Essay

Konvergensi Teknologi dan Tradisi dalam Pesantren sebagai Pilar Indonesia Emas

Transformasi teknologi digital dalam beberapa dekade terakhir seakan hampir mengubah seluruh aspek kehidupan manusia. Sistem pendidikan, ekonomi, hingga interaksi sosial antar sesama, semuanya sudah terkoneksi dalam suatu ekosistem digital yang berkembang begitu cepat. Di tengah arus globalisasi yang sangat cepat ini, lembaga pesantren sebagai institusi pendidikan Islam yang paling lama berdiri di Indonesia tengah menghadapi tantangan baru yakni bagaimana mempertahankan nilai-nilai tradisional sekaligus beradaptasi dengan teknologi modern.

Kehadiran revolusi industri yang saat ini bertransformasi menuju 5.0 menuntut semua lini, termasuk pendidikan Islam, untuk menyesuaikan diri. Namun, seringkali pesantren dianggap sebagai lembaga yang bersifat konservatif, sulit beradaptasi, dan tidak selaras dengan perkembangan zaman. Stereotip itu muncul karena kekuatan karakter tradisional pesantren yang selalu mengacu pada kitab kuning dan cara mengajar yang klasik. Namun, di balik kesan yang tampak tradisional itu, pesantren sebenarnya memiliki kemampuan luar biasa untuk menjadi tempat yang seimbang antara nilai-nilai moral dan kemajuan teknologi.

TRADISI SEBAGAI LANDASAN NILAI

Sejak era pra-kemerdekaan, pesantren menjadi tempat untuk menumbuhkan nilai-nilai kebangsaan dan kemanusiaan. Kiai dan santri tidak hanya menimba ilmu agama, tetapi juga menjadi tokoh sosial dan pelopor dalam perjuangan kemerdekaan. Sistem pendidikan yang berlandaskan akhlak, moral, disiplin, dan kerja sama telah membentuk generasi yang kuat secara spiritual dan sosial. Nilai-nilai seperti tawadhu’, keikhlasan, dan semangat gotong royong tetap menjadi aset sosial yang relevan hingga era trasnformasi teknologi hari ini.

Tradisi yang selalu dipertahankan didalam pesantren adalah bentuk kearifan lokal yang sangat bernilai. Dalam rangka mewujudkan Indonesia Emas 2045, tradisi ini menjadi sumber kekuatan moral yang membantu menjaga keseimbangan antara kemajuan pemikiran dan kekuatan karakter bangsa. Pesantren tidak hanya menghasilkan santri yang pandai berpikir, tetapi juga berintegritas dan memiliki jiwa nasionalis, dua hal yang sering terpengaruh oleh kemajuan teknologi yang kurang didasari nilai-nilai.

Konvergensi antara tradisi yang sudah ada dan teknologi di pesantren adalah langkah penting untuk mewujudkan Indonesia Emas 2045. Dalam situasi tantangan perubahan dan gangguan sosial yang terus berkembang, pesantren bisa menjadi penjaga nilai-nilai moral sekaligus penggerak inovasi yang membangun.

Pemerintah melalui Kementerian Agama juga telah memberikan dukungan terhadap digitalisasi pesantren, yang memiliki tujuan sebagai bekal para santri agar mampu menyesuaikan dengan transformasi teknologi sekaligus menjaga khasanah keislaman serta nilai-nilai spiritual. Program seperti ini bukan hanya mengupgrade kualitas santri di bidang keilmuan, tetapi juga menyiapkan mereka agar mampu bersaing dalam dunia kerja tanpa kehilangan jati diri keislaman.

Pesantren yang mampu menyelaraskan dengan perkembangan teknologi akan menjadi bagian penting dalam membangun bangsa. Santri yang paham akan digitalisasi juga tidak hanya hafal kitab saja, tetapi juga bisa menulis bahasa pemrograman, mengelola dan menciptakan aplikasi dakwah, mengolah data, serta membangun relasi yang luas di lingkup global. Semua itu tetap berlandaskan nilai-nilai Islam. Inilah wujud peran nyata pesantren dalam mewujudkan Indonesia yang berakhlak mulia dan berilmu pengetahuan.

MERAWAT NILAI DALAM PERUBAHAN

Namun, konvergensi antara teknologi dan tradisi jangan sampai menjadi penyebab pesantren kehilangan spiritnya. Teknologi merupakan sebatas alat, sementara nilai adalah jiwa. Modernisasi yang tidak memiliki moral akan melahirkan kesunyian, sebagaimana jika tradisi tidak dibersamai dengan inovasi maka akan menimbulkan stagnansi.

Kiai dan santri harus bersinergi untuk menjaga keseimbangan antara keduanya. Dalam pelaksanaannya perlu sebuah prinsip yang dikenal sebagai trilogi ukhuwah yakni ukhuwah Islamiyah (nilai keagamaan), ukhuwah wathaniyah (nilai kebangsaan), dan ukhuwah basyariyah (nilai persaudaraan). Ketiganya menjadi prinsip yang menjadi acuan agar kemajuan teknologi tidak menjauhkan manusia dari kemanusiaannya, dan tradisi tidak menutup diri dari perubahan zaman.

Pesantren di era saat ini tidak lagi terpisah dari dunia modern seperti dulu. Pesantren adalah tempat pembelajaran nilai yang membentuk karakter dan mengajarkan kebenaran di tengah perkembangan teknologi. Dengan tetap menjaga tradisi sekaligus menciptakan inovasi, pesantren bisa menjadi bagian penting dalam mewujudkan Indonesia Emas 2045, negara yang maju secara teknologi, tangguh dalam nilai, dan memiliki iman yang kokoh.

Oleh: Afif Kamaludin

Referensi
Widodo, A. A., & Husni, M. (2025). Strategi Digitalisasi Pendidikan Pesantren Dalam Internalisasi Nilai Aswaja Bagi Generasi Z di Era Teknologi. IHSAN: Jurnal Pendidikan Islam, 3 (1), Article 1.

Wamenag: Digitalisasi Pesantren Harus, Tapi Jangan Sampai Hilangkan Kekhasannya (2025). Majelis Masyayikh.
https://www.majelismasyayikh.id/artikel/berita/wamenag-digitalisasi-pesantren-harus-tapi-jangan-sampai-hilangkan-kekhasannya-1?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.