Cerpen

Deadline

Tek Tek Tek… Suara jarum jam yang tersusun bergerak memecah keheningan. Kipas angin yang berputar ke kanan dan ke kiri, di sudut ruangan yang hening aku terduduk dengan mata yang terus fokus pada layar laptop yang masih menyala. Ku pandangi terus layar laptop, sesekali aku mengernyitkan dahi saat membaca kata demi kata, sambil bergumam, “Kok gini sih?” Aku terus berfikir keras dengan kejaran suara jarum jam. Langit mulai menunjukkan warna jingganya, perlahan orang- orang mulai meninggalkan gedung yang saat ini kusinggahi. Namun, aku tidaklah perduli, mataku tetap fokus di depan layar laptop.

Sambil sesekali berfikir, “Susah banget sih ni tugas, mana deadlinenya besok lagi alahhh..” Otakku yang serasa ingin pecah, perut yang mulai mengeluarkan musik, semakin menambah suasana menjadi suram.

Suara derap langkah seseorang memecah keheningan lorong kelas, diiringi dengan suara peralatan yang dibawanya. Sepersekian detik kemudian, “Mbak, udah sore. Mau saya kunci kelasnya.” Suara panggilan dari Office Boy menyadarkanku dari lamunan.

Sedikit kikuk, akupun menjawab panggilan itu, “Ehhh, iya Pak. Hehe… Maaf, bentar saya beres- beres dulu.” Seketika tubuhku bergerak otomatis memasukkan semua barang bawaanku ke dalam tas ransel hitam di bawah kursi.

“Maaf ya, Pak.” Sambil berucap dengan pelan aku mulai meninggalkan ruangan itu. Runganan yang selalu membuat hatiku tak karuan. Sambil berjalan di lorong-lorong yang mulai sepi, pikiranku terus bekerja memikirkan bagaimana nasib tugasku nanti.

Ketika tiba di rumah hati dan pikiranku terus berkecamuk otakku mengatakan, “Aku lelah ingin istirahat.” Namun hatiku berkata lain, “Tapi tugasnya dikumpulin besok.” Kebingungan mulai melanda disaat pikiranku sedang berkecamuk.

Suara ibuku memasuki indra pendengaranku “Ndok, makan dulu sana.” Angin sepoi-sepoi memasuki celah-celah dibalik pintu, membawa sebuah aroma yang sangat ku inginkan.

“Ibu masak opor ayam, yeeey…” Seketika otakku melupakan semua kejadian tadi, tubuhku berlari ke arah dapur dengan kesadaran penuh aku mulai mengambil piring beserta kawan- kawanya. Perlahan tapi pasti, kumasukan sendok berisi nasi dan ayam itu ke mulutku. Tak terasa piring di depanku sudah mulai kosong. Langkah kaki membawaku ke depan benda di hadapanku. Benda dengan bentuk persegi panjang yang berisi kapuk itu menarik badanku untuk mendekat. Kini tubuhku menyatu dengan benda persegi panjang itu. Pandanganku perlahan mulai redup, hingga akhirnya semuanya gelap.

Kukuruyukkkkk……tok betokk…..

Seketika aku membuka mataku jantung yang berdegup kencang. Ku lirik jam yang ada di dinding kamarku, dengan kecepatan penuh aku menghampiri meja belajar. Ku buka laptop yang kemarin sempat aku telantarkan, dengan rasa panik yang menyelimuti buru- buru aku buka web bergambar seperti bunga. Kata demi kata aku ketik melalui laptop, tak lama kemudian muncul beribu kata dari web bergambar bunga itu dengan buru- buru kupindahkan semua kata itu ke dalam Microsoft word. Kini perasaanku mulai lega, akupun mulai bersiap untuk berperang.

Jam menunjukkan pukul delapan pagi, seseorang sedari kemarin yang aku takuti kini berdiri dihadapanku. Dengan keringat dingin yang bercucuran, aku menyerahkan beberapa lembar kertas. Diterimanya kertas itu oleh seseorang yang tak lain adalah dosenku. Lembar demi lembar Ia baca, matanya fokus melihat kata yang ada di dalamnya. Sesekali dia menyipitkan matanya, senyum seringai muncul dibalik kertas yang Ia baca.

Hati ini mulai tak enak hingga, ….”Mbak, kamu pake ChatGPT ya?” Ketakutan yang sedari tadi aku pikirkan, kini terjadi dengan sisa keberanian yang aku punya, kugerakkan lidah yang kelu ini. “Ii-ya Pak. Hehehe..”  

“Loh, gimana sih Mbak? Ini namanya kamu tidak bisa berfikir kreatif, masa cuma salin tempel dari ChatGPT sih? Boleh kok kamu liat Chat GPT, tapi jangan semuanya di copy paste ya. Cukup dijadikan sebagai bahan pelengkap saja, terus nanti bisa Anda jelaskan atau tambahi keterangan lagi ya, Mbak.”

Dengan kepala yang menghadap ke kaki, kugerakkan kepala ini ke atas dan ke bawah, “Maaf ya, Pak.”

“Kenapa kamu pakai Chat GPT? Bukanya kemarin sudah saya kasih waktu 3 hari, ya? Apa tidak cukup?”

Pertanyaan itu membuatku semakin takut, namun tetap kujawab dengan sebuah kejujuran dengan tegak aku menjawab “Kemarin bikin tugasnya mepet deadline, Pak. Terus ketiduran, jadi tidak sempat buat cari referensi.”

“Hemmm” Suara deheman dari orang di depanku membuatku sedikit ketakutan, namun kata setelahnya membuat bibirku ini terangkat keatas “Yaudah saya kasih waktu 2 hari ya…. Nanti di revisi terus cari sumbernya yang benar ya.” Seketika ingin rasanya dosen di depanku ini kuberi karangan bunga.

Dengan cepat aku menjawab, “Baik, Pak. Terima kasih dan mohon maaf.” Dosen itu perlahan menjauh dari hadapanku, hingga menghilang dibalik tangga. Dengan cepat aku memasuki gedung bertuliskan perpustakaan, kususuri setiap susunan berisi buku dengan cermat. Setelah itu, kumulai semuanya dari awal lagi. Lelah itu pasti, tapi dari sini aku tau kesalahanku dan aku tau kesempatan kedua itu ada, walau tidak semuanya dapat kesempatan kedua.

Karya: Wiji Indah Prasetya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.