Review-Film

Na Willa: Pesona Dunia Anak Surabaya Era 60-an yang Menyentuh Hati

Identitas Film

Film Na Willa merupakan sebuah sajian sinema keluarga bergenre drama dan petualangan masa kecil yang disutradarai oleh komika serta sineas Ryan Adriandhy. Diadaptasi langsung dari novel populer karya Reda Gaudiamo, film ini menghadirkan debut live-action sang sutradara yang tayang di bioskop Indonesia pada Maret 2026. Kisahnya yang hangat ini menawarkan tontonan ramah anak yang sarat akan makna mendalam mengenai pertumbuhan, keberagaman, dan perubahan zaman.

Sinopsis

Film Na Willa (2026) berhasil menyajikan tontonan yang menyentuh sekaligus emosional bagi penonton lintas generasi. Cerita film ini berfokus pada kehidupan sehari-hari Na Willa (Luisa Adreena), seorang gadis kecil berusia enam tahun yang tinggal di sebuah gang di pinggiran kota Surabaya pada era 1960-an. Melalui sudut pandangnya yang polos dan penuh rasa ingin tahu, penonton diajak melihat dinamika keluarganya yang hangat dan multikultural, di mana ibunya yang akrab dipanggil Mak Marie (Irma Rihi) berasal dari NTT, sementara ayahnya yang dipanggil Pak Paul (Junior Liem) merupakan keturunan Tionghoa. Sepanjang film, ada banyak rangkaian peristiwa emosional yang disajikan dengan sangat apik kepada penonton. Kita seolah dibawa masuk ke dalam dunia anak kecil, sebuah ruang di mana semuanya akan terlihat begitu besar di mata mereka. Konflik dan petualangan sederhana Willa mengalir saat ia berinteraksi dengan lingkungan sekitar serta merajut relasi dengan para sahabatnya, yaitu Farida, Dul, dan Bud. Salah satu momen dramatis yang memperlihatkan bagaimana Willa tumbuh dan belajar berdamai dengan perubahan hidup adalah ketika ia terlibat dalam adegan intim bersama Emak saat membahas makna mendalam di balik kata ‘bohong’ dan ‘bertanggung jawab’.

Unsur Intrinsik

Tema

Tema utama yang diangkat dalam film Na Willa adalah kemurnian dunia anak-anak, pentingnya nilai kejujuran serta tanggung jawab moral, dan penerimaan terhadap keberagaman di tengah masyarakat.

Alur

Alur cerita yang digunakan adalah alur maju yang bergerak secara tenang dan mendalam, dimulai dari pengenalan keseharian keluarga Willa, dinamika pertemanan, hingga munculnya titik balik emosional lewat konflik kejujuran dan konsekuensi atas sebuah tindakan.

Tokoh dan Penokohan

Karakter dalam film ini digambarkan dengan sangat kaya dan berlapis. Karakter utama Na Willa berwatak jujur, gigih, bertanggung jawab, dan memiliki imajinasi yang luar biasa besar. Ia didampingi oleh Mak Marie yang berkarakter tegas, memegang teguh prinsip, namun penuh kasih sayang, serta Pak Paul selaku sosok ayah penyayang yang menghadirkan kehangatan ideal dalam keluarga. Di lingkaran pertemanannya, ada Dul yang menjadi cerminan anak berkepribadian tegar, ceria, dan penuh resiliensi, bersama Farida dan Bud yang tulus serta setia kawan dalam membagikan kegembiraan masa kecil tanpa prasangka. Sementara itu, sosok Bu Tini hadir sebagai representasi tokoh guru dewasa yang berwatak kaku, penuh prasangka identitas, dan cenderung memaksakan keseragaman berpikir kepada muridnya.

Latar

Latar tempat dan waktu film ini berlokasi di pinggiran kota Surabaya era 1960-an yang memberikan nuansa nostalgia yang kental di tengah gempuran modernitas kota saat ini.

Amanat

Pesan yang ingin disampaikan adalah bahwa kejujuran dan rasa tanggung jawab terhadap anak harus ditanamkan sejak dini tanpa pengecualian demi membentuk karakter yang kuat, serta pentingnya menumbuhkan kasih sayang yang setara tanpa bias terhadap perbedaan etnis maupun agama.

Kelebihan Film

Na Willa berhasil mengekspresikan dunia anak-anak yang jujur, polos, dan penuh rasa ingin tahu. Penampilan Luisa Adreena sebagai pemeran utama sangat menonjol dengan gaya akting yang natural dan spontan. Nilai estetika film ini semakin kuat berkat kerja kamera yang konsisten mengikuti arah pandang Willa saat berinteraksi, di mana kamera sengaja dibawa ke arah eye level anak untuk memberikan pengalaman visual yang jujur. Momen-momen bahagia Willa bersama para sahabatnya ditampilkan dengan visual yang sangat ciamik. Alih-alih hanya mengandalkan ekspresi wajah, kegembiraan masa kecil itu dimanifestasikan secara surealis melalui bangku-bangku yang bergeser cepat sendiri, buku-buku melayang, hingga konfeti yang memenuhi layar. Representasi ini secara efektif menggambarkan bagaimana dunia batin seorang anak bekerja, di mana kebahagiaan sederhana bisa seketika berubah menjadi sebuah pesta visual yang luar biasa.

Sorotan emosional paling penting hadir melalui adegan saat Mak sedang mengolesi lidah buaya ke rambut Na Willa dan memberikan nasihat tentang pentingnya kejujuran bahwa jika kita berbohong, seperti ada kerikil yang masuk ke sepatu, sedangkan kalau jujur, kerikilnya keluar semua sehingga jalannya menjadi ringan. Nasihat ini diuji secara dramatis ketika Mak sempat membohongi Dul bahwa Willa tidak bisa bermain, yang justru disusul oleh tragedi kecelakaan kereta hingga kaki Dul harus diganti dengan prostesis kayu. Namun, lewat penerimaan Dul yang polos terhadap kondisi disabilitasnya yang justru bangga dan memamerkan kaki kayunya sambil berseru, “Sikkilku iso muni!”, film ini sukses mendobrak stereotip usang mengenai disabilitas sekaligus menunjukkan bahwa anak-anak lahir tanpa bias serta penghakiman.

Kekurangan Film

Beberapa bagian cerita atau perpindahan adegan terasa bergerak dengan tempo yang lambat dan terlalu penuh perenungan, sehingga berpotensi memicu rasa bosan bagi penonton yang lebih menyukai film keluarga dengan alur cepat dan penuh aksi. Selain itu, adegan mimpi surealis/aneh yang muncul setelah insiden kecelakaan Dul terasa agak intens dan sangat emosional. Visualisasi simbolis mengenai kaki Dul yang terus berlari mencerminkan rasa cemas, syok, dan ketakutan mendalam dari alam bawah sadar seorang anak berusia 6 tahun yang takut kehilangan sahabatnya. Bagian mimpi yang kelam ini mungkin membutuhkan sedikit pemahaman ekstra atau pendampingan jika ditonton oleh anak-anak yang usianya masih sangat muda.

Interpretasi dan Kritik

Secara tidak langsung, film ini memberikan kritik reflektif dan sentilan yang cukup tajam terhadap dunia orang dewasa serta institusi formal seperti sekolah. Melalui karakter guru seperti Bu Tini yang kaku, film ini menyindir bagaimana orang dewasa sering kali mencoba menyeragamkan isi kepala anak-anak dan meragukan kemampuan mereka hanya berdasarkan prasangka identitas. Film ini juga mengkritik moralitas orang dewasa yang terkadang menganggap remeh kebohongan kecil demi kebaikan, padahal kepolosan anak-anak justru memegang teguh kejujuran dan keberanian memikul tanggung jawab. Lebih dari sekadar hiburan, film ini menyoroti isu perbedaan ras dan agama di masyarakat secara ringan, membuktikan bahwa anak-anak ditampilkan sebagai sosok yang lebih toleran terhadap sesama tanpa prasangka.

Kesimpulan

Film ini tidak hanya megah, estetis, dan penuh warna secara visual, tetapi juga memiliki narasi yang kuat dalam membedah psikologi anak-anak. Isu-isu berat seperti identitas, keberagaman ras, agama, dan proses pendewasaan dikemas menggunakan metafora sederhana yang mudah dipahami dan relevan untuk semua generasi. Film ini dapat menjadi pengingat bagi orang dewasa untuk kembali menghargai kejujuran dan rasa tanggung jawab murni, hal-hal yang sering kali diabaikan oleh logika orang dewasa.

Ulasan Oleh: Sasta Rosdiana Safitri

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.