyak orang khawatirkan.

Menurut saya, masalahnya bukan sekadar BBM naik atau tidak naik, tetapi cara informasi yang belum pasti bisa berubah menjadi kepanikan massal. Ketika informasi simpang siur dibiarkan berputar tanpa klarifikasi yang cepat dan mudah dipahami, masyarakat akan lebih mudah percaya. Di ruang digital, asumsi itu bisa berkembang menjadi kebenaran baru hanya karena dibagikan berkali-kali.

Ada beberapa alasan mengapa muncul kepanikan masyarakat. Yang pertama, BBM memberikan efek langsung pada kehidupan sehari-hari. Orang mengaitkan dengan ongkos transportasi, harga pangan, sampai usaha-usaha kecil. Yang tentunya sangat berimbas jika terjadi kenaikan BBM. Kekhawatiran ini wajar, tetapi menjadi berbahaya ketika disulut oleh informasi yang sumbernya belum jelas.

Yang kedua, media sosial membuat penyebaran berita tanpa adanya rem. Adanya potongan dokumen yang katanya dari orang dalam, padahal belum tentu benar. Di sisi lain, pernyataan resmi biasanya datang dengan bahasa yang lebih formal dan tidak selalu tersebar secepat rumor. Akibatnya, yang menang dalam kecepatan sering kali bukan informasi yang paling akurat, melainkan informasi paling sensasional.

Oleh karena itu, bukan hanya kebijakan energi atau BBM yang matang, tetapi juga manajemen informasi yang cepat, jelas, dan konsisten. Pemerintah dan pihak terkait perlu memastikan komunikasi berjalan satu pintu, jelas, dan segera merespons isu-isu yang beredar, bukan menunggu rumor yang semakin membesar.

Di saat yang sama, masyarakat juga perlu membangun kebiasaan sederhana, yaitu menahan diri dari menyebarkan informasi yang sumbernya belum jelas, mengecek informasi resmi, dan menyadari bahwa kepanikan sering memperparah keadaan yang sebenarnya belum terjadi.

Oleh : Fadiyah Almas Syafiqoh

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.