Moderasi Beragama sebagai Pilar Persatuan dalam Kehidupan Multikultural Indonesia
Indonesia merupakan negara yang dikenal memiliki tingkat kemajemukan yang sangat tinggi. Keanekaragaman agama, budaya, bahasa, suku, dan ras merupakan realitas sosial yang membentuk karakter bangsa ini sejak lama. Namun, keberagaman tersebut tidak selalu berjalan tanpa tantangan. Di berbagai daerah, konflik bernuansa agama maupun etnis masih kerap muncul dan menimbulkan ketegangan dalam kehidupan bermasyarakat. Karena itu, diperlukan suatu pendekatan sosial dan nilai dasar yang mampu menjaga keseimbangan hubungan antar kelompok—salah satunya melalui penerapan moderasi beragama.
Secara konsep, moderasi beragama merupakan cara pandang, sikap, dan praktik beragama yang menghindari ekstremisme, baik dalam bentuk fanatisme berlebihan maupun sikap intoleran terhadap pihak lain. Moderasi tidak berarti mengurangi esensi ajaran agama, melainkan menempatkan agama pada posisi yang proporsional dan kontekstual dalam kehidupan sosial. Dalam konteks Indonesia, moderasi beragama menjadi kunci untuk menciptakan harmoni di tengah keberagaman dan untuk menjaga stabilitas sosial yang selama ini menjadi kekuatan bangsa.
Dari perspektif sosiologi, agama dipandang sebagai institusi sosial yang memiliki peran penting dalam membentuk struktur sosial dan pola perilaku masyarakat. Agama bukan hanya sistem keyakinan personal, tetapi juga pedoman sosial yang mempengaruhi hubungan antar manusia. Hal ini sejalan dengan pemikiran Max Weber yang menekankan bahwa tindakan manusia seringkali dibentuk oleh nilai, kepercayaan, dan makna sosial yang melekat dalam masyarakat. Dengan demikian, memahami agama dari sudut pandang sosiologi memungkinkan kita melihat bagaimana ajaran keagamaan mempengaruhi tindakan sosial, interaksi antar kelompok, serta proses terbentuknya harmoni dalam masyarakat multikultural (Sumirat, 2022).
Moderasi beragama memiliki relevansi besar dalam konteks Indonesia. Sebagai negara dengan enam agama resmi, interaksi antar pemeluk agama tidak dapat dihindarkan. Tanpa adanya sikap saling menghormati, perbedaan keyakinan dapat memicu konflik horizontal. Oleh karena itu, moderasi beragama berfungsi sebagai jalan tengah dalam memahami dan menyikapi perbedaan tersebut. Sebagaimana dijelaskan Hamali (2017), agama memberikan nilai moral yang dapat memperkuat solidaritas sosial, dan ketika nilai tersebut diterapkan secara moderat, hubungan sosial dalam masyarakat dapat terjaga secara harmonis.
Konflik-komflik sosial yang terjadi di Indonesia selama ini sering berawal dari kurangnya pemahaman sosial, rendahnya toleransi, serta sikap fanatisme kelompok. Banyak masyarakat masih menutup diri terhadap perbedaan, bahkan menganggap kelompok lain sebagai ancaman terhadap identitas mereka. Pada titik inilah sosiologi memberi peran penting—yakni sebagai ilmu yang membantu masyarakat memahami bahwa perbedaan merupakan fenomena alami dalam kehidupan sosial. Sosiologi juga memberikan pendekatan analitis untuk memahami bagaimana konflik terjadi dan bagaimana solusi kolektif dapat dibangun melalui komunikasi antar kelompok (Soehadja, 2021).
Penerapan moderasi beragama tidak dapat dipisahkan dari implementasi nilai-nilai sosial seperti toleransi, empati, dan penghormatan terhadap hak-hak orang lain. Toleransi, sebagai salah satu pilar dari moderasi beragama, merupakan kesediaan untuk menerima perbedaan tanpa menghilangkan identitas diri. Bentuk toleransi ini tercermin dalam kehidupan masyarakat Indonesia yang sejak lama telah akrab dengan pepatah “Bhinneka Tunggal Ika”—berbeda-beda tetapi tetap satu. Seperti disebutkan dalam berbagai kajian, sikap toleransi tidak hanya berlaku antar agama, tetapi juga antar suku, ras, budaya, dan golongan (Manap, 2022).
Dalam praktiknya, toleransi dapat diekspresikan melalui berbagai tindakan sederhana namun bermakna, seperti tidak merendahkan kelompok lain, menghormati ibadah dan tempat suci agama lain, serta menjaga ucapan dalam ruang publik agar tidak menyinggung pihak lain. Selain itu, sikap moderat juga tercermin dalam kemampuan untuk melihat persamaan antar agama, membangun dialog lintas iman, serta menolak segala bentuk kekerasan atas nama agama. Hal ini selaras dengan gagasan bahwa agama sejatinya mengajarkan kemanusiaan dan perdamaian.
Sosiologi juga melihat bahwa agama memiliki dua peran utama dalam struktur sosial: sebagai pedoman tindakan sosial dan sebagai pembentuk stratifikasi sosial. Agama mengajarkan nilai-nilai yang membentuk perilaku individu, seperti kejujuran, tanggung jawab, dan kepedulian terhadap sesama. Selain itu, struktur keagamaan seperti pendeta, ulama, biksu, atau pemuka adat memberikan legitimasi sosial tertentu yang berpengaruh pada pola interaksi masyarakat. Ketika peran-peran tersebut dijalankan secara moderat, maka kontribusinya terhadap persatuan bangsa semakin besar.
Namun, moderasi beragama tidak akan berjalan tanpa adanya kesadaran kolektif. Masyarakat harus memahami bahwa identitas kelompok tidak boleh menjadi alasan untuk merendahkan identitas lainnya. Perbedaan tidak seharusnya dilihat sebagai ancaman, melainkan sebagai kekayaan sosial budaya yang harus dijaga bersama. Penelitian Pangastuti (2023) juga menegaskan bahwa pendekatan sosiologi dan antropologi dapat menjadi solusi alternatif dalam membangun moderasi beragama karena kedua ilmu tersebut mengkaji perilaku manusia dalam konteks kebudayaan yang luas.
Pada akhirnya, moderasi beragama adalah fondasi untuk menjaga keutuhan bangsa Indonesia. Dengan begitu banyak perbedaan, Indonesia membutuhkan pilar yang mampu menyatukan masyarakat secara adil dan bijaksana. Moderasi bukan hanya konsep akademik, tetapi sebuah praktik sosial yang harus diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari: dalam keluarga, sekolah, lingkungan kerja, hingga ruang-ruang publik dan media sosial. Ketika moderasi beragama dihayati dan diamalkan, maka potensi konflik dapat diminimalkan dan kehidupan sosial dapat berjalan secara damai dan harmonis.
Kesimpulan
Moderasi beragama merupakan elemen penting dalam menjaga keberagaman Indonesia. Dalam perspektif sosiologi, agama bukan hanya persoalan spiritual, melainkan institusi sosial yang mempengaruhi interaksi antar kelompok. Dengan menerapkan nilai toleransi, penghormatan terhadap perbedaan, serta menjauhi ekstremisme, masyarakat Indonesia dapat membangun kehidupan multikultural yang damai dan stabil. Moderasi beragama menjadi fondasi bagi terwujudnya persatuan dalam keberagaman, sesuai dengan semangat Bhinneka Tunggal Ika. Oleh karena itu, penanaman nilai moderasi dalam kehidupan sehari-hari sangat diperlukan untuk memperkuat harmoni sosial dan menjaga persatuan bangsa.
Karya: Wiji Indah Prasetya
Daftar Pustaka
Hamali, Syaiful. (2017). Agama dalam Perspektif Sosiologi. 12(3), 225.
Manap, Abdul. (2022). Moderasi Beragama: Keberagaman Indonesia dalam Bingkai NKRI. 13(3).
Pangastuti, Rahma dkk. (2023). Pendekatan Sosiologi dan Antropologi sebagai Solusi Alternatif Moderasi Beragama di Indonesia. 3(2), 105–106.
Qodim, Husnul. (2023). Buku Ajar Pemahaman dan Implementasi Moderasi Beragama. Gunung Djati Publishing.
Soehadja, Muhammad. (2021). Sosiologi dan Perubahan Sosial. 15(1), 2–3.
Sumirat, Ratna Iin. (2022). Moderasi Beragama dalam Perspektif Sosial Max Weber. 3(1), 31–32.


