Feature

Di Balik Kesejukan Pekalongan, TPA Bojonglarang Bertahan 24 Tahun dari Overload

Di balik kesejukan alam di Kabupaten Pekalongan, Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Bojonglarang telah beroperasi hampir seperempat abad tanpa pernah benar-benar dinyatakan overload. Setiap harinya, sekitar 150 ton sampah masuk dan langsung diratakan menggunakan alat berat, membuat tumpukan tak pernah terlihat menggunung.

“Masuknya memang overload, tapi langsung diratakan,” ujar Karjono, koordinator lapangan sekaligus operator alat berat yang telah lama mengabdi di lokasi tersebut.

Dengan luas sekitar 4,5 hektare, keamanan area menjadi perhatian utama, mengingat posisi TPA Bojonglarang yang dekat dengan sungai di bagian bawah. Untuk mencegah longsor, bronjong batu dipasang sebagai penahan. Longsor memang pernah terjadi sekitar empat tahun lalu, sebelum bronjong dipasang secara permanen. Selain longsor, kebakaran akibat gas sampah juga sempat terjadi, terutama ketika gas terperangkap di lapisan sampah dan tanah yang terlalu padat.

Meski beroperasi lama, Karjono menyebut kondisi TPA Bojonglarang relatif aman dan jarang menimbulkan keluhan warga. Lokasinya yang jauh dari permukiman menjadi salah satu keunggulan. Bahkan, akses jalan dan penerangan justru diperbaiki setelah adanya TPA.

“Kalau jalan rusak, warga langsung lapor. Kita perbaiki,” ujarnya. Dukungan warga sekitar pun terus terjaga hingga kini.

Pengolahan sampah sebenarnya pernah dilakukan, mulai dari mesin cacah, kompos, hingga budidaya maggot. Namun, dalam dua tahun terakhir kegiatan itu berhenti karena kerusakan mesin dan keterbatasan anggaran. Saat ini, pengolahan lebih banyak dilakukan di tingkat TPS, sementara TPA berfungsi utama sebagai lokasi pembuangan dan perataan.

Meski sempat beredar kabar penutupan TPA pada Desember tahun lalu, kepastian relokasi belum jelas. Karjono menilai, dengan kondisi yang ada, TPA masih layak beroperasi dalam waktu lama. “Sudah 24 tahun di sini, aman-aman saja,” katanya.

Di balik bau, tanah, dan lapisan sampah yang terus bertambah, TPA Bojonglarabg menjadi saksi bisu bagaimana sebuah jurang perlahan berubah menjadi dataran menyimpan cerita panjang pengelolaan sampah yang jarang tersorot.

Reporter: Wiji Indah Prasetya

Penulis: Afif Kamaludin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.